Senin, 22 April 2013

"Me VS Banjir


“Me VS Banjir”

**Hujan itu suatu kepastian, tapi cara kita menghadapinya adalah pilihan**


Ini hari kamis, sesuai dengan jadwal saya masuk hari ini. Semalam hujan, sudah terbayang kumnol akan banjir dan air setengah lutut, kotoran, dan keseruan besoknya di benak saya. Saya menginap di kosan teman saya di Mampang. Jam satu, saya sudah tak sabar ingin melihat kondisi KumNol, seberapa besar banjir yang akan dihadapi oleh pengajar hari ini.
Gerimis hujan, tak mengusik semangat saya untuk berangkat, basah sedikit tak jadi masalah, nanti juga kering pikirku. Jalanan licin, jakarta sedikit tak berdebu, dingin tidak jelas mengiringi langkahku, dari kosan teman menuju rumah kumnol.
“kak, mau ke KumNol?”
Tanya seorang ibu, yang aku ketahui adalah ibu dari salah satu murid di KumNol, sedikit mengagetkanku saat aku menimbang untuk melintasi banjir yang sudah masuk kerumah warga.
“iya buk”

Jawabku singkat, sambil melepaskan kaos kaki dan memasukkan sepatu ke dalam tas ku, karena satu tangan untuk memegang rokku dan celanaku. Dan satu lagi untuk berpegangan karena takut terpeleset. 

Banjirnya besar, jauh dari yang kuperkirakan, selangkah, demi langkah, aku melewati genangan banjir ini. Tak kupedulikan sampah-sampah yang berserakkan, dan ingatan kotoran-kotoran manusia, kuman-kuman, dan yang lainnya, tujuanku Cuma satu tak kalah oleh banjir. Kerena menurutku banjir itu suatu kepastian di KumNol jika hujan sudah menyirami Bumi, tapi tindakkan dan reaksi yang akan kita lakukan dalam menghadapi banjir ini, adalah pilihan, tetap mengajar dan menang dari banjir, atau berhenti yang juga berarti kalah dari banjir. 

Setengah lutut, selutut, dan sepaha, air mulai meninggi.

“hahaha, saya tertawa sendiri, sekitar 3 meter lagi saya akan sampai ketangga kumnol”
Cuapku, sambil menyemangati diri, dan berpikir bisakah saya tiba di tangga itu. Seperti saat-saat kau mengikuti lomba lari dan garis finish sudah terlihat, seperti itulah kondisiku saat itu.

“hati-hati kak, arusnya deras, kalau gak biasa nanti bisa kebawa arus”

Kata ibu-ibu, yang ternyata dari tadi memperhatikanku dalam mengalahkan banjir ini.
Ciut, sangat tidak lucu jika saya menghilang dari peredaran hanya karena nekat menghadapi banjir ini, Apa kata dunia..!! terbayang tangisan ibu saya di kampung (Lebay), dan tangisan sahabat-sahabat saya, menimbang dan berpikir di tengah genangan air ini, haruskah, dan bisakah...

“emmm, deras ya buk arusnya”

Tanyaku, yang lebih tepatnya mengingatkanku sendiri agar tidak nekat

“ia, kak soalnya kan itu tempat perputaran arus”

Jelas ibu itu lagi.

“iya deh, makasih ya buk, kayaknya belajar hari ini memang harus di liburkan dulu”

Jawabku, sambil menarik diri dari genangan air. 

Saya mengehentikan niat saya untuk melangkahkan kaki ke KumNol, dan berpikir, saat ini saya Kalah oleh banjir, tapi cukup untuk hari ini, tidak untuk hari-hari yang lain, saya harus menemukan solusi. Tanpa mengenakan sepatu lagi, satu tempat yang kutuju saat memikirkan solusi menghadapi banjir ini, Rumah pak Pandoyo, salah satu warga yang sangat mendukung keberadaan KumNol di daerah ini. Sambil mengabari pengajar-pengajar yang bertugas hari ini, untuk tidak datang ke KumNol hari ini, saya melangkahkan kaki ke rumah Pak Pandoyo. Terasa gatal mulai menyerang kaki ku sampai ke atas lutut.

“aghh harus segera dicuci”

Gumamku dalam hati

Kulihat genangan air juga mulai memenuhi halaman pak Pandoyo, pertanda air juga akan memenuhi halaman pak Pandoyo, dan sebentar lagi juga, halaman ini akan mendadak menjadi kolam renang bagi anak-anak sekitar.

“Assalamu’alaikum”

Kata pertama yang keluar dari mulutku, saat tiba di tempat yang kuharapkan dapat memberikan senjata bagiku untuk memenangkan peperangan dari banjir ini.

“wa’alaikumsalam”

Kudengar suaru buk de, istri pak pandoyo,

“masuk”

Kubuka pintu, pak pandoyo sedang merebahkan badannya di tempat tidur, tak enak hati juga, mengganggu istrahat orang lain. Tapi dorongan untuk mengalahkan banjir lebih besar, dari pada tenggang rasaku.

“bu de, pak pandoyo, maaf mengganggu”

Basa-basi, padahal saya sadar saya sedang mengganggu

“iya, gak papa kak, masuk kak, dari mana tadi?”

Pertanda baik, angin segar (hehehe, g tau diri), saya harus menang.

“iya buk de, dari kumnol tadi, coba-coba melewati banjir, ternyata arusnya deras, gak jadi deh, buk de saya boleh ke kamar mandi”

Jawabku, sambil menahan gatal di kaki

“iya kak, silahkan”

Aku kamar mandi, membersihkan semua kotoran yang ada di kaki, sambil berpikir, menyusun kata untuk mengutarakan maksud yang sebenarnya. Pernah dengar kalau tempat inspirasi terbesar itu adalah kamar mandi? Nahh itu tepat dan saya sering melakukannya, sama halnya hari ini. Dan akhirnya tersusun kalimat-kalimat nan penuh politik, dan licik, hahaha tak sia-sia mempelajari dan membaca buku-buku politik, ada manfaatnya kalau dalam negosiasi seperti saat ini.

“wah, banjirnya sudah mulai naik ya pak”
Jurus pertama keluar, sesaat setelah saya duduk

“iya kak, semalam, udah mau masuk ini kak”
Jawab pak Pandoyo

“hmm, kalau gini berarti anak-anak gak bisa ngaji ini, novi aja ga berani, airnya sampai sepaha novi tadi pak”
Jurus kedua keluar

“iya kak, dekat tanggakan airnya deras, kan tempat perputaran arus kak, belum lagikan disana agak dalam kak”
Tepat, saatnya mengeluarkan jurus mematikan

“wahh, kalau banjir terus, dan hujan setiap hari dan sampai berbulan-bulan hujan setiap harinya, berarti gak belajar sampai berbulan-bulan ini”

Cuapku sambil, pura-pura melihat kearah air yang sudah menggenang di halaman rumah pak Pandoyo, dengan suara agak dikencangkan, dan dengan maksud gumamanku mendapat respon dari pemilik senjata melawan banjir ini.

“iya kak, padahalkan baru mulai belajarnya, pak itu gimana ya?”
Yes, jawaban dari buk de, memberikan angin segar dan harus dikompori

“kira-kira kalau dibuatkan tangga atau apa ya pak, biar, walau pun hujan gini anak-anak masih tetap bisa belajar”

Aku mengeluarkan jurus terakhir
“iya itu, harus dibuatkan Jembatan, yang bisa dibongkar pasang kak, kalau hujan dipasang, kalau gak hujan dibongkar lagi”

Jawab pak pandoyo (dan saya tersenyum, membayangkan senyum bahagia saya, dan tangis kekalahan banjir hahahhaha)
“pakai apa ya pak membuatnya?”
“pakai bambu bisa”
“hmmm berapa itu kira-kira biayanya pak?”
“lupa saya harga bambu berapa, tapi itu saya masih punya papan, itu cukup untuk membuatnya”

Harus dijawab dengan cerdas, peluang emas jangan disia-siakan, jangan sampai ini hanya sekedar wacana, yang artinya saya akan dikalahkan oleh benjir lagi
“kapan, kita buatnya ya pak, saya khaawatir hujannya akan terus-menerus, kalau bisa sebelum hari minggu jembatannya sudah jadi”
“ya besok saya buatkan”

deal, dan saya menang...
 
Saya tau ini wacana, karena saya tau pak Pandoyo sangat sibuk, dan sama seperti membuat lemari buku untuk kumnol kemaren, janji besok dan selesai tiga minggu kemudian.Tapi biarlah, terlambat tak jadi masalah, yang terpenting saya sudah selangkah menang dari banjir ini. Tugas saya selanjutnya adalah terus mengingatkan pak Pandoyo, agar wacana menjadi nyata, dan banjir benar-benar tak membuat masalah lagi para pengajar untuk melanjutkan perjuangan. Dan percakapan saya dengan keluarga yang luar biasa ini, yang tak pernah memperhitungkan biaya yang dikeluarkan untuk KumNol terus berlanjut sambil menikmati pemandangan unik, anak-anak KumNol berenang di depan Rumah, dan bahkan berenang di dalam Rumah.

“kak, aku juga punya kolam renang di dalam rumah”

Ucap Rasya menjelaskan kepadaku saat aku mengambil gambar dan mengabadikan pemandangan orang-orang yang tetap mensyukuri banjir yang biasanya adalah masalah.

Aghh lega dan menyenangkan, memang saya kalah dari banjir hari ini, tapi saya mendapatkan mozaik kehidupan saya hari ini. Hujan itu suatu kepastian, tapi cara kita menghadapinya adalah pilihan. Apapun kondisi yang diciptakan dan di anugrahkan Tuhan kepada kita, hal yang terpenting dan wajib di lakukan oleh seorang hamba adalah mencari solusi jika atas apa yang diciptakan Tuhan itu menjadi masalah, hingga akhirnya yang keluar dari lisan adalah kesyukuran bukan keluhan, panas oke, hujan juga oke, semuanya adalah anugrah, semuanya adalah berkah, yang akhirnya membuat kita menjalani hari jadi lebih indah.

(jakarta, 18 April 2013)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar