Selasa, 07 Mei 2013

Untuk Mu Guru, Percayalah Kau Spesial

Assalaamu’alaikum warohmatullaahi
wabarokaaatuh


Seorang guru yang baik
adalah pengajar, pendidik dan mentor, lebih dari itu seorang guru juga berperan
sebagai orang tua ke dua bagi siswa-siswanya. Guru juga dituntut untuk memahami
apa kebutuhan para siswa, bakat dan minatnya, keadaan keluarganya agar tercipta
suatu kedekatan batin untuk menunjang pembelajaran yang efektif.
Bertindak layaknya orang
tua yang penuh kasih sayang, menjadi tempat bersandar ketika ditimpa masalah
layaknya seorang sahabat, mengembangkan bakat layaknya seorang pelatih handal,
itulah seorang guru yang ‘super’.

Kisah berikut adalah sebuah kisah motivasi yang saya kutip..
semoga dapat menyalakan kembali kobaran api semangat yang mulai pudar..

Guru Yang Paling Baik
Bertahun-tahun yang lalu, Bu Nazwa berdiri di depan
siswa kelas V mengucapkan sebuah kata bohong kepada para siswanya dia
mengatakan akan mencintai setiap muridnya. Tetapi hal tersebut sebetulnya tak
sepenuhnya jujur, karena Ucup yang duduk dibarisan depan adalah seorang anak
yang tidak konsentrasi belajar dan kotor. Sebenarnya Bu Nazwa sangat ingin
dengan pena merahnya menulis diatas rapor Ucup nilai “E”.
Pada suatu hari ketika Bu Nazwa sedang memeriksa catatan di rapor para
muridnya. Dia sangat terkejut membaca komentar para mantan guru Ucup. Guru di
kelas Ia menulis, “Ucup adalah seorang murid yang cerdas, selalu tersenyum,
pekerjaan rumahnya dan catatannya selalu rapi, sangat menghormati orang lain,
membuat orang di sekelilingnya berbahagia!.”

Guru kelas II menulis, “Ucup adalah seorang pelajar yang sempurna, semua
teman-teman menyukainya, tetapi ibunya menderita penyakit kanker, kehidupan
dirumahnya pasti sangat susah!” Guru kelas III menulis, “Kematian ibunya
menimbulkan pukulan berat baginya. Dia sangat rajin belajar, tetapi ayahnya
tidak peduli terhadapnya, jika tidak segera diambil tindakan maka kehidupan
keluarganya akan segera mempengaruhi pelajarannya. “

Guru kelas IV menulis, “Motivasi belajar Ucup mulai mundur, dia tidak tertarik
kepada pelajaran lagi, dia tidak ada teman lagi, terkadang tertidur di ruang
kelas.” Setelah membaca catatan tersebut, Bu Nazwa baru menyadari masalah yang
sebenarnya. Dia merasa malu, dan sangat sedih karena pada saat Hari Raya ‘Idul
Fitri, semua muridnya memberi dia hadiah yang dibungkus dengan kertas kado yang
cantik, sedangkan Ucup membungkus hadiahnya dengan kertas koran.

Bu Nazwa membuka hadiah Ucup, didepan kelas, hadiahnya adalah sebuah gelang
berlian palsu dan sebotol parfum yang tersisa ¼ , murid-murid yang lain mulai
menertawakan hadiah dari Ucup, tetapi Bu Nazwa segera mengambil gelang tersebut
dipakai ditangannya lalu berkata “sangat indah”, dia menyukai hadiah tersebut,
lalu menyemprotkan parfum tersebut ke tangannya.

Hari itu setelah lonceng pulang berbunyi, Ucup tinggal dikelas dan berkata
kepada Bu Nazwa, “Bu guru, hari ini engkau wangi seperti ibuku!.” Setelah Ucup
pulang, Bu Nazwa menangis dengan sedih selama satu jam. Setelah hari itu Bu
Nazwa tidak mengajar “Membaca, menulis, menghafal dan matematika lagi.” Tetapi
dia mengajarkan pendidikan karakter kepada para muridnya.

Mulai hari itu dia memberi perhatian khusus kepada Ucup, mencurahkan kasih
sayang seperti seorang ibu kandung, Ucup juga mulai hidup kembali, Bu Nazwa
selalu memberi semangat kepadanya, dia semakin tangkas. Di akhir tahun Ucup
menjadi murid yang terpintar dikelasnya. Walaupun Bu Nazwa mengatakan akan
mencintai setiap muridnya tetapi Ucup adalah siswa favoritnya.

Setahun kemudian, Bu Nazwa menemukan secarik kertas yang ditempel dipintu
rumahnya, itu adalah tulisan Ucup yang mengatakan “Bu Nazwa adalah guru yang
paling baik yang dijumpai seumur hidupnya!” Setelah 6 tahun berlalu, Bu Nazwa menerima
sepucuk surat dari Ucup yang mengatakan dia sudah tamat SMA, dia mendapat juara
3, dia mengatakan Bu Nazwa masih tetap menjadi guru yang paling baik seumur
hidupnya dan juga guru favoritnya!

Empat tahun kemudian, Ucup menulis bahwa dia telah tamat S1 dan akan melanjutkan
ke S2 dia mengatakan Bu Nazwa tetap guru favorit dan guru yang terbaik selama
hidupnya, dan Bu Nazwa melihat ada tambahan gelar dokter ditanda tangannya.

Cerita ini belum berakhir, pada musim semi tahun ini, Ucup menulis surat lagi,
menceritakan bahwa ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dia sudah
menemukan seorang gadis dan akan menikah dengannya, dia meminta Bu Nazwa
sebagai walinya dan dia akan mediakan tempat duduk di posisi orang tuanya. Bu
Nazwa memenuhi permintaan Ucup, pada hari pernikahan dia memakai gelang berlian
palsu pemberian Ucup dan menyemprotkan parfum pemberiannya, Ucup teringat itu
terakhir kalinya dia bersama ibunya merayakan natal dan ibunya memakai parfum
ini.

Ketika mereka merangkul satu sama lain, Prof. Ucup dengan berbisik ditelinga Bu
Nazwa mengatakan, “Terima kasih Bu Nazwa engkau telah mempercayai saya, terima
kasih karena engkau membuat saya menjadi orang penting, sehingga saya mempunyai
kepercayaan diri untuk berubah!”

Air mata Bu Nazwa mengalir deras, dengan lembut dia berkata, “Ucup, anda salah!
Andalah yang mengajari saya, sehingga saya mempunyai kepercayaan diri untuk
berubah, setelah bertemu denganmu, saya baru tahu bagaimana mengajar!”

Dikutip dan diadaptasikan dari (www.sejuk-pagi.blogspot.com)

Ketika kesulitan menerpamu..
Mantapkan asa untuk tetap melangkah maju..
Pastikan Rabb mu selalu hadir dalam qolbu..
Yakinlah dan jangan pernah ragu..

_Sekian_ (^^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar