Selasa, 09 April 2013

Celoteh Senja Sore di Rumah KumNol



**Kita Bukan Sang Pemimpi, Tapi Kita Sang Penyala, yang Akan Merubah Mimpi Menjadi Nyata**

Terik hari ini begitu menyayat kulit. Jakarta Ibu kota Negara, seribu dan sejuta bahkan mungkin tak terhitung permasalahan ada di sini. Namun masalah Jakarta dan benar-benar masalah besar hanya dua, macet dan banjir. lucunya kedua masalah ini juga yang menjadi masalah besar bagi pendiri dan pengajar di KumNol. Banjir, karena rumah KumNol ada di Pinggir kali, jangankan hujan lebat, tak hujan saja air menggenang di bawah, apa lagi hujan lebat, bukan lagi setengah lutut yang harus dihadapi pengajar, tapi setengah badan. Jika pertanda hujan lebat, pengajar yang perempuan akan membawa dua buah kaos kaki, karena tidak memungkinkan melepas kaos kaki di depan pengajar laki-laki. Macet juga tak kalah merepotkan, maklum sebagian besar pengajar bukanlah asli daerah setempat, melainkan menyebar di seluruh Jakarta, dan tempat Kumnol merupakan daerah termacet di Jakarta, mengajar jam tiga, maka harus berangkat dua jam sebelumnya.

Hari ini juga sama, proses belajar-mengajar pertama kali akan dilakukan, kesan menarik, dan menyenangkan harus ditampakkan di KumNol ini, harus jelas beda antar KumNol dengan Bimbel atau dengan TPA, atau sekolahpun. misinya jelas, berkarakter, cerdas, tapi tidak membosankan. Namun layaknya sebuah rencana, hanya Allah juga yang akan memutuskan, terlaksana atau gagal. dan hari ini 50 % saya nyatakan gagal. Minimnya dana, membuat segala yang sudah saya rencanakan se-ideal mungkin, gagal, dan berantakkan. pembelajaran yang seharusnya dimulai jam 15.00, tepat waktu, karena lagi-lagi Kumnol fokus pada karakter, dan salah satu karakter anak bangsa yang harus dibenahi adalah kedisiplinan, hanya bisa strat pada saat selesai ashar. belum lagi persiapan, fortopolio siswa masih belum rampung saya kerjakan, karena baru 15 yang lalu dikerjakan. gerah, dan sedikit marah, tapi sadar ini rencana Allah.

setelah sholat ashar harapannya pembelajaran dapat dilakukan dengan maksimal, menebus kesalahan ketidak disiplinan. namun, sms di hp saya membuat saya, harus mengurut dada, air wudhu yang membasuh peluh dan meredam amarah sebelumnya, tak mampu lagi membendung air mata saya. pengajar bahasa jepang tidak bisa hadir, tekhnisi bengkel Kumnol belum juga datang. saya kelabakkan, tak ada cara lain, keidealan harus saya tutup, dan lenyapkan hari ini. saya harus menemukan solusi pembagian kelas, dan untunglah hari ini bukan hari matematika, sehingga, tak juga jadi permasalahan anak kelas I, II, III, IV, V , dan VI digabung menjadi satu. Membagi dua puluh satu anak yang datang hari ini kedalam dua kelompok, kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. laki-laki dipegang oleh akhi Jamal, mengajarkan bahasa arab. dan yang perempuan dipegang oleh ukhti April, mengajarkan bahasa inggris.

semua perlahan mulai terkendali, tapi hanya sebentar. selanjutnya adalah kesibukkan para pengajar untuk meredam teriakan dan celotehan, atau lari-lariannya monster-monster kecil ini di Mushollah. masalah lagi, Mushollah tak ubah seperti sarang lebah, dan yang lebih parahnya saat anak-anak perempuan, mempraktekkan percakapan bahasa inggris. tiba-tiba saja anak laki-laki tak ingin kalah berteriak nyaring mempraktekkan percakapan dalam bahasa Arab.
"assalamu'alaikum"
"good morning"
"khaifa hal"
"fine thanks"
.....

dua teriakan dalam dua bahasa, berisik, tak terkendali.

pada saat menuliskan percakapan-percakapan itu ke dalam portofolio, monster-moster kecil mulai bertingkah lagi, terutama anak laki-laki, tulisan akhi Jamal seolah-olah seperti bahasa sandi rumit yang sulit untuk ditirukan. kembali teriakan, celotehan, larian, laporan ke guru, benar-benar tak terkendali. 
"kakak, Luthfan ngomong jorok"
seorang anak menghampiriku

ini awal, saya guru karakter mereka belum membuat kesepakatan, jadi sangat wajar jika ini yang terjadi, hari kedua, sungguh saya sangat berharap kelas ini jangan seperti lebah lagi.

dan tiba giliran saya untuk menyampaikan ilmu yang saya miliki di awali dengan menuliskan daftar perbuatan-perbuatan baik dan buruk yang mereka kerjakan hari ini. menarik anak-anak berkata jujur, tak ada kebohongan atau berkonspirasi melakukan praktek yang mencurigakan (hehehe.. g nyambung), perbuatan baik mulai dari meminjamkan penghapus sampai membantu ibu mereka tuliskan. perbuatan buruknya, mulai dari berkata jorok sampai membuat adik menangis juga tak lupa digambarkan. yess berhasil, jujur hal pertama yang harus saya usahakan untuk ditanamkan, menarik, unik, dan menyenangkan, juga melukiskan senyum saya di sore ini. aghh saya tau kalian akan melukiskan cerita-cerita, dan akan selalu mengembangkan senyum di bibir saya setiap harinya. 

senyuman saya bertahan sebentar, menjelang sholat magrib, kelas yang sudah dikondisikan untuk sholat, awalnya berjalan kondusif, seiring dengan kultum yang disampaikan oleh masing-masing guru. namun saat warga mulai berdatangan ke mushollah untuk magrib berjama'ah. keributan tak dapat dikendalikan. hijab sebagai pembatas antara laki-laki dan perempuan, seolah-olah tidak ada. anak laki-laki sibuk mengganggu anak perempuan, rencana mereka jelas, membatalkan wudhu anak-anak perempuan, kejahilan yang terencana.dan alamat sudah berisik tak terhalangi. malu pada warga atas ketakmampuan mengontrol murid-murid, apalagi ada ketua RT disana, aghhhh monster-monster ini harus segera diurusi. kemarahan, mengumpat, tentulah bukan solusi, mereka akan tetap seperti ini, jadi bersabar, dan berwudhu adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan.

Melelahkan satu kata yang dapat saya keluarkan hari ini. tapi mengingat kelakuan monster-monster kecil itu, tak sadar saya tertawa lirih, senyum tak jelas. untung tak ada yang melihat. aghhh kalian memang akan selalu membuat saya tersenyum, bahkan mungkin nanti ketika saya tak ada disini lagi. kalian akan membuat tangan saya menari-nari di laptop ini, melukiskan dan menceritakan kelucuan, dan tingkah-tingkah kalian. oke saya tunggu apalagi yang akan kalian lakukan di hari sains besok, dan apa lagi yang akan saya ceritakan kepada dunia, tentang mimpi-mimpi kalian, kita bukan sang pemimpi monster-monster kecil, tapi
kita sang penyala. yang akan mengukir mimpi-mimpi kita menjadi nyata. (Jakarta, 08 April 2013)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar