Nol Enam Nol Empat
Duaributigabelas
Tuhan selalu menitipkan kisah-kisah Indah setiap harinya,
perbedaan seniman kehidupan dengan manusia biasa adalah seniman menuliskan
kisah-kisah indah itu, dan dimaknai, dirasai oleh banyak orang, sementara yang
lain hanya menyimpan-nya
“gimana kak, mau nggak ngajar anak-anak
dikomunitas nol?”
“iya, insyaallah”
“iya, insyaallah”
satu tawaran dari seorang sahabat mengajakku
ikut berjuang sedikit “meluangkan waktu”.
Meluangkan
waktu?
Saya bukan orang yang sibuk dengan hari-hari sehingga bukan
meluangkan waktu, jadi lebih tepatnya menyisihkan waktu untuk orang lain.
Hari
sabtu yang terik mengajakku melangkahkan sepasang kaki menuju suatu
perkampungan yang sedikitpun tak pernah terbayang, penat dan panasnya ibukota
serasa semakin bersahabat siang itu,dengan segenap angan-angan aku mengikuti
langkah bus metromini, tas lusuh dipunggung dan kemeja hitam yang menemani hari
pertamaku. Hari pertama? Iya, ini hari pertamaku menerima tawaran mengejar
anak- anak,sebenarnya ini hari bukan mengajar tapi lebih tepatnya acara
lounching komunitas nol yang katanya sudah diniatkan berkali-kali.
Gang
amal semakin membuatku grogi ketika bus metromini berhenti didepanya,berjalan
kita mengikuti lorong perkampungan,terhenti langah disalah satu danau tertragis
bahkan lebih dari sekedar tragis yang pernah mampir di memori otakku,duduk aku
ditepi danau,hamparan air yang semakin menguning mampu menyihirku meludah
disetiap lima detiknya,harum semerbak khas sampah tergenang yang semakin
mengorek bulu hidung mampu menahanku ditepinya lebih lama. Bergaya pengamat
nomer wahid dengan sekotak teh sosro ditangan, lama aku memandangi danau serta
kesibukan warga diatasnya, memandangi dan melamunkan betapa indahnya kesabaran
mereka meniti hidup serta lihainya mereka menata strategi penangkal gelisah ternyata
membutuhkan waktu yang tidak sedikit, hingga ekspedisi fikiranku diganggu oleh
seoarang bapak ramah yang menyapaku ketika hendak mengambil air disumur pompa
yang terendam sampah air.
“mas..” sambil menunduk melempar senyum dan ember
kusam ditangan.
“njih pak” mendadak ritme jawaku mendahului kata.
“njih pak” mendadak ritme jawaku mendahului kata.
Handuk pudar yang semakin bosan menempel
dipeganginya erat diperut buncitnya,terlihat bapak ramah tersebut semakin khusyuk
dengan pompa airnya. Aku,dengan perasaan trenyuh tak terasa kepala
bergeleng-geleng merasakan pahitnya hidup.. L
“kak,naik kak”
suara tak asing memanggil mengajakku masuk ke musolla.
“ada ikhwanya nggak?”
“nggak ada,tp akhwat pada makan di ujung sana”
“waduh...ane diluar dulu ja”
“nggak ada,tp akhwat pada makan di ujung sana”
“waduh...ane diluar dulu ja”
karena
memang saya pemalu ya saya milih duduk menyendiri dari mereka J, berdiri ditepi teras musolla dengan masih memandangi indahnya
danau dan bungkus botol teh ditangan sembari menunggu para ikhwan-ikhwan
datang,sampai akhirnya mereka benar-benar datang, pak manar, pak pandu serta
pak diki (pak? Iya,untuk penghormatan aja).
Sebelum
acara lounching dilaksanakan disana ada sedikit rapat dan pengarahan dari
presiden dan mentri-mentri komunitas nol. Sebelum acara louncing dilaksanakan
bapak RT ternyata lebih awal mendatangi kami dan melontarkan banyak
kritikan,kritikan yang berpangkal tentang “memanusiakan manusia”, Sebelum acara
lounching dilaksanakan kami mulai kenyang oleh kritikan hangat dari pak RT.
Sangat
aneh sebenarnya ketika komunitas nol lupa dengan petinggi-petinggi kampung,tapi
mungkin ini akan menjadi pengalaman indah buat awal melangkah. Sangat simple
tapi dampaknya sampai pak RT mengulang-ulang masalah ini.
Petinggi
kampung serta Para ibu dan anak mulai berdatangan,panitia sibuk mencari keramahan,
sedangkan saya hanya duduk memandangi kesibukan mereka, setelah berkumpul
acarapun dimulai.
Hal yang
menegangkan adalah diminta ambil tumpeng yang sangat berat, berat membuat saya
takut tergelincir dan takut tergelincir membuat saya grogi tapi hamdanlillah
semua berjalan normal meski pak diki sempat tanya “berat ya kog kringat sampai
bercucuran?”
Setelah
lounching yang tergolong sukses diadakan evaluasi yang sangat
membosankan,detik-detik evaluasi yang sangat lama membuat semua organ tubuh
menjadi kacau.hujan diluar semakin memperburuk keadaanku, semakin memperlama
usainya evaliasi, semakin menjadikan ibukota bertambah suram.
“mari kita tutup dengan do’a kaffaratul majlis”
Alhamdulillah,Sampai
waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, kami segera berkemas-kemas mengembalikan
keadaan seperti sedia kala, dari karpet sampah-sampah plastik jendela sampai
yang terakhir lampu dan menutup pintu. Lalu,sambutan sangat hangat dari sang
banjir membuatku mendengus kesal yang ternyata tinggi banjir menggenangi betis,
dengan susah payah usaha melewati banjir pun terlewatkan.
“mas,tolong ambilin payung saya” bu inung
meminta tolong
“yang gimana bu?”
“yang panjang itu,dipojok teras..”
“yang gimana bu?”
“yang panjang itu,dipojok teras..”
“oke bu,siap laksanakan”
Berbalik arah dan ternyata saya harus lagi bergelut dengan
tingginya banjir, sekejab kupaksa fikiran dari membayangkan tragisnya air
sampah,naik ke musolla dan ternyata nihil,kosong dan kembali dengan hampanya
tangan..
“gak ada bu..” L
“gak ada?”
“iya..”
“gak ada?”
“iya..”
21.30
sampai dikos.meski melelahkan 06042013 mengagumkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar