Senin, 22 April 2013

Indonesia Belum Menyerah


Indonesia Belum Menyerah

Kita memang tak lagi memiliki bangsa ini, penjajahan perekonomian, penindasan hukum, keterpurukkan pendidikan, dan tak adanya figur pemimpin, merupakan masalah yang selalu memunculkan masalah kembali. tapi Kita bangsa pejuang, yang merebut kemardekaan dengan kegagahan, kita bangsa yang melawan sesuatu yang tak mungkin dilawan, kita bangsa yang merubah suatu potensi kehancuran, menjadi potensi yang dahsyat yang tak pernah terpikirkan, kebhinekaan.

Indonesia belum menyerah, di tengah riak-riak penjajahan perekonomian, bau kapitalis menyesakkan dada, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, kelaparan ditemukan di setiap daerah, busung lapar, seolah-olah menunjukkan ketak becusan pemimpin mengelola tumpukkan emas, bagaimana bisa negara yang dianugrahi Tuhan dengan kekayaan yang tak terhitung, masih terdapat kasus busung lapar? Namun layaknya air mengalir, akan selalu ada riak yang akan dimunculkan, penjajahan perekonomian ini membangunkan, setiap pemuda, ini tidak benar, bangsa ini mulai cerdas, kurangnya teriakkan dan aksi anarkis di jalanan untuk melawan kebathilan. Berbicara telah digantikan aksi, kita bukan lagi bangsa yang melawan kebathilan dengan keanarkisan, tapi dengan aksi, bergerak, dengan sendirinya. Bukan lagi sibuk menyuruh pemimpin untuk becus mengurusi rakyat, tapi kita sudah tersadarkan bahwa membebankan beban pada pundak orang lain, adalah kebodohan. Jika bangsa ini ingin benar maka, setiap orang harus beraksi untuk mebenarkan.Organisasi-organisasi pemuda bergerak untuk mengembangkan perekonomian kerakyatan, geliat ekonomi mikro, pemberdayaan usaha kemasyarakatan, dan sadar wirausaha, adalah jalan untuk memenangkan penjajahan. Jika dulu kita melawan dengan bambu runcing, sekarang kita melawan dengan iman dan sistem ekonomi yang di ajarkan oleh Islam. Memang tak mudah melawan kebathilan yang terorganisir, mungkin membutuhkan fokus, keistiqomahan, bahkan tak jarang muncul riak untuk berhenti, beratnya lawan bukan berarti kita harus gentar, sulit, tapi bukan tidak bisa. Indonesia Belum Menyerah..!!!

 Indonesia Belum Menyerah..!!!

Telinga saya pengang, hati saya cemburu, setiap kali melihat berita nikmatnya jadi koruptor kakap. Pemaling, bahkan perampok, tapi tak malu menampakkan muka di media. Jelas bersalah, tapi seolah-olah tak bersalah. Jaminan UUD dasar atas perlakuan hukum yang sama terhadap setiap warga negara, seolah-olah pemikiran usang yang tak perlu diberlakukan. Hukum hanya berlaku bagi yang lemah dan miskin, tapi tidak bagi yang kuat dan kaya. Tebang pilih, sopir yang melakukan kelalaian dalam membawa kendaraan, aparat tak berpikir dua kali untuk menjebloskannya ke rutan. Tak pernah di cek kejiwaannya, gangguan psikologisnya, sehingga ada penangguhan baginya untuk tidak di jebloskan kepenjara. Namun, tentulah tak lupa bagaimana, anak salah satu pejabat negara ini, melenggang bebas dari penjara padahal nyawa korban telah melayang. Lagi-lagi hukum terlalu sulit ditegakkan bagi para pembesar. Timpang, dan tidak adil, namun ini juga bukan berarti kita harus membiarkan yang kecil untuk melakukan kesalahan tanpa di hukum, bergerak memperbaiki yang belum adil, sambil terus menegakkan hukum bagi yang kecil. Bangsa ini terus tersadarkan bahwa merutuki ketakbenaran adalah kesia-sia an, tapi perlahan memperbaiki keterpurukkan adalah kemestian jika berharap Indonesia yang lebih baik. Sulit memang, tapi bukan tidak bisa. Indonesia Belum Menyerah.

Indonesia Belum Menyerah..!!

UN yang selalu bermasalah, tak pernah menjadi catatan bagi para pendayuh Nahkoda pendidikan untuk mengevaluasi penting atau tidaknya di adakan UN ini. Seolah-olah masalah-masalah UN adalah suatu kewajaran, walau ini kegiatan rutin namun para nahkodanya tak pernah mampu meminimalisir kesalahan. Namun jika melihat sang Nahkoda saat ini yang tak memiliki background dunia pendidikan, sangat mahpum, jika carut-marut dunia pendidikan saat ini begitu kacau. Jika sebuah kapal dibawa oleh orang yang tidak memahami medan, maka ketenggelaman kapal tersebut hanya akan menunggu waktunya. Namun, sekali lagi merutuki kegelapan bukanlah jalan menuju pencerahan. Tapi selalu mengambil hikmah dari setiap kondisi, dan sambil terus memperbaiki diri, adalah kebijaksaan tindakkan dalam menghadapi kondisi Bangsa saat ini.

Kita memang sedang berada dalam sebuah kapal yang akan tenggelam, tapi akan selalu ada penyelamatan gemilang, oleh orang-orang yang tanggap akan situasi darurat kapal ini, bukan menangis, berputus asa, atau merutuki kesalahan nahkoda, bukan juga menyerah tanpa melakukan apapun. Coba lihatlah, diantara lumpur-lumpur hitam akan selalu ada mutiara yang akan bermunculan. Begitu juga dengan Indonesia, Kita tak boleh menyerah, kita tak boleh kalah, kita adalah bangsa besar, yang kemardekaannya direbut, bukan hadiah, kita adalah satu-satunya bangsa yang memiliki keunikkan yang tak tertandingi di dunia. Yakinlah, seburuk apapun Kita saat ini, asal ada harapan untuk mencerahkan, maka keburukkan itu akan teratasi. Katakan wahai pemuda, katakan wahai kamu yang peduli dengan bangsa ini.
KITA BELUM MENYERAH, 
INDONESIA BELUM MENYERAH...
(jakarta, 21 April 2013)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar