Indonesia Belum Menyerah
Kita memang tak lagi memiliki bangsa ini, penjajahan
perekonomian, penindasan hukum, keterpurukkan pendidikan, dan tak adanya figur
pemimpin, merupakan masalah yang selalu memunculkan masalah kembali. tapi Kita
bangsa pejuang, yang merebut kemardekaan dengan kegagahan, kita bangsa yang
melawan sesuatu yang tak mungkin dilawan, kita bangsa yang merubah suatu
potensi kehancuran, menjadi potensi yang dahsyat yang tak pernah terpikirkan,
kebhinekaan.
Indonesia belum menyerah, di tengah riak-riak penjajahan
perekonomian, bau kapitalis menyesakkan dada, yang kaya semakin kaya, yang
miskin semakin miskin, kelaparan ditemukan di setiap daerah, busung lapar,
seolah-olah menunjukkan ketak becusan pemimpin mengelola tumpukkan emas, bagaimana
bisa negara yang dianugrahi Tuhan dengan kekayaan yang tak terhitung, masih
terdapat kasus busung lapar? Namun layaknya air mengalir, akan selalu ada riak
yang akan dimunculkan, penjajahan perekonomian ini membangunkan, setiap pemuda,
ini tidak benar, bangsa ini mulai cerdas, kurangnya teriakkan dan aksi anarkis
di jalanan untuk melawan kebathilan. Berbicara telah digantikan aksi, kita
bukan lagi bangsa yang melawan kebathilan dengan keanarkisan, tapi dengan aksi,
bergerak, dengan sendirinya. Bukan lagi sibuk menyuruh pemimpin untuk becus
mengurusi rakyat, tapi kita sudah tersadarkan bahwa membebankan beban pada
pundak orang lain, adalah kebodohan. Jika bangsa ini ingin benar maka, setiap
orang harus beraksi untuk mebenarkan.Organisasi-organisasi pemuda bergerak
untuk mengembangkan perekonomian kerakyatan, geliat ekonomi mikro, pemberdayaan
usaha kemasyarakatan, dan sadar wirausaha, adalah jalan untuk memenangkan
penjajahan. Jika dulu kita melawan dengan bambu runcing, sekarang kita melawan
dengan iman dan sistem ekonomi yang di ajarkan oleh Islam. Memang tak mudah
melawan kebathilan yang terorganisir, mungkin membutuhkan fokus, keistiqomahan,
bahkan tak jarang muncul riak untuk berhenti, beratnya lawan bukan berarti kita
harus gentar, sulit, tapi bukan tidak bisa. Indonesia Belum Menyerah..!!!
Indonesia Belum Menyerah..!!!
Telinga saya pengang, hati saya cemburu, setiap kali
melihat berita nikmatnya jadi koruptor kakap. Pemaling, bahkan perampok, tapi
tak malu menampakkan muka di media. Jelas bersalah, tapi seolah-olah tak
bersalah. Jaminan UUD dasar atas perlakuan hukum yang sama terhadap setiap
warga negara, seolah-olah pemikiran usang yang tak perlu diberlakukan. Hukum
hanya berlaku bagi yang lemah dan miskin, tapi tidak bagi yang kuat dan kaya.
Tebang pilih, sopir yang melakukan kelalaian dalam membawa kendaraan, aparat
tak berpikir dua kali untuk menjebloskannya ke rutan. Tak pernah di cek
kejiwaannya, gangguan psikologisnya, sehingga ada penangguhan baginya untuk
tidak di jebloskan kepenjara. Namun, tentulah tak lupa bagaimana, anak salah
satu pejabat negara ini, melenggang bebas dari penjara padahal nyawa korban telah
melayang. Lagi-lagi hukum terlalu sulit ditegakkan bagi para pembesar. Timpang,
dan tidak adil, namun ini juga bukan berarti kita harus membiarkan yang kecil
untuk melakukan kesalahan tanpa di hukum, bergerak memperbaiki yang belum adil,
sambil terus menegakkan hukum bagi yang kecil. Bangsa ini terus tersadarkan
bahwa merutuki ketakbenaran adalah kesia-sia an, tapi perlahan memperbaiki keterpurukkan
adalah kemestian jika berharap Indonesia yang lebih baik. Sulit memang, tapi
bukan tidak bisa. Indonesia Belum Menyerah.
Indonesia
Belum Menyerah..!!
UN yang selalu bermasalah, tak pernah menjadi catatan
bagi para pendayuh Nahkoda pendidikan untuk mengevaluasi penting atau tidaknya
di adakan UN ini. Seolah-olah masalah-masalah UN adalah suatu kewajaran, walau
ini kegiatan rutin namun para nahkodanya tak pernah mampu meminimalisir
kesalahan. Namun jika melihat sang Nahkoda saat ini yang tak memiliki
background dunia pendidikan, sangat mahpum, jika carut-marut dunia pendidikan
saat ini begitu kacau. Jika sebuah kapal dibawa oleh orang yang tidak
memahami medan, maka ketenggelaman kapal tersebut hanya akan menunggu waktunya.
Namun, sekali lagi merutuki kegelapan bukanlah jalan menuju pencerahan. Tapi
selalu mengambil hikmah dari setiap kondisi, dan sambil terus memperbaiki diri,
adalah kebijaksaan tindakkan dalam menghadapi kondisi Bangsa saat ini.
Kita memang sedang berada dalam sebuah kapal yang akan
tenggelam, tapi akan selalu ada penyelamatan gemilang, oleh orang-orang yang
tanggap akan situasi darurat kapal ini, bukan menangis, berputus asa, atau
merutuki kesalahan nahkoda, bukan juga menyerah tanpa melakukan apapun. Coba
lihatlah, diantara lumpur-lumpur hitam akan selalu ada mutiara yang akan
bermunculan. Begitu juga dengan Indonesia, Kita tak boleh menyerah, kita tak
boleh kalah, kita adalah bangsa besar, yang kemardekaannya direbut, bukan
hadiah, kita adalah satu-satunya bangsa yang memiliki keunikkan yang tak
tertandingi di dunia. Yakinlah, seburuk apapun Kita saat ini, asal ada harapan
untuk mencerahkan, maka keburukkan itu akan teratasi. Katakan wahai pemuda,
katakan wahai kamu yang peduli dengan bangsa ini.
KITA BELUM MENYERAH,
INDONESIA BELUM MENYERAH...
(jakarta, 21 April 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar