Jumat, 19 April 2013

Nol Enam Nol Empat Duaributigabelas


Nol Enam Nol Empat Duaributigabelas

 
Tuhan selalu menitipkan kisah-kisah Indah setiap harinya, perbedaan seniman kehidupan dengan manusia biasa adalah seniman menuliskan kisah-kisah indah itu, dan dimaknai, dirasai oleh banyak orang, sementara yang lain hanya menyimpan-nya

“gimana kak, mau nggak ngajar anak-anak dikomunitas nol?”
“iya, insyaallah”
satu tawaran dari seorang sahabat mengajakku ikut berjuang sedikit “meluangkan waktu”.
Meluangkan waktu?
Saya bukan orang yang sibuk dengan hari-hari sehingga bukan meluangkan waktu, jadi lebih tepatnya menyisihkan waktu untuk orang lain.

Hari sabtu yang terik mengajakku melangkahkan sepasang kaki menuju suatu perkampungan yang sedikitpun tak pernah terbayang, penat dan panasnya ibukota serasa semakin bersahabat siang itu,dengan segenap angan-angan aku mengikuti langkah bus metromini, tas lusuh dipunggung dan kemeja hitam yang menemani hari pertamaku. Hari pertama? Iya, ini hari pertamaku menerima tawaran mengejar anak- anak,sebenarnya ini hari bukan mengajar tapi lebih tepatnya acara lounching komunitas nol yang katanya sudah diniatkan berkali-kali.
Gang amal semakin membuatku grogi ketika bus metromini berhenti didepanya,berjalan kita mengikuti lorong perkampungan,terhenti langah disalah satu danau tertragis bahkan lebih dari sekedar tragis yang pernah mampir di memori otakku,duduk aku ditepi danau,hamparan air yang semakin menguning mampu menyihirku meludah disetiap lima detiknya,harum semerbak khas sampah tergenang yang semakin mengorek bulu hidung mampu menahanku ditepinya lebih lama. Bergaya pengamat nomer wahid dengan sekotak teh sosro ditangan, lama aku memandangi danau serta kesibukan warga diatasnya, memandangi dan melamunkan betapa indahnya kesabaran mereka meniti hidup serta lihainya mereka menata strategi penangkal gelisah ternyata membutuhkan waktu yang tidak sedikit, hingga ekspedisi fikiranku diganggu oleh seoarang bapak ramah yang menyapaku ketika hendak mengambil air disumur pompa yang terendam sampah air.
“mas..”  sambil menunduk melempar senyum dan ember kusam ditangan.
“njih pak”  mendadak ritme jawaku mendahului kata.
Handuk pudar yang semakin bosan menempel dipeganginya erat diperut buncitnya,terlihat bapak ramah tersebut semakin khusyuk dengan pompa airnya. Aku,dengan perasaan trenyuh tak terasa kepala bergeleng-geleng merasakan pahitnya hidup.. L
“kak,naik kak”  suara tak asing memanggil mengajakku masuk ke musolla.
“ada ikhwanya nggak?”
“nggak ada,tp akhwat pada makan di ujung sana”
“waduh...ane diluar dulu ja”
karena memang saya pemalu ya saya milih duduk menyendiri dari mereka J, berdiri ditepi teras musolla dengan masih memandangi indahnya danau dan bungkus botol teh ditangan sembari menunggu para ikhwan-ikhwan datang,sampai akhirnya mereka benar-benar datang, pak manar, pak pandu serta pak diki (pak? Iya,untuk penghormatan aja).
Sebelum acara lounching dilaksanakan disana ada sedikit rapat dan pengarahan dari presiden dan mentri-mentri komunitas nol. Sebelum acara louncing dilaksanakan bapak RT ternyata lebih awal mendatangi kami dan melontarkan banyak kritikan,kritikan yang berpangkal tentang “memanusiakan manusia”, Sebelum acara lounching dilaksanakan kami mulai kenyang oleh kritikan hangat dari pak RT.
Sangat aneh sebenarnya ketika komunitas nol lupa dengan petinggi-petinggi kampung,tapi mungkin ini akan menjadi pengalaman indah buat awal melangkah. Sangat simple tapi dampaknya sampai pak RT mengulang-ulang masalah ini.
Petinggi kampung serta Para ibu dan anak mulai berdatangan,panitia sibuk mencari keramahan, sedangkan saya hanya duduk memandangi kesibukan mereka, setelah berkumpul acarapun dimulai.
Hal yang menegangkan adalah diminta ambil tumpeng yang sangat berat, berat membuat saya takut tergelincir dan takut tergelincir membuat saya grogi tapi hamdanlillah semua berjalan normal meski pak diki sempat tanya “berat ya kog kringat sampai bercucuran?”
Setelah lounching yang tergolong sukses diadakan evaluasi yang sangat membosankan,detik-detik evaluasi yang sangat lama membuat semua organ tubuh menjadi kacau.hujan diluar semakin memperburuk keadaanku, semakin memperlama usainya evaliasi, semakin menjadikan ibukota bertambah suram.
“mari kita tutup dengan do’a kaffaratul majlis”
Alhamdulillah,Sampai waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, kami segera berkemas-kemas mengembalikan keadaan seperti sedia kala, dari karpet sampah-sampah plastik jendela sampai yang terakhir lampu dan menutup pintu. Lalu,sambutan sangat hangat dari sang banjir membuatku mendengus kesal yang ternyata tinggi banjir menggenangi betis, dengan susah payah usaha melewati banjir pun terlewatkan.
“mas,tolong ambilin payung saya” bu inung meminta tolong
“yang gimana bu?”
“yang panjang itu,dipojok teras..”
“oke bu,siap laksanakan”

Berbalik arah dan ternyata saya harus lagi bergelut dengan tingginya banjir, sekejab kupaksa fikiran dari membayangkan tragisnya air sampah,naik ke musolla dan ternyata nihil,kosong dan kembali dengan hampanya tangan..
“gak ada bu..” L
“gak ada?”
“iya..”

21.30 sampai dikos.meski melelahkan 06042013 mengagumkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar