Sendal Sang Raja
**Ideal itu bukanlah teori yang harus
dipaksakan, tapi Ideal itu adalah cerdas memahami situasi dan kondisi, dan
menjawab masalah dengan solusi**
Ada sebuah paradigma baru yang sulit untuk dirubah saat
ini, sistem merusak keidealisan seseorang. Kita ambil contoh seorang Mahasiswa
pada saat terjun ke masyarakat dan melepas almamaternya, Ia akan secara
otomatis juga melepaskan keidealisan. Berkoar mengganyang korupsi, tapi tak tau
nantinya juga melakukan korupsi. Mahasiswa keguruan mengkritik sistem
konvensional yang selama ini diterapkan oleh sebagian guru-guru kebanyakan,
namun saat ia terjun kelapangan, tak ayal ia pun jadi seperti itu, kaku,
konvensional dan membosankan. Teori tak selamanya indah saat kita melaksanakan
prakteknya, teori tak akan selamanya benar saat kita berada di lapangan.
Mahasiswa Idealis biasa, tapi pejabat idealis itu luar biasa.
Cerita keidealisan ini juga terjadi pada kami, pendiri di
KumNol, terutama saya sebagai ketua bagian akademik. Sepuluh buah buku terbaru,
yang berisi tentang pendidikan terkini, pengembangan karakter, dan
kebijakkan-kebijakkan sekolah modern, dalam satu bulan telah selesai saya baca,
demi KumNol yang berkarakter, cerdas dan menyenangkan. Teori-teori yang ada
dibuku telah saya coba rangkum dalam satu darft. Dan coba saya transferkan ke
para pengajar dan pendiri. Integritas, kecerdasan, posion, telah coba saya
kaitkan dalam akademik KumNol. Tiga minggu saya menyusun semua draft-draft itu,
malam, siang, pagi, tak kenal waktu. Lelah mungkin telah kelelahan mengejar
saya, suara musik yang mengalun di perut saya, hanyalah sekedar alunan
penyemangat untuk membuat keidealan dalam akademik. Skripsi saya coba
tinggalkan, walau saya belum bimbingan sekalipun, ini urgent, draft-draft ini
harus ideal, draft-draft ini harus sempurna, draft-draft ini harus mewakili
misi KumNol yang telah disusun. Intinya, totalitas, integritas, dan waktu telah
saya upayakan untuk menyusun sistem pembelajaran di KumNol ini seideal mungkin.
Karena harapan saya sistem yang saya buat di KumNol adalah sistem pembelajaran
untuk sekolah Al-khawarizmi yang sedang saya grand-design, di masa yang akan
datang.
Senyum saya mengembang ketika menyampaikan draft-draft
ini ke masyarakat. Saya anti terhadap intervensi, saya anti mengurangi
keidealan. Tapi kerja keras saya, yang saya harapkan terobati, tinggal cerita.
Dulu saya saat saya mentransferkan ide untuk mendirikan KumNol ini, setiap tim
Inti memahami dan mengerti apa yang saya maksudkan.
“kita bukan bimbel, tempat anak-anak untuk belajar,
apalagi tempat mengerjakan PR”
“kita bukan sekolah, yang membosankan, dan tidak
menyenangkan”
“kita adalah kumnol, tempat membentuk karakter Qur’ani,
tempat mencerdaskan, tempat yang menyenangkan”.
Tiga dasar Rumbel Al-khawarizmi, Berkarakter, Cerdas, dan
menyenagkan.
Seperti diawal saya ungkapkan teori tak selalamanya
indah. Semua draft-draft yang saya rancang harus dibuang 40 % nya, alasan anak
sebentar lagi ulangan, membuat kurikulum yang dibuat tim akademik harus disimpan
dan dikubur. Luar biasa, ingin rasanya menangis, tapi tak ada upaya saat itu.
Hanya berpikir, merenung, dan GALAU (God Always Listening Always
Understanding), Cuma itu yang saya rasakan saat itu. Oke, satu hal yang pasti
saya tidak boleh kalah. Saya susun kembali draft-draft itu, dan lahirlah sebuah
bulan untuk awal pembelajaran, yang saya buat menjadi sebuah motto “Dengan
Berta’aruf di Al-khawarizmi, Aku rajin belajar, dan menghajar eksak dengan
Jurus I ala 25 Nabi”. Ulangan fine, no problem. Tak mengurangi
idealnya bukan. 40 % yang hilang, kembali lagi, yepp, 100 % ideal.
Saat ingin dimulainya pembelajaran, rapat kembali, saya
sampaikan semua draft-draft yang sudah saya tata ulang. Muncul opini terbaru,
PR. Wah..wah.. apa ini? Bukankah di awal kita sepakat untuk tidak menjadikan
KumNol sebagai tempat mengerjakan PR? 50% berkurang keidealisannya. Bingung,
berpikir, dan GALAU (God Always Listening Always Understanding). Di 57, saat
pulang dari rapat, berdiri, duduk, saya berpikir, ini terlalu jauh dari konsep
awal. Lembaga ini memang butuh masyarakat, bahkan harus saling tolong-menolong
dengan masyarakat, tapi bukan berarti kita menjadi pelayan masyarakat yang
harus mendengarkan setiap kemauan masyarakat. Kita bukan komunitas seperti
produsen yang selalu mendengarkan konsumennya, demi lakunya barang dagangan.
Kita pengabdi bukan pelayan, kita mengabdi bukan melayani. Bimbel tempat
mengerjakan PR wajar, karena memang itulah kebanyakan yang diinginkan oleh
masyarakat, dan mereka tidak dapat menolak itu, karena arah Bimbel jelas,
bisnis, butuh siswa untuk menjalankan itu semua.
Berpikir lagi, bagaimana caranya agar KumNol tetap
diterima, tapi juga tidak merubah konsep awal yang saya bangun. Bengkel KumNol,
adalah solusi yang Saya tawarkan, ini tempat anak-anak mengerjakan PR mereka,
hanya dilakukan pada saat jam istirahat, dan dipegang oleh satu tutor, dengan
syarat PR, harus disesuaikan dengan hari saat mengerjakan PR. PR matematika
hanya dibawa saat hari matematika, dan PR Sains hanya dibawa pada saat hari
Sains. Tak ada tawar-menawar lagi, semua sepakat. 50 % yang hilang, kembali
lagi, 100%.
KumNol memulai proses belajar-mengajar. Lega, dan
Bahagia. Tak ada intervensi lagi saya kira. Bukankah saya sudah menjawab setiap
permintaan masyarakat? Namun perkiraan saya salah, ada ketidak stabilan dan
tidak sesuai dengan rencana awal, ketika proses pembelajaran pertamakali
terjadi, dan itu wajar, tak ada yang sempurna sebuah kegiatan, ketika perdana
kali dilakukan. Namun itu sudah memunculkan stigma dan opini, aghh layaknya
komentator bola, banyak bicara, tapi mereka sebenarnya tak tau bermain bola,
atau komentator F1, yang berteriak seharusnya J.Button tidak menyalip dari arah
kiri, karena terlalu sempit. “Woyy, mang lo bisa apa?, naikkin
kendaraan yang super cepat itu, dengan suara mesin yang memekakkan telinga”.
Tapi memang sudah menjadi budaya kita untuk banyak bicara, dan sedikit bekerja.
NATO (Nothing Action Talk Only). Oke, mari membuat saya berpikir kembali,
apa lagi yang diharapkan di KumNol ini? ternyata jam belajar yang harus
dikurangi, itu kira-kira permintaan mereka. Allah hurobbi, GALAU (God Always
Listening Always Understanding), itu yang harus saya dahulukan. Pembelajaran
di KumNol dimulai sejak, jam 15.00-19.00; tujuan saya jelas, saya ingin KumNol
menjadi pengontrol tertib ibadah anak-anak, ada tiga jam sholat yang akan dilakukan
berjama’ah di KumNol oleh anak-anak, dan KumNol memang membutuhkan waktu
seperti itu untuk menjalankan semua misi yang sudah dibuat. Pada saat
permintaan itu terlontar, dan anak-anak dipulangkan lebih awal, saya tau ini
akan, dan harus dipenuhi oleh KumNol, karena yang meminta adalah ketua RT dan
Imam Mushollah, dimana Rumah KumNol berada. 57, jadi tempat saya berpikir,
menimbang, dan lelah. Saya biarkan diri saya, terlelap sampai di jalan baru,
berusaha untuk melupakan, tapi saya tau, saya harus menemukan solusi. Saya
habiskan waktu, untuk mengingat apa yang dikerjakan anak-anak tadi, dan membuat
saya sedikit tersenyum, walau otak saya terus berpikir untuk mempertahankan jam
belajar itu. Dan esok paginya, hp saya berbunyi, pertanda sms masuk, dan isinya
untuk mengadakan rapat, lemas saya, karena saya belum menemukan solusi dan
alasan yang kuat untuk mempertahankan jam itu. Ditambah lagi, hari ini,
pengajar sudah memutuskan, proses belajar di KumNol, diputuskan cukup sampai
jam 17.00. GALAU (God Always Listening Always Understanding), dan
rasanya ingin menangis, dan menyerah, sempat terbesit, saya mundur dari
perjuangan di KumNol, lelah, benar-benar lelah, saya tidak tau apa lagi yang
harus saya lakukan, walaupun Saya yakin, Ide yang saya buat itu yang terbaik,
namun Saya belum menemukan alasan yang benar-benar tak terbantahkan. Apalagi,
ada kata-kata ini demi keberlangsungan KumNol. Lelah, saya benar-benar lelah,
saya berusaha untuk bersembunyi disudut gelap, seolah-olah tidak memikirkan, menghabiskan
waktu saya dengan menulis di Blog Kumnol, lalu mengajar di Syahid. Belum tiba
di syahid, tepat di persimpangan, di bawah patung pancoran, di dalam KOPAJA 62,
darah keluar dari hidung saya, saya mimisan, dan mimisan ini keluar biasanya,
bersamaan dengan lelahnya tubuh saya. Saya tidak membawa tisu, Saya sentuh
pundak ibu-ibu yang duduk di depan dengan tangan kiri saya, karena tangan saya
sudah penuh dengan darah, dan minta tisu, dia kaget, melihat darah yang banyak
sekali keluar. Dan saya membuat penumpang 62 panik, 3 pak tisu habis, untuk
mengelap darah yang keluar, ada yang menyarankan untuk kedoketer, ada yang
menyarankan untuk membatalkan saum saya, saya hanya tersenyum dan berpura-pura
kuat untuk meyakinkan mereka, saya tidak apa-apa, dan saya juga sebentar lagi
turun. Lelah, saya kelelahan. Pulangpun, di s-15 darah keluar lagi dari hidung
saya, walau tak sebanyak tadi. Saya harus berhenti berpikir, saya harus menstop
semua kegiatan saya di KumNol untuk sementara waktu, jika tidak, tak hanya
KumNol yang bisa saya tinggalkan lama, tapi juga kuliah saya. Mimisan ini,
biasanya bertanda saya kelelahan, dan harus mengistrahatkan diri.
Tiba dikosan saya membersihkan diri, dan sholat isa. Dan
selesai isa, saya menemukan ide bagaimana menyelesaikan permasalahan di KumNol,
dan menjawab permintaan dari masyarakat. Tak jadi masalah waktu sampai 17.00,
saya rombak kembali draft-draft saya, dan finall semua terselesaikan tepat jam
00.00. lega, dan rasa lelah saya hilang, dan saya tidur dengan nyenyak hari
ini.
Saat mendirikan KumNol, saya sudah tau akan ada banyak
sekali masalah yang bermunculan. Tapi saya yakin masalah-masalah itu hanyalah
ujian agar KumNol menjadi besar dan kuat. Bukan merutuki diri, karena KumNol
adalah sang penyala, yang harus menebarkan cahaya. Jika saya memaksakan
keidealan pada saat menyusun sistem pembelajaran, maka tak ada lagi yang
namanya KumNol akan hidup. seperti kata bu Inung, ini untuk keberlangsungan
KumNol. Jika saya tetap pada keidealisan saya, pilihannya Cuma dua ditinggalkan
oleh masyarakat dan KumNol hanya akan menjadi cerita. Dan saya tidak akan
pernah membiarkan hal itu terjadi.
Allah memberikan kita dua telinga dan satu lidah, agar
kita lebih banya mendengar dari pada berbicara. Konon dulu seorang raja pernah
berkeliling Negeri, untuk melihat keadaan rakyatnya, Ia memutuskan untuk
berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka
karena terantuk batu. Ia berpikir “ternyata jalan-jalan di Negeriku ini jelek
sekali. Aku harus memperbaikinya”.
Raja, lalu memanggil seluruh menteri Istana, ia
memerintahkan untuk melapisi seluruh, jalan-jalan di Negerinya dengan kulit
sapi yang terbaik. Segera saja para menteri di istana mempersiapkan segala
sesuatunya. Mereka mengumpulkan seluruh sapinya di seluruh Negeri.
Ditengah-tengah kesibukkan yang luar biasa itu. Datanglah
seorang pertapa menghadap raja, ia berkata kepada pada raja. “Wahai paduka,
mengapa paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan
Negeri ini. Padahal sesungguhnya, yang paduka perlukan hanyalah dua potong
kulit sapi, untuk melapisi kedua kaki paduka”. Konon, sejak itulah, dunia
menemukan kulit pelapis telapak kaki, yang kita sebut “sendal”.
Yahh, tak perlu merubah Negeri dengan menetapkan 100%
keidealan, menyadari Negeri ini sedang terpuruk, dan butuh pertolongan, benar,
membuat sistem seIdeal mungkin, benar, namun menetapkan 100% keidealisan tanpa
melihat kondisi masyarakat, salah. 80%, 75 % sesungguhnya sudah merupakan
pilihan terbaik, tak 100%, 75 % pun jadi, dari pada tidak sama sekali. Sang
Penyala itu bukanlah, yang memaksakan satu sumber minyak sebagai penebar
cahaya, tapi menggunakan banyak sumber minyak dari yang disediakan. Masalah
adalah jalan untuk mencentak sejarah, jalan untuk membesarkan diri, kalaupun
gagal, alhamdulillah. Berarti kita harus banyak belajar, dan terus
belajar. Karena kegagalan adalah anugrah, yang akan menuju kesuksesan yang full
barakah. (Jakarta, 9 April 2013)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar