Wanita Itu adalah Sahabatku
Aku terhempas, dalam planet entah berantah. Ketaksukaan seorang teman di
kelas, membuatku terlempar disini, asing, dan sangat asing. Kelas matematika II
H, dalam kotakkan ini, yang membuat aku memberikan sedikit harapan, perubahan,
dan kebermaknaan kuliah.
Kicauan, suara-suara nan penuh semangat pagi itu, membuatku sedikit
memberanikan diri. “assalamu’alaikum” kata awal yang terucap darinya. Aku
menyukainya, sangat menyukainya, dan aku tau setiap orang akan menyukainya saat
pertama bertemu.
3 tahun yang lalu, itu awal aku
menjabat tangannya, menyambut dekapan ukhuwah nan indah yang ia tawarkan,
menyambut pelukkan-pelukkan hangat yang menyejukkan. Merengkuh janji-janji
Allah dalam kebersamaan memupuk cinta dan memaknai persaudaraan. “Ana sifa,
siti”. Begitu nama yang ia perkenalkan, dan coloteh teman-temannya menyahuti,
“bukan, ihh namanya ana”. Masih kuingat perkenalan pertama 3 tahun yang lalu.
Aku merasa, tidak sendirian, aku diterima di kelas ini. Setidaknya ada dia,
dengan senyum ukhuwah yang ia tawarkan. Lama Tuhan menumbuhkan benih-benih
cinta di antara aku dan Dia. Namun belum,
butuh waktu, 3 tahun agar aku menerima dia sebagai sahabatku. Padahal
kurang apa ia, bersahabat, sangat menjaga hati orang lain, senang membantu, dan
sempurna. Tapi mungkin karena sempurna itulah, yang aku tidak sukai, entahlah.
Aku hanya tidak menyukainya, aku merasa ada kepalsuan dari apa yang ia
tampakkan, dan kau tau orang yang sangat aku benci adalah orang yang
berpura-pura. Dan dia seperti itu penilaianku.
Terkadang ia merasa ketaksukaanku padanya, pasti, karena mukaku tak pernah
berbohong. Tak pernah dapat ditutupi. Namun pembicaraan di kosan pada malam itu
membuat aku menyesal, karena terlalu lama menyambut uluran persahabatannya.
Malam itu, kami bertiga ina, dan dia, siti (yang aku lebih senang memanggilnya
ana) berbicara dari hati ke hati. Aku yang memulainya..
“an,
lo pernah ngerasa g sih, kalo gw g suka sama lo?”
Kata
pertama yang aku keluarkan.
“ia,
terkadang ana merasa seperti itu”
Itu
jawabnya, seperti biasa, sangat menjaga perkataannya.
Hingga keluar semua uneg..uneg.. yang aku tahun sejak 3 tahun yang lalu,
yang membuat jarak antara aku dengan dia. Dan aku pahami, aku salah menilainya,
dan aku malam ini dengan senyuman kusambut ia dalam dekapan ukhuwah nan penuh
cinta.
Siti Fauziyah, dia sahabat terbaikku yang pernah ada. Perempuan keibuan
yang sangat anggun, yang mungkin tipe yang banyak disukai oleh laki-laki.
Senyumnya selalu menyejukkan. Cantik, itu ciri khas sms-nya, karena menurutnya
setiap perempuan itu ingin dipanggil cantik dan dianggap cantik. Luar biasa,
mengagumkan. Aku pernah protes, karena aku tak suka dianggap cantik tapi lebih
senang dianggap cerdas, hahaha pernah aku berkata kepadanya untuk tidak
dipanggil cantik, tapi cerdas. Dan seharian ia memanggilku cerdas. Setelah itu
ia kembali lagi, memanggilku cantik.
Ana sahabatku ini. Adalah orang organisasi, sibuk dan sang sekretaris, jika
ada surat atau proposal kegiatan, maka mintalah ia untuk mengerjakan. Selesai
dan tunggu beres. Karena keahliannya inilah, aku memilihnya untuk menjadi
sekretaris di kumnol. Amanah, itulah dia, semua dikerjakan sesuai dengan yang
dipinta, hanya saja sering mengulur waktu. Dia adalah penahan mimpi-mimpiku,
yang selalu menempatkan ku dalam dunia nyata. Dia lah yang menasehatiku agar
tak emosi, karena memang ia yang paling sering kena, jika aku sedang emosi.
Caranya, menghadapi anak-anak seperti seorang ibu, dewasa, sangat dewasa.
Jilbabnya sederhana, bahkan terkadang menurutku, aneh, hahahaha. Tapi itu ciri khasnya,
unik, anggun. Jika membicarakannya, aku teringat akan khadijah, ibu para
mukmin, wanita dewasa, anggun yang sangat dicintai oleh Rasulallah SAW. Dan
sahabatku, mengambil sebagian dari karakter itu. Ia panutan, dari adik-adiknya,
dan juga panutan kami sahabatnya.
Konsisten terhadap apa yang ia jalani, sehingga ia dapat lulus 3,5 tahun,
mengagumkan. Jangan bandingkan aku dengannya. Karena ia terlalu sempurna, dan
aku tak setengah dari keindahan akhlaknya. Sahabatku, izinkan aku menguntai
kalimat, sebagai tanda kusambut cintamu;
Terimakasih,
sudah memelukku waktu itu,
Terimakasih,
sudah mengulurkan tanganmu waktu itu,
Terimakasih,
sudah bersabar menunggu uluran tangan dariku,
sifa
tetaplah
jadi seperti dirimu, yang lembut, indah, dan mengagumkan,
tetaplah
menjadi penyokong dibelakangku, penyemangat saat lemahku,
semarah
apapun aku denganmu, itu karena hanya aku ingin kau memahamiku,
tak
ada lain yang kusyukuri, ketika menginjakkan kaki disini, di ranah yang tak ada
kerabat, melainkan Tuhan mempertemukan aku denganmu,
mungkin
dekapan ukhuwah yang engkau ulurkan, belum mampu aku imbangi, perasaan curiga,
amarah, dengki, iri, benci, terkadang masih menyelusup dikalbuku,
Sifa,
Andai
nanti, suatu saat nanti,
Disana,
aku hanya ingin saling mengucapkan salam denganmu, disyurganya, seperti
saat-saat salam pertamamu diwaktu lalu,
Sifa,..
Inilah
aku sahabatmu,
Kumnol
ini mimpi kita bukan..??
Ini
mimpi kita...
Bukankah
sudah kita goreskan dan Tuhan mencatat itu,
Mimpi
sekolah kita, kita bertiga,
Ingatkah
kau, akan mimpi kita untuk bertetangga..??
Kita
akan menuai nya, suatu saat nanti,
Ini
janji ku,
Wahai
Manusia..
Saksikanlah,
wanita itu, yang indah akhlaknya itu adalah sahabatku,
Wahai
Tuhan, saksikanlah wanita yang mengagumkan itu adalah sahabatku,
Wahai
rabb, satukan aku dengannya, saat kau membangkitkan kami kembali,
Biarkan
aku yang mengulurkan tangan, mengulurkan cinta denganya untuk yang pertama,
Sebagai
tanda penyesalanku atas lamanya tanganku menyambut uluran tangannya,
Wahai
manusia saksikanlah, wanita itu adalah sahabatku...
Jakarta,
28 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar