“Me VS Banjir”
**Hujan itu suatu kepastian, tapi cara kita
menghadapinya adalah pilihan**
Ini hari kamis, sesuai dengan jadwal saya masuk hari ini.
Semalam hujan, sudah terbayang kumnol akan banjir dan air setengah lutut,
kotoran, dan keseruan besoknya di benak saya. Saya menginap di kosan teman saya
di Mampang. Jam satu, saya sudah tak sabar ingin melihat kondisi KumNol,
seberapa besar banjir yang akan dihadapi oleh pengajar hari ini.
Gerimis hujan, tak mengusik semangat saya untuk
berangkat, basah sedikit tak jadi masalah, nanti juga kering pikirku. Jalanan
licin, jakarta sedikit tak berdebu, dingin tidak jelas mengiringi langkahku,
dari kosan teman menuju rumah kumnol.
“kak, mau ke
KumNol?”
Tanya
seorang ibu, yang aku ketahui adalah ibu dari salah satu murid di KumNol,
sedikit mengagetkanku saat aku menimbang untuk melintasi banjir yang sudah
masuk kerumah warga.
“iya buk”
Jawabku
singkat, sambil melepaskan kaos kaki dan memasukkan sepatu ke dalam tas ku,
karena satu tangan untuk memegang rokku dan celanaku. Dan satu lagi untuk
berpegangan karena takut terpeleset.
Banjirnya
besar, jauh dari yang kuperkirakan, selangkah, demi langkah, aku melewati
genangan banjir ini. Tak kupedulikan sampah-sampah yang berserakkan, dan
ingatan kotoran-kotoran manusia, kuman-kuman, dan yang lainnya, tujuanku Cuma
satu tak kalah oleh banjir. Kerena menurutku banjir itu suatu kepastian di KumNol
jika hujan sudah menyirami Bumi, tapi tindakkan dan reaksi yang akan kita
lakukan dalam menghadapi banjir ini, adalah pilihan, tetap mengajar dan menang
dari banjir, atau berhenti yang juga berarti kalah dari banjir.
Setengah
lutut, selutut, dan sepaha, air mulai meninggi.
“hahaha,
saya tertawa sendiri, sekitar 3 meter lagi saya akan sampai ketangga kumnol”
Cuapku,
sambil menyemangati diri, dan berpikir bisakah saya tiba di tangga itu. Seperti
saat-saat kau mengikuti lomba lari dan garis finish sudah terlihat, seperti
itulah kondisiku saat itu.
“hati-hati
kak, arusnya deras, kalau gak biasa nanti bisa kebawa arus”
Kata
ibu-ibu, yang ternyata dari tadi memperhatikanku dalam mengalahkan banjir ini.
Ciut, sangat
tidak lucu jika saya menghilang dari peredaran hanya karena nekat menghadapi
banjir ini, Apa kata dunia..!! terbayang tangisan ibu saya di kampung (Lebay),
dan tangisan sahabat-sahabat saya, menimbang dan berpikir di tengah genangan
air ini, haruskah, dan bisakah...
“emmm, deras
ya buk arusnya”
Tanyaku,
yang lebih tepatnya mengingatkanku sendiri agar tidak nekat
“ia, kak
soalnya kan itu tempat perputaran arus”
Jelas ibu
itu lagi.
“iya deh,
makasih ya buk, kayaknya belajar hari ini memang harus di liburkan dulu”
Jawabku,
sambil menarik diri dari genangan air.
Saya mengehentikan
niat saya untuk melangkahkan kaki ke KumNol, dan berpikir, saat ini saya Kalah
oleh banjir, tapi cukup untuk hari ini, tidak untuk hari-hari yang lain, saya
harus menemukan solusi. Tanpa mengenakan sepatu lagi, satu tempat yang kutuju
saat memikirkan solusi menghadapi banjir ini, Rumah pak Pandoyo, salah satu
warga yang sangat mendukung keberadaan KumNol di daerah ini. Sambil mengabari
pengajar-pengajar yang bertugas hari ini, untuk tidak datang ke KumNol hari ini,
saya melangkahkan kaki ke rumah Pak Pandoyo. Terasa
gatal mulai menyerang kaki ku sampai ke atas lutut.
“aghh harus
segera dicuci”
Gumamku
dalam hati
Kulihat
genangan air juga mulai memenuhi halaman pak Pandoyo, pertanda air juga akan
memenuhi halaman pak Pandoyo, dan sebentar lagi juga, halaman ini akan mendadak
menjadi kolam renang bagi anak-anak sekitar.
“Assalamu’alaikum”
Kata pertama
yang keluar dari mulutku, saat tiba di tempat yang kuharapkan dapat memberikan
senjata bagiku untuk memenangkan peperangan dari banjir ini.
“wa’alaikumsalam”
Kudengar
suaru buk de, istri pak pandoyo,
“masuk”
Kubuka
pintu, pak pandoyo sedang merebahkan badannya di tempat tidur, tak enak hati
juga, mengganggu istrahat orang lain. Tapi dorongan untuk mengalahkan banjir
lebih besar, dari pada tenggang rasaku.
“bu de, pak
pandoyo, maaf mengganggu”
Basa-basi,
padahal saya sadar saya sedang mengganggu
“iya, gak
papa kak, masuk kak, dari mana tadi?”
Pertanda
baik, angin segar (hehehe, g tau diri), saya harus menang.
“iya buk de,
dari kumnol tadi, coba-coba melewati banjir, ternyata arusnya deras, gak jadi
deh, buk de saya boleh ke kamar mandi”
Jawabku,
sambil menahan gatal di kaki
“iya kak,
silahkan”
Aku kamar
mandi, membersihkan semua kotoran yang ada di kaki, sambil berpikir, menyusun
kata untuk mengutarakan maksud yang sebenarnya. Pernah dengar kalau tempat
inspirasi terbesar itu adalah kamar mandi? Nahh itu tepat dan saya sering melakukannya,
sama halnya hari ini. Dan akhirnya tersusun kalimat-kalimat nan penuh politik,
dan licik, hahaha tak sia-sia mempelajari dan membaca buku-buku politik, ada
manfaatnya kalau dalam negosiasi seperti saat ini.
“wah,
banjirnya sudah mulai naik ya pak”
Jurus
pertama keluar, sesaat setelah saya duduk
“iya kak,
semalam, udah mau masuk ini kak”
Jawab pak
Pandoyo
“hmm, kalau
gini berarti anak-anak gak bisa ngaji ini, novi aja ga berani, airnya sampai
sepaha novi tadi pak”
Jurus kedua
keluar
“iya kak,
dekat tanggakan airnya deras, kan tempat perputaran arus kak, belum lagikan
disana agak dalam kak”
Tepat,
saatnya mengeluarkan jurus mematikan
“wahh, kalau
banjir terus, dan hujan setiap hari dan sampai berbulan-bulan hujan setiap
harinya, berarti gak belajar sampai berbulan-bulan ini”
Cuapku
sambil, pura-pura melihat kearah air yang sudah menggenang di halaman rumah pak
Pandoyo, dengan suara agak dikencangkan, dan dengan maksud gumamanku mendapat
respon dari pemilik senjata melawan banjir ini.
“iya kak,
padahalkan baru mulai belajarnya, pak itu gimana ya?”
Yes, jawaban
dari buk de, memberikan angin segar dan harus dikompori
“kira-kira
kalau dibuatkan tangga atau apa ya pak, biar, walau pun hujan gini anak-anak
masih tetap bisa belajar”
Aku
mengeluarkan jurus terakhir
“iya itu,
harus dibuatkan Jembatan, yang bisa dibongkar pasang kak, kalau hujan dipasang,
kalau gak hujan dibongkar lagi”
Jawab pak
pandoyo (dan saya tersenyum, membayangkan senyum bahagia saya, dan tangis
kekalahan banjir hahahhaha)
“pakai apa
ya pak membuatnya?”
“pakai bambu
bisa”
“hmmm berapa
itu kira-kira biayanya pak?”
“lupa saya
harga bambu berapa, tapi itu saya masih punya papan, itu cukup untuk
membuatnya”
Harus
dijawab dengan cerdas, peluang emas jangan disia-siakan, jangan sampai ini
hanya sekedar wacana, yang artinya saya akan dikalahkan oleh benjir lagi
“kapan, kita
buatnya ya pak, saya khaawatir hujannya akan terus-menerus, kalau bisa sebelum
hari minggu jembatannya sudah jadi”
“ya besok
saya buatkan”
deal, dan saya menang...
Saya tau ini
wacana, karena saya tau pak Pandoyo sangat sibuk, dan sama seperti membuat
lemari buku untuk kumnol kemaren, janji besok dan selesai tiga minggu kemudian.Tapi
biarlah, terlambat tak jadi masalah, yang terpenting saya sudah selangkah
menang dari banjir ini. Tugas saya selanjutnya adalah terus mengingatkan pak
Pandoyo, agar wacana menjadi nyata, dan banjir benar-benar tak membuat masalah
lagi para pengajar untuk melanjutkan perjuangan. Dan percakapan saya dengan
keluarga yang luar biasa ini, yang tak pernah memperhitungkan biaya yang
dikeluarkan untuk KumNol terus berlanjut sambil menikmati pemandangan unik,
anak-anak KumNol berenang di depan Rumah, dan bahkan berenang di dalam Rumah.
“kak, aku
juga punya kolam renang di dalam rumah”
Ucap Rasya
menjelaskan kepadaku saat aku mengambil gambar dan mengabadikan pemandangan
orang-orang yang tetap mensyukuri banjir yang biasanya adalah masalah.
Aghh lega
dan menyenangkan, memang saya kalah dari banjir hari ini, tapi saya mendapatkan
mozaik kehidupan saya hari ini. Hujan itu suatu kepastian, tapi cara kita
menghadapinya adalah pilihan. Apapun kondisi yang diciptakan dan di anugrahkan
Tuhan kepada kita, hal yang terpenting dan wajib di lakukan oleh seorang hamba
adalah mencari solusi jika atas apa yang diciptakan Tuhan itu menjadi masalah,
hingga akhirnya yang keluar dari lisan adalah kesyukuran bukan keluhan, panas
oke, hujan juga oke, semuanya adalah anugrah, semuanya adalah berkah, yang akhirnya
membuat kita menjalani hari jadi lebih indah.
(jakarta, 18
April 2013)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar