Sabtu, 04 Mei 2013

Sebuah Kisah di KUMNOL Part I

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu`alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

       Hajimemashite watashi no namae wa Amelia Az-Zahra desu. Douzo Yoroshiku Onegaishimasu. Perkenalkan nama saya Amelia Az-Zahra dan Insya Allah akan selalu hadir di hari senin untuk memperkenalkan Bahasa Jepang pada adik-adik di Kumnol. Awal saya kenal Kumnol berawal pada saat pagi hari di hari Sabtu tanggal 20 April.
       Saat itu adalah acara IMMawati Expansion yakni acara bidang IMMawati PK IMM UHAMKA FKIP JAKSEL. Acaranya belajar masak, belajar ketrampilan dan mendengarkan materi, serta malam keakraban. Pada acara IMMawati Expansion ke-I ini kami mengundang pembicara yakni Kakanda IMMawati Rizqa Zidnia dan Kakanda IMMawati Nurkhairil Asmatus Dayu.

        Setelah hari Jum`at kami ditemani oleh ka Rizqa, maka di hari Sabtunya kami akan ditemani oleh ka Ima. Udah kaya rolling untuk jagain dan mengasuh kami ya. Acara ini diadakan di rumah ka Ulfah. Karena jam 10 ka Ulfah ada kuliah, jadi sebelumnya kami hampir galau, apakah sebaiknya materi yang akan dibawakan oleh ka Ima sebaiknya di adakan di taman ayodya saja, tapi berhubung Reni dan Nurul sedang masak nasi goreng dan tidak mungkin kami pergi ke taman ayodya, maka ka Ima pun akhirnya ke rumah ka Ulfah.

      Dan ka Ima akhirnya naik bajai, dan secara tidak sadar mengajarkan bahwa walaupun baru kali ini ke rumah ka Ulfah tapi kaka tidak akan pernah takut nyasar dan tidak akan pernah takut tidak bisa kembali pulang dan tidak akan takut jika tidak pernah bertemu orang tua lagi.

      Tapi saat itu pikiran saya pun terbagi untuk memikirkan acara ini. Acara latihan ketrampilan membuat gantungan kuncinya sudah pasti tidak jadi karena ka Ulfah akan ke kampus jam 10 bersama ka Uyun, acara belajar masaknya pun karena dapurnya kecil akhirnya yang masak hanya beberapa orang tidak bisa semuanya. Dan karena peralatan untuk masak terbatas maka kami tidak bisa belajar membuat kue bolu. Materi yang harus dibawakan ka Rizqa pada pukul delapan malam pun tidak dibawakan karena berbeda dari agenda acara yang kami buat, karena tadi sore ada acara temu alumni dan membahas masa depan PK IMM JAKSEL yang akan pindah ke Jaktim maka acara IMMawati Expansion menjadi mundur, semuanya tampak tak sempurna di pikiranku, Kami telah membuat surat peminjaman bis kampus pada pukul 4 sore tapi karena acara temu alumni dan tidak mungkin kami pergi begitu saja meninggalkan para alumni maka saya memilih lebih baik naik angkutan umum saja misalnya bajai terlebih jumlah kami hanya dikit dikarenakan ka Ulfah berkata "Rumah gua bukan istana jadi jangan banyak-banyak. Belum lagi ternyata orang tua kaka datang ke sini, biasanya mereka ada di luar kota dan tinggal di luar kota, dan rumah pasti akan sempit sekali."

      Dan sembari menghela nafas dan mengusap keringat saya pun membalas "Ia, tenang ka, pasti yang datang sedikit kok." Hem baru kali ini ada orang yang menginginkan untuk membuat sebuah acara yang didatangi oleh beberapa orang dan dalam kurun waktu dua hari satu malam. Lalu ka Ulfah pun sms lagi. "De, apa acaranya dimundur saja jadi hari sabtu dan minggu." Dan saya pun hanya tersenyum lalu berkata dalam hati lebih baik tidak usah diadakan daripada akhirnya diundur. Lalu saya membalas sms ka Ulfah "Tidak bisa diundur ka. Hari minggu ada acara Bina Sosial, saya sudah janji sama kabidnya untuk datang ngajarin adik-adik pesanggrahan dan pertukangan untuk membuat gantungan kunci. Kalau acara IMMawati Expansionnya selesai hari sabtu kan saya bisa beli barang-barang untuk acara hari minggu pada sabtu malam. Kalau acara IMMawati Expansionnya selesai hari minggu kan saya tidak bisa mempersiapkan barang-barang yang harus dibeli untuk acara bina sosial nanti. Lagi pula bis kampusnya udah janji mau nganterin kita jam 4."

       Walau ternyata pada kenyataannya kami akhirnya naik bajai, dan sebagian naik motor. Setelah acara IMMawati Expansion berakhir dan saya menyadari perlengkapan untuk membuat prakarya tidak tersentuh sama sekali maka saya pun hanya bisa mengangguk dan berkata dalam hati "Setidaknya saya tidak perlu membeli peralatan ktrampilan lagi untuk acara hari minggu, dan setelah pulang dari acara IMMawati Expansion pun saya bisa beristirahat."

      Ngomong-ngomong sepertinya cerita saya alurnya maju mundur deh. Sekarang alurnya kembali pada hari sabtu pagi saat saya dan ka Ulfah pergi mencari ka Ima, yang ternyata keterusan dan turun dari bajai di gang sebelah. Setelah bertemu saya pun menyapa ka Ima, dan merasa bersalah karena sepertinya sudah merepotkan dirinya walau hari masih pagi. Dan berawal dari pertanyaan ka Ima ke ka Ulfah bahwa apakah ini Cipete. Maka saya pun penasaran jika ini cipete lalu emangnya kenapa. Ternyata tempat ini mengingatkan ka Ima pada misi yang tertunda, Perkataanya pun melahirkan rasa penasaran saya lagi, maka untuk menumpas rasa penasaran saya, saya pun bertanya. Dan misi yang tertunda ini adalah menumpas kristenisasi di sini. Dan misi ini ia dapatkan saat ka Ima seumuran saya yakni semester 4. Dan misi ini tidak terlaksana karena ia ditinggal oleh rekannya. Dan entah mengapa aku pun berkata aku ingin membantunya walau aku tahu aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk menumpas kristenisasi.

     Tapi aku tidak begitu khawatir karena aku bilang aku mau menemani, jadi walaupun entah apakah aku bisa membantu menumpasnya atau tidak setidaknya aku bisa menemani, dan yang menumpas mungkin sebaiknya ka Ima saja yang lebih ahli. Ka Ima pun mempertimbangkan usul saya dengan merundingkan usul ini pada temannya nanti.

      Dan saya pun menunggu, saya kira teh minggu depan tapi karena ada ujian AIKA jadi hari kamis minggu depannya lagi. Saat hari sabtu ka Ima bertanya lewat sms apakah saya ada di kampus karena ternyata ka Ima ingin memperkenalkan saya dengan teman ka Ima. Saya pun menjawab saya ada di rumah walau tidak mengatakan saya sedang membuat sebuah tulisan dan membuat facebook untuk bidang IMMawati dan blogger bidang IMMawati, karena saya sudah janji pada ka Rizqa untuk menulis hasil kajian seminggu yang lalu saat ka Rizqa jadi pembicara. Maka saya pun berpikir dan merasakan bahwa mungkin sebaiknya saya tuliskan juga semua materi kajian selama ini dari awal kajian sampai kajian minggu ini.

    Soalnya waktu minggu lalu ka Rizqa bertanya pada teman-teman saya tentang materi kajian IMMawati selama ini tentang apa saja dan telah berlangsung berapa kali pertemuan. Dan Alhamdulillah mereka menjawab dengan lancar walau pada akhirnya mereka lupa juga. Dan akhirnya ka Rizqa berkata "Ini saya baru nanya temanya loh, belum nanya isinya." Dari perkataan ini yang menunjukan seakan-akan kami lupa telah kajian tentang apa aja, jadi saya berfikir lebih baik saya menuliskannya saja, biar semuanya jelas.

     Tapi saya tidak ingin menulis di facebook saya karena nanti orang yang tidak mengenal saya dan kebetulan membaca tulisan saya, pasti mereka akan bingung kenapa saya menulis tentang kajian IMMawati dan pasti mereka akan bertanya tentang saya. Jadi sebaiknya saya bikin facebook baru dan blogger tersendiri, mungkin agak tidak enak dengan bidang keilmuan pasti kabid keilmuan akan berkata kalau ingin nulis kan bisa di blogger PK IMM FKIP JAKSEL, Kebetulan tulisan di blog ini masih sedikit.

     Tapi, mengingat tentang kajian IMMawati minggu kemarin membahas tentang peran IMMawati yang bukan saja berperan dalam organisasi tapi juga di bidang dakwah, IMMawati juga harus turut berperan  mencerdaskan dan membina moral bangsa, sesuai sebuah motto yakni "Anggun dalam moral, Unggul dalam Intelektual." Karena tidak mungkin Bidang IMMawati berepot-repot ria mencari sebuah tempat, anak-anak untuk diasuh, Maka akan lebih baik jika menggunakan fasilitas yang sudah ada. Yakni membantu Bidang Sosial Ekonomi untuk ikut berperan serta dalam membangun moral bangsa. Dan peran IMMawati yang ketiga adalah meningkatkan kualitas diri, karena di bidang sosial kita harus memberikan ilmu dari sedikit ilmu yang kita miliki maka di peran ketiga ini kita harus meningkatkan kualitas kita agar bisa terus berkontribusi dalam membangun moral bangsa.

    Peran ketiga ini yakni peningkatan ktrampilan/kerajinan tangan, ketrampilan dalam bidang intelektual dan agama, serta melatih pribadi yang cakap dan dewasa serta aktif dalam membangun sebuah peradaban di awal abad ke 21 ini. Seperti yang sudah kita ketahui setiap peradaban makanya kita bisa mengetahui peradaban mereka hal ini dikarenakan mereka menulis, seperti kerajaan di Indonesia yang menulis di prasasti atau tugu, seperti Cina yang menuliskan peradabannya di buku-buku mereka, seperti mesir yang berusaha memberi tahu peradaban mereka melalui tulisan kuno di piramida maka kita manusia di awal abad ke 21 tidak akan menuliskan kisah kita di batu, atau kertas melainkan pada teknologi kita, yakni blogger atau facebook atau yang lainnya. Dan karena bidang IMMawati membutuhkannya untuk peradaban yang akan di buat maka kami membuat blogger tersendiri tapi kami akan tetap menyumbangkan tulisan kami pada blogger PK IMM FKIP JAKSEL.

    Kembali ke kisah kita, Jadi, saat hari Sabtu itu pun akhirnya saya sms ka Ima, untuk konfirmasi apakah saya harus ke pasar rebo untuk bertemu teman ka Ima dan ka Ima. Tapi kata ka Ima tidak usah dan bertanya hari senin siang apakah saya memiliki waktu. Dan karena saya hanyalah seekor kupu-kupu kuning, maka saya memiliki waktu luang karena biasanya saya kuliah pulang-kuliah pulang dan hari Jum`at tidak pergi ke pasar rebo melainkan limau.

     Jadi, saat itu saya pun berasumsi maka perjanjian di ubah hari senin. Dan saat hari minggu ka Ima berkata apakah hari rabu senggang. Sayangnya hari rabu hanya senggang dari jam 1 sampai jam 3. Dan jam 3 nya pelajaran Muammalah. Dan ka Ima berkata "Sekarang tidak diundur lagi kok dik, tapi dimajuin hari selasa." Dan saya pun meringgis "Bukankah kemarin perjanjiaannya hari senin? Oh ya sudahlah apapun itu yang penting aku ada waktu walau sebenarnya aku harus belajar untuk ujian kemampuan bahasa Jepang level 4 yang akan dilaksanakan bulan July, tapi mungkin sebaiknya belajarnya setelah US saja, karena ternyata belajar SKS itu enak juga, karena saya pernah belajar dan ngapalin pelajaran dua minggu sebelum ujian ternyata saya malah lupa, tapi saat belajar dengan sistem kebut semalam maka ingetannya masih melekat.

    Dan saya pun beruntung ka Ima ngasih tahu bahwa acaranya jadinya hari selasa, jadi hari senin saya tidak perlu menunggu, terlebih saat hari sabtu ka Ima bilang hari senin jam 3. Maka menunggu 3 jam pasti membosankan juga walau pasti saya akan ke perpustakaan untuk buka internet atau nyari novel tapi kartu perpustakaanku entah ada di mana, jadi jika tidak bisa buka internet maka saya akan belajar saja.

    Akhirnya hari Selasa tiba, tapi bodohnya aku sampai lupa bawa hp. Dan saat di kelas pun aku bingung "Bagaimana cara bertemu ka Ima? Tapi semoga saja bisa bertemu di mesjid karena biasanya kami pernah bertemu di mesjid." Kuliah pun selesai jam 1, dan anak Fisika pun tidak sabar untuk memasuki ruangan kami. Jadi kami keluar, temanku Putri pun mengajakku makan, aku sempat ragu dan ingin menolak tapi aku bukanlah orang yang bisa menolak jadi aku mengangguk dan karena aku ingat janjiannya jam dua jadi masih ada waktu satu jam.

     Kami pun makan di warteg, dan aku pun agak sedikit kesal karena akhirnya si Putri tidak makan tapi hanya membeli pop ice. Dan karena kesal aku pun berkata "Padahal kayanya kamu yang ngajak makan ya, tapi akhirnya yang makan cuma aku." Saya pun memaksakan makan padahal sebenarnya tidak lapar, tapi mengingat akan menjalani hari yang panjang dengan ka Ima saya pun memaksakan untuk menelan makan itu. Dan si Putri pun berkata "Ia, tadinya mau makan tapi ka Farah nelpon untuk ngajak rapat Harmat. Mana aku mau ngajar lagi jam 3. Kamu ikut rapat juga kek Zahra."

     Dan aku pun tersenyum miris, ternyata dia ngajakin makan untuk ngerayu saya untuk ikut rapat, tapi buat apa saya ikut rapat toh saya hanya akan menjadi pendengar setia. Sebenarnya menjadi pendengar setia itu amat sangat tidak enak, dan menjadi orang pendiam pun lebih tidak enak, bahkan saking pendiamnya terkadang sulit sekali untuk menolak ajakan orang lain dan hal ini berlaku dari dulu. Saya ingat  sekali saya adalah anak yang selalu berada di rumah dan saat SMP teman saya mengajak saya main ke luar, sebenarnya saya amat sangat malas, tapi karena saya tidak pernah bisa menolak karena takut menyakiti mereka maka saya akan menerima tapi yang sakit justru hati saya karena merasa waktu saya terbuang sia-sia dan jadi tidak produktif. Tapi dulu emang saya ngapain aja ya, masa menghabiskan waktu di rumah pun dianggap produktif, oh ya saya ingat saat itu pasti saya sedang membaca novel lima sekawan.

     Saya melihat jam sudah setengah dua, lalu saya pun berkata "Aku ada janji sama temen, aku sudah selesai makan aku pergi dulu ya." Aku berdiri dan melihat Putri, lalu Putri menatapku "Tunggu sebentar, tunggu es ku habis dulu." Aku pun duduk kembali, dan menunggu ia minum es sembari menatap kesibukannya dengan hpnya. Hem hidup itu adalah penantian ya, ya tapi  ini hanya lima menit, tapi melihat kecepatan saat ia menyedot es nya yang bahkan belum habis setengah apakah akan berlangsung selama lima menit, aku pun menunggu dengan sabar tinggal seperempat lagi dan ia masih sibuk dengan hpnya.

     Dan akhirnya saya pun berusaha mengeluarkan suara saya yang cadel "Menurutmu apakah esnya akan habis dalam satu sedotan?" Ia tersenyum "Ia bisa, tenang." Ia masih sibuk dengan hpnya. Aku pun berdiri, ia menatap saya tersenyum "Chotto matte kudasai." (Tunggu sebentar lagi.) Lalu saya pun menjawab "Ya udah ayo diminum, tinggal satu sedot lagi kan?" Ia pun menyedot esnya dan ternyata tidak habis dalam satu sedotan. Aku pun menatap es itu, butuh berapa sedotan lagi agar es itu habis? apakah tiga? wah  lama sekali. Persahabatan itu memang seperti ini ya. Kita harus menemani agar memiliki teman. Ya, mungkin karena sendirian itu tidak menyenangkan.

     Tapi untungnya Putri tidak menghabiskan esnya, karena pasti membutuhkan waktu yang amat sangat lama untuk menghabiskannya bahkan saking lamanya aku mungkin bisa pingsan dulu sebentar. Lalu ia pun membayar, dan kami pergi menuju kampus, kami pun berpisah di mesjid. Setelah sholat aku menatap jam tanganku, tampaknya jamnya tidak bergerak, aku pun bertanya pada orang yang lewat dan ia menjawab sekarang jam dua kurang lima. Aku pun memperbaiki jamku agar bergerak. Lalu aku melihat ke sekitar mesjid, tidak ada ka Ima.

      Kampus seluas ini, harus mencari di mana ya, hem gedung lama, asrama, gedung B, Kantin, Parkiran, gedung E pasti tidak mungkin di situ. Kaki saya melangkah ke gerbang. "Apa sebaiknya menunggu di gerbang, karena pasti ka Ima akan keluar lewat sini. Tapi di sini panas sekali, rasanya malah seperti sedang berjemur jika berdiri di sini. Satu-satunya tempat yang mungkin ada Ka Ima adalah di teras gedung baru, karena biasanya tempat menunggu orang itu kalau tidak mesjid, gerbang  pasti yang terakhir gedung baru."

    Aku pun terus berdo`a agar bisa ketemu ka Ima, dan aku juga berfikir jika tidak ada di situ berarti apa aku harus menunggu sampai sore? Tapi akhirnya aku melihat ka Maya. Aku pun tersenyum ada Ka Maya berarti ada ka Ima, ka Mela dan ka Evi. Andai tidak ada ka Ima pun aku bisa bertanya pada ka Maya tentang keberadaan ka Ima. Dan ternyata aku benar, semua yang kusebut tadi ada di situ semua.

  Dan kami pun pergi ke kumnol, aku pun menerka-nerka di manakah kumnol dan seperti apakah kumnol, Saya kira di kumnol saya yang akan menjadi muridnya seperti dulu-dulu dari saya TK dan ada perlombaan menari, saya dan teman-teman saya yang diajarkan cara menari kupu-kupu, saat SD saya dan teman-teman saya diajarkan paskibra, pramuka, dan paduan suara, saat SMP saya diajarkan di PMR, Paduan suara dan KIR, saat SMA diajarkan di Rohis dan klub bahasa Jepang. Walau pada kelas 3 akhirnya aku yang mengasuh adik-adik di rohis. Tapi masa hidup kelas 3 mah hanya sebentar soalnya ada UN, dan kami harus bersiap-siap walau sepertinya saat itu aku malah menyiapkan mental dan fisik daripada otak.

    Dan di semester dua pasti saya juga akan diajarkan di HIMA PBS dan IMM tapi sayang saat semester dua entah mengapa saya tidak aktif di keduanya, dan mulai aktif kembali di semester 3. Dan setelah diberi tahu ka Ima aku pun tahu Kumnol itu adanya di jalan bangka Mampang. Dan baru berdiri satu bulan, aku kira sudah berdiri dari tahun 1999, ternyata bukan. Dan ternyata di kumnol kami yang harus mengasuh adik-adik, bukan aku lagi yang menjadi pelajarnya. Umurku 19 tahun sekarang dan akhirnya aku pun diizinkan kembali untuk mengasuh adik-adik kecil. Setidaknya jadi bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang kakak, dan bagaimana rasanya memiliki banyak adik.

  Saya pun menaiki tangga sembari menatap seorang ibu-ibu yang sedang memompa air dan menatap kami berdua juga. Karena ia menatapku lekat-lekat aku pun berusaha memberikan ia sebuah senyuman. Dan aku pun kembali menaiki tangga tanpa melihat apakah ibu-ibu itu mengembalikan senyumanku atau tidak. Tapi biasanya seperti cermin, ketika kita tersenyum pada orang lain maka seharusnya orang itu akan tersenyum pada kita juga karena fidup ini seperti sebuah pantulan cermin. Tapi saat itu aku takut ia tidak mengembalikan senyuman saya jadi saya pun mengikuti ka Ima menaiki tangga, dan melihat sebuah ruangan panjang nan rapih serta bersih.

   Akhirnya saya di sini, berada di tempat baru bersama 6 orang anak. Ka Ima pun meninggalkan aku bersama keenam anak itu karena ka Ima harus mencari Ka Mela, Ke Evi dan Ka Novi. Aku pun tersenyum pada mereka dan menanyakan nama mereka satu persatu, sebelum mengenal karakter mereka ada baiknya mengenal nama mereka dahulu. Dan enam orang yang datang pertama ini adalah Salwa, Amel(kaya nama saya), Vina, Bagas (kaya nama sepupu saya Bagus), Azel yang nama dan rupa nya rupawan dan Hamka(Pasti akan secerdas buya Hamka.). Dan aku pun bertanya apakah ia mengenal Buya Hamka, Ia menggeleng, dan aku hanya tersenyum dan memberi saran "Sebaiknya kau mencari tahu siapa itu Buya Hamka agar kau memiliki inspirasi untuk masa depanmu."

     Lalu aku pun bercerita tentang kisah orang Jepang belajar berbagai macam hal pada Cina  pada abad  ke 6 di zaman Asuka kebetulan Rasulullah juga hidup di abad ke 6.  Pada abad ini Cina berada di puncak peradabannya. Negara Jepang pun bersemangat untuk mempelajari semua hal tentang politik, ekonomi, kesehatan, Filsafat, agama, ilmu pengetahuan dan lain-lainnya. Agar mereka bisa mengetahui semua itu maka orang Jepang belajar huruf yang digunakan orang cina yakni kanji yang banyaknya 2000 huruf. Lalu pada abad ke 7  Orang-orang Jepang kembali ke negaranya dan mengaplikasikan apa yang mereka pelajari dari Cina, Dari Cina pun orang Jepang belajar menjadi biksu atau rahib. Para biksu, cendikiawan, dan bangsawan inilah yang mengetahui cara membaca dan menulis huruf kanji sedangkan para pedagang, para petani sibuk dengan pekerjaan mereka, sedangkan para petinggi negara menggunakan ilmu mereka untuk memerintah Jepang. Para bangsawan yang tinggal di sekitar istana pun sibuk membuat puisi dengan huruf kanji, di zaman Heian kesusatraan Jepang berkembang pesat ada monogatari atau cerita, ada kumpulan puisi, dan lagenda serta dongen yang biasanya hanya dikisahkan turun temurun melalui komunikasi lisan pun akhirnya dibukukan.

      Di zaman Heian inilah lahir para penulis dan sastrawan. Mereka mebuat buku harian, buku perjalanan. Dan para biksu yang sedang belajar dengan gurunya pun mencatat perkataan gurunya. Karena kanji begitu sulit dan begitu lama untuk menuliskannya serta begitu banyak maka dibuatlah huruf katakana dan hiragana yang masing-masing sebanyak 46 huruf agar saat menulis apa yang dikatakan guru mereka sang murid bisa cepat untuk menuliskannya.

      Hiragana pun dipakai oleh kaum wanita dan katakana dipakai oleh kaum laki-laki. Tapi lama kelamaan ada laki-laki yang menulis dengan huruf hiragana, Dan pada tahun1897 lahirlah Ichiyo Higuchi yang pada akhirnya ia menjadi seorang sastrawan perempuan pertama. Di Indonesia sendiri tahun 1904 Kartini lahir dan memperjuangkan hak wanita, Serta pada tahun 1872 Nyi Dahlan pun ikut lahir dan memberikan kontribusi yang begitu besar hingga namanya pun terukir dengan tinta emas di buku-buku sejarah karena ia pun termasuk pahlawan nasional. Sama seperti Ichiyo yang lahir untuk memperjuangkan wanita. Dan mereka berdua pun meninggal saat mereka berumur kepala dua. Tapi berbeda dengan Nyi Dahlan yang memiliki kesempatan hidup dengan umur yang panjang.

     Lalu saya pun mengajarkan mereka menulis huruf A katakana dan saat itu Rio datang. Dan aku pun menyuruh mereka menulis di papan tulis. Ada yang bisa tapi ada juga yang kesulitan. Lalu suara adzan ashar terdengar, dan semuanya pun sholat dan dilanjutkan dengan membaca al-quran dan menulis di buku. Lalu pada saat jam 4 belajar IPA bagi kelas 4 sampai 6 dan pembelajaran karakter bagi kelas 1 sampai 3. Tapi Bagas, Alif, Hamka pun lari-larian dan bergulat. Gerakan mereka membuat lantai yang terbuat dari kayu ini bergetar, suara tawa mereka pun berderai bagaikan berada di taman bermain. Dan aku pun menyuruh mereka bertiga untuk duduk dan membuka buku. Aku pun memegang sebuah buku IPA kelas dua yang kebetulan ada di lantai dan entah milik siapa. Dan aku bertanya kepada mereka mengenai kelas berapa mereka. Ternyata mereka semua kelas tiga dan seharusnya belajar tentang karakter saat ini tapi mereka lebih memilih bergulat untuk menyalurkan energi mereka.

    Dan karena aku tidak tahu pembelajaran karakternya seperti apa, jadi aku membuka buku IPA itu, Bagas pun meminta izin untuk mengambil buku di rumahnya, Alif pun bersikuku ingin menulis. Dan aku pun menjawab "Ya udah jawabannya di tulis aja ya." Lalu aku memberikan pertanyaan tentang energi, Bagas pun akhirnya datang tapi tidak membawa buku, katanya ia tidak tahu bukunya di mana. Jadi, aku hanya menyuruhnya duduk dan menjawab pertanyaanku mengenai energi panas, listrik, gerak. Dan ka Ima pun datang bersama ka Mela, ka Evi, Ka Novi. Tapi aku tidak tahu kenapa ka Maya tidak datang. Dan Ka Ima pun memberi tahu tentang generator dan pengertian energi pada Alif, Bagas, Hamka, Fina.

     Lalu acara terakhir ka Manar mengajarkan nama-nama Malaikat, beserta tugasnya dan mereka pun bernyanyi bersama. Yang hafal bisa pulang duluan. Dan anak yang bandel seperti Arsy dan Aris akhirnya harus membantu membereskan ruangan. Lalu mereka pun pulang. Kami pun rapat evaluasi, tapi Lutfan dan Farel kembali lagi dengan baju bebas. Setelah rapat evaluasi, maghrib tiba dan kami sholat di rumah Ummy. Selanjutnya kami pulang serta menaklukan perjalanan yang begitu panjang sekali, serta penuh belokan bahkan mungkin saking banyak belokannya entah apakah aku bisa menghapal belokannya atau tidak. Sekian kisah dariku. Kita lanjutkan nanti di kisah selanjutnya.

Billahi Fiisabbililhaq Fastabiqul Khoirot Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar