Aku terlambat, mungkin karena memang sudah menjadi kebiasaan ku, mis Late.
Ini kajian bersama dengan dosen pavorite ku, luar biasa, sudah lama sekali Aku
tidak mendengar semangat perjuangan beliau dan cerita-cerita realitas yang
tertutupi. Alfian Tanjung, dosen yang luar biasa, yang juga merubahku untuk
mencoba berusaha menjadi luarbiasa sepertinya. Darinya Aku belajar bagaimana
menjadi Idealis, dan tak peduli apapun resiko dari menetapkan prinsip kita.
Tak pernah terpikirkan, bahwa kedatanganku hari ini akan mengikat banyak
hati nantinya, yang menyatukan visi dan pembelajaran. Disini aku mengenalnya,
bukan yang pertama tapi yang kedua kalinya, namun pertemuan yang kedua ini aku
tau namanya, singkat tapi bukan nama penuhnya. Pertemuan kedua, karena
pertemuan pertama ku dengannya adalah di Banten, di pelosok Banten tepatnya,
saat mahasiswa matematika melakukan pengabdian di daerah dan dia sebagai ketua Hima
di kampusku menjadi tamu undangan, tak ada yang spesial saat itu, bahkan
namanyapun aku tak tau.
Manar, itu namanya, yang aku tau ketika pak Alfian meminta dia untuk
mengeluarkan pendapatnya tentang kader umat, bukan kotakan-kotakkan organisasi
yang ada, IMM, KAMMI, HMI, dan lainnya, tapi kader umat, kader Islam, kader
yang memikirkan tentang dakwah Islam, dan bagaimana Islam itu ditegakkan, ia
menjawab pertanyaan itu dengan logis, sederhana, tepat, dan bersemangat.
Menarik, dan layak untuk disimak, yang pasti dia masuk dalam daftar orang yang
cerdas menurutku.
Setelah itu, tak ada komunikasi, sampai akhirnya, saat Aku menjadi panitia
LDK di Pasir Angin, dia mengabari tentang kelanjutan dari pembicaraan beberapa
minggu yang lalu dengan pak Alfian, lewat sms, ada tindak lanjut ternyata, ada
pertemuan lagi, dan ada gerakkan yang ingin dibangun. Menarik, dan sejak itu
Aku merasa memiliki visi yang sama denganya.
Sampai akhirnya, ide KUMNOL tercetus dari ku dan kedua sahabat terbaikku,
dan aku mulai merancang orang-orang yang akan terlibat di KUMNOL. Awalnya hanya
Aku, Inna, dan Sifa. Dan Aku tau, Kumnol tidak akan berdiri jika hanya bertiga
yang menggerakkan. Dan dua nama yang terbesit di otakku saat itu, Tiar sahabat
yang sudah lama Aku kenal, tempat Aku dan teman-teman untuk berbagi ide, dan
berdiskusi, dan satu lagi dia, Manar, entahlah mungkin karena kemampuanku yang
bisa menilai dengan tepat karakter seseorang, Aku memilihnya untuk menjadi TIM
di Kumnol, terbentuklah tim 5 dari Uhamka, dan pada akhirnya KUMNOL memiliki 10
tim inti, 5 tim Uhamka, dan 5 tim mampang.
Awal, pergerakkan semua ide masih berawal dari ku, aku menjabat sebagai
ketua, dan ini tidak nyaman, sangat tidak nyaman, sampai akhirnya, tim 10
memutuskan untuk memilih ketua, satu nama yang terbesit saat Aku memikirkan
tentang ini, Manar, bukan tanpa alasan Aku memilih dia untuk menjabat amanah
besar ini, tapi kerena kemampuan nya dalam berorganisasi, sehingga Aku mantap
untuk memilihnya, dan Tuhan juga menghendaki itu, hingga dia menjadi ketua. Tak
banyak yang kuketahui tentangnya, selain dia adalah ketua kumnol, karena ia
orang baru bagiku, tak tau Aku bagaimana berinteraksi dengannya, kekhawatiran
salah dalam bertindak dan sebagainya.
Manar Imam Muhammadi, itu nama lengkapnya, selama menjabat sebagai ketua, Aku
tau nama itu memang pantas disandangnya. Tapi aku masih buta akan karakternya,
membingungkan, bersemangat, jayus, tapi amanah. Baru itu, dan hanya itu.
Hingga malam ini, seorang sahabat, sahabat baruku, dan sahabat lamanya. Bercerita
tentangnya, dari seorang pemimpin, ketua, loyalitas pada lembaga, hingga
laki-laki titik nol. Luar biasa. Karakter yang mengagumkan tapi tetap
membingungkan.
Dia pemimpin yang bijaksana, setiap permasalahan, dialah yang menjadi
tumpuan untuk menyelesaikan dan menemukan solusinya. Loyalitas dan totalitasnya
pada apa yang ditekuninya adalah salah satu karakter yang mengagumkan lainnya,
terkadang ia lupa akan dirinya, tak ada kata sakit baginya, selagi masih bisa
merangkak, maka ia akan tetap total terhadap apa yang ia tekuni. Tak hanya
tenaga, pikiran, tapi ia juga loyal akan materi, tak berpikir seberapa banyak
uangnya habis untuk apa yang ia tekuni. Ia dewasa, seorang yang dituakan,
seorang yang sering dimintai nasihat, begitu kata sahabatnya.
“oh, yaa...!!”
Hanya itu, tak percaya Aku, jika melihat apa yang nampak selama ini, dia
yang tidak jelas, terkadang jayus, ternyata adalah orang yang sering dimintai
nasihat. Hmmm masih belum percaya. Sahabatnya juga menggambarkan ia sebagai
orang yang visioner, dan aku rasa ini benar. Saat kumnol baru lahir dia sudah
berpikiran jauh, bagaimana tidak, sampai urusan seberapa lama jabatan seorang
ketua, lalu sistem apa yang akan dilakukan di Kumnol, presidensil atau
demokrasi, kemudian ADRT dan perangkat lainnya sudah ia pikirkan, benar-benar
visioner. Dan mengagumkan.
Kualitas pengetahuan agamanya, memang bukan apa-apa jika dibandingkan
dengan oran g-orang yang mempelajari
agama, tidak kurang, tapi juga belum lebih. Namun kemampuannya dalam memaknai
dan mengerjakan apa yang ia ketahui itu lebih mengagumkan dari pada orang-orang
yang paham sekalipun. Memang tak banyak hapalan Qur’an di kepalanya, namun
kemampuannya memaknai dan menjalankan apa yang telah ia ketahui itu benar-benar
luar biasa. Dan bukankah ini lebih penting..?? dan tindakan benar...??
Sederet hal yang menggumkan itu, tentulah tak sempurna jika tanpa melirik
kekurangannya, yah titik nol, sahabatnya menggambar jika ia sedang berada dalam
titik nol seperti buku laki-laki di titik nol, karena ia pemimpin, obor
pemimpin, jika ia bermasalah maka semua akan menjadi masalah. Dan kelemahannya
hanya satu, hati, dan tak ada yang mengusik hati laki-laki selain perempuan.
Dan ini titik lemahnya. Kegundahannya akan perempuan, membuat Ia berada dalam
titik nol, tak pernah sakit, tiba-tiba berpenyakit, lemah dan tak bisa berbuat
apa-apa, amanah terbengkalai, masalah-masalah bermunculan. Bukan sakit fisik,
tapi hati. Dan ini efeknya jauh lebih besar, dari pada sakit fisiknya. Yahh
laki-laki di titik nol. Sejauh ini Kumnol belum menemukan ia berada pada titik
nol, dan semoga tidak pernah, dan jangan pernah.
Ketua dan titik nol, dialah sosok yang membuat stabil komnol, yang Aku tau kumnol
butuh dia. 2 minggu ketakhadirannya di kumnol, karena sakit, membuat ada banyak
masalah di kumnol. Tak ada tindakkan cerdas nan bijaksana ala dia. Aku
perempuan, hanya bisa menggunakan emosi, emosi dan emosi, berantakkan, dan 2
minggu yang berat.
Sang ketua,
maka izinkanlah aku menuliskan baitan puisi perjuangan, yang akan tetap
membuatmu menjadi obor pemimpin;
Obor Pemimpin,
Sematkan setiap perkataan entah sindirian, kritikkan, atau pun pujian yang
datangnya dari qolbu, maka sematkan juga ia di qolbu,
Akar itu dasar atas keberlangsungan setiap mahkluk yang ada di
disekitarnya, maka jika ia busuk, maka semua akan menjadi busuk,
Maka jagalah, perjuanganmu, agar tak pernah busuk, agar tetap seperti beringin, yang setiap sendinya adalah pohon
keberkahan.
Tengoklah keatas, ada banyak angin, tapi yakinlah sokongan dari
dahan-dahanmu tak akan membuatmu roboh, maka kuatlah, dan berjuanglah,
Nyalakan api-api dan lilin-lilin dari obormu
Obor pemimpin...
Jakarta, 24
April 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar