***Sebuah Catatan di Tengah Keterpurukkan***
Saya selalu meyakini bahwa Tuhan tidak pernah
menyiptakan kegelapan, jika tanpa cahaya. Tuhan juga tidak akan pernah
menyiptakan kebathilan, melainkan Tuhan juga menyiptakan orang-orang yang akan
mengalahkan kebathilan itu. Dan yang pasti Tuhan menyiptakan segala sesuatu di
bumi ini dengan keseimbangan, dengan saling berlawanan. Laki-laki dengan
perempuan, tinggi dengan pendek, rupawan dengan buruk rupa dan kegelapan dengan
cahaya.
Kegelapan-kegelapan, hanyalah sebagai tanda
ujian kesyukuran manusia akan nikmat cahaya yang Ia berikan. Kegelapan ada
untuk menampakkan keindahan dari cahaya-cahaya yang diserakkan. Kegelapan hanya
akan menjadi tantangan bagi setiap insan untuk menyalakan, dan menebarkan
cahaya-cahaya itu.
Ketika Indonesia dipenuhi oleh kegelapan
dimana-mana, namun yakinlah ada cahaya untuk menyinari kegelapan itu. Indonesia
dipenuhi oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, orang-orang yang hidup
dalam kemunafikkan, orang-orang yang tak peduli pada kesesamaan, orang-orang
yang tidak lagi menghiraukan halal dan haram. Gelap tanpa cahaya, berjalan tak
tentu arah, berputar kembali ketempat semula, itulah kondisi Negeri yang seharusnya
bertaburan cahaya.
Namun apakah julukkan Negeri seribu cahaya,
hanyalah bualan yang didongengkan ketika kita kecil, sebagai pengantar lelap?
Hari ini Saya menemukan cahaya-cahaya itu, sang penyala. Hari ini Saya
menikmati keindahan cahaya-cahaya ketika nyaris menjadi buta karena kegelapan.
Tak ada kutemui orang-orang yang mematikan cahaya, atau orang-orang yang nyaman
dengan kegelapan, atau orang-orang yang merutuki kegelapan. Yang ada adalah
sang penyala. Yang tak pernah lelah menebarkan cahaya-cahaya.
Mereka adalah orang-orang yang bekerja bukan
untuk dirinya. Mereka adalah orang-orang yang mengeluarkan keringatnya untuk
dijadikan minyak sebagai penerangan. Mereka adalah orang-orang yang
mengorbankan tangannya terbakar demi menebarkan cahaya.
Temu Guru Nasional, acara yang dibuat oleh
Sekolah Guru Indonesia inilah, tempat Saya melihat cahaya-cahaya yang dibawa
oleh sang penyala. Orang-orang yang peduli akan pendidikan, yang tak pernah
melihat keuntungan dan kerugian dari setiap apa yang dikerjakan. Orang-orang
yang mengabdi tanpa pernah berharap mereka akan memiliki arti dan pujian
sebagai pahlawan sejati. Merekalah sang penyala pembawa cahaya di Negeri seribu
cahaya.
Qiswanti, nama yang sederhana, sesederhana
saat pertamakali Saya melihatnya. Tak pernah terpikirkan, bahwa Saya sedang
bertemu dengan sang penyala. Usianya sudah tak muda lagi, tapi arti kehidupan
dan semangat perjuangan tak kalah dengan pemuda-pemuda. Hanya sekedar basa-basi
ketika Saya menegur beliau saat acara itu. Hingga kini, Saya tak pernah
menyesal akan percakapan awal yang kumulai. Tak pernah kubayangkan dia sendiri
membangun sebuah komunitas yang berjuang bagi pendidikan yang lebih baik, Warabal
itulah nama komunitasnya. Selama 7 tahun, perjuang itu dilaluinya, terkadang
nyaris mematikan, nyaris membuat ia menyerah, tapi Tuhan menghendaki ia menjadi
sang penyala. Saat ini Warabal telah menjadi komunitas, yang menjadi pusat
kegiatan yang luar biasa, yang mengajarkan arti-arti kepada setiap orang yang
mengenal komunitas ini, untuk jangan pernah berputus asa, atau menyerah pada
kegelapan.
Sang penyala lainnya adalah Ibu Atun, seorang
lulusan Hubungan Internasional, yang dulunya bermimpi menjadi seorang duta
besar. Tapi mengubur mimpi-mimpi itu karena kepedulian terhadap pendidikan di
daerahnya. Berjuang sendiri membangun sebuah sekolah yang layak bagi
orang-orang yang membutuhkan. Sang penyala, dan saat ini cahaya yang dinyalakan
menebar di daerah Serang. Benar-benar sang penyala. Jika saat ini orang malu
untuk menjadi Guru, tapi dia memutuskan untuk menjadi Guru, karena malu harus
diubah menjadi kebanggan itu prinsip hidupnya. Beliau adalah guru sejati, sang
penyala sejati, yang tak pernah henti menebar cahaya di bumi Negeri seribu
cahaya.
Sang penyala-penyala inilah, yang menularkan
semangat perjuangan yang terkadang nyaris padam karena serbuan angin. Mereka
semakin memantapkan hati ini untuk terus berjuang. Menebarkan cahaya di tempat
yang lainnya. Membuat Saya terhenyak bahwa faktanya Negeri ini dipenuhi oleh
sang penyala. Membuat Saya kagum akan kebesaran dan keindahan cahaya yang
diciptakan Tuhan untuk Negeri seribu cahaya. Merutuki kegelapan bukanlah
pilihan yang bijaksana, karena jika Tuhan menciptakan kegelapan, maka Tuhan
juga menciptakan cahaya untuk menerangi kegelapan.
*Jakarta, 04-April-2013

Sebenarnya komunitas nol ini apa ya? Di info kok nggak ada.
BalasHapuskomunitas nol ini adalah komunitas yang peduli akan pendidikan anak-anak yang tidak mampu, mendirikan rumah belajar al-khawarizmi di tempat-tempat kumuh ubntuk jakarta, ini komunitas baru, butuh banyak dukungan dan anggota untuk membesarkan komunitas ini, tempat yang digunakan untuk Rumbel adalah musholah atau masjid2 yang hanya memiliki fungsi sbg tempat sholat atw yang tidak berfungsi sama sekali, dengan harapan masjid tidak hanya merupakan tempat ibadah tapi seperti masa kejayaan islam terdahulu, masjid adalah pusat segala kegiatan, masjid adalah peradaban, layaknya nabawi yang tetap indah walau disekelilingnya adalah pasar, atau di dalamnya dipenuhi oleh kajian-kajian di setiap pojok-pojok ruangan
BalasHapusCOME JOIN WITH US :)
pasang di info donk...^_^
HapusO, begitu...
BalasHapusSemoga komunitas ini tetap istiqamah berdiri dan bersabar jika ada ujian yang datang :-).
Dan semoga Allah membalas amal kebaikan kepada siapa saja yang turut peduli dan mendukung komunitas ini untuk tetap ada dan berkembang.
Mungkin untuk sekarang saya baru bisa membantu dengan doa.