Senin, 08 April 2013

Sang Penyala di Negeri Seribu Cahaya


 ***Sebuah Catatan di Tengah Keterpurukkan***


Saya selalu meyakini bahwa Tuhan tidak pernah menyiptakan kegelapan, jika tanpa cahaya. Tuhan juga tidak akan pernah menyiptakan kebathilan, melainkan Tuhan juga menyiptakan orang-orang yang akan mengalahkan kebathilan itu. Dan yang pasti Tuhan menyiptakan segala sesuatu di bumi ini dengan keseimbangan, dengan saling berlawanan. Laki-laki dengan perempuan, tinggi dengan pendek, rupawan dengan buruk rupa dan kegelapan dengan cahaya.
Kegelapan-kegelapan, hanyalah sebagai tanda ujian kesyukuran manusia akan nikmat cahaya yang Ia berikan. Kegelapan ada untuk menampakkan keindahan dari cahaya-cahaya yang diserakkan. Kegelapan hanya akan menjadi tantangan bagi setiap insan untuk menyalakan, dan menebarkan cahaya-cahaya itu.
Ketika Indonesia dipenuhi oleh kegelapan dimana-mana, namun yakinlah ada cahaya untuk menyinari kegelapan itu. Indonesia dipenuhi oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, orang-orang yang hidup dalam kemunafikkan, orang-orang yang tak peduli pada kesesamaan, orang-orang yang tidak lagi menghiraukan halal dan haram. Gelap tanpa cahaya, berjalan tak tentu arah, berputar kembali ketempat semula, itulah kondisi Negeri yang seharusnya bertaburan cahaya.
Namun apakah julukkan Negeri seribu cahaya, hanyalah bualan yang didongengkan ketika kita kecil, sebagai pengantar lelap? Hari ini Saya menemukan cahaya-cahaya itu, sang penyala. Hari ini Saya menikmati keindahan cahaya-cahaya ketika nyaris menjadi buta karena kegelapan. Tak ada kutemui orang-orang yang mematikan cahaya, atau orang-orang yang nyaman dengan kegelapan, atau orang-orang yang merutuki kegelapan. Yang ada adalah sang penyala. Yang tak pernah lelah menebarkan cahaya-cahaya.
Mereka adalah orang-orang yang bekerja bukan untuk dirinya. Mereka adalah orang-orang yang mengeluarkan keringatnya untuk dijadikan minyak sebagai penerangan. Mereka adalah orang-orang yang mengorbankan tangannya terbakar demi menebarkan cahaya.
Temu Guru Nasional, acara yang dibuat oleh Sekolah Guru Indonesia inilah, tempat Saya melihat cahaya-cahaya yang dibawa oleh sang penyala. Orang-orang yang peduli akan pendidikan, yang tak pernah melihat keuntungan dan kerugian dari setiap apa yang dikerjakan. Orang-orang yang mengabdi tanpa pernah berharap mereka akan memiliki arti dan pujian sebagai pahlawan sejati. Merekalah sang penyala pembawa cahaya di Negeri seribu cahaya.
Qiswanti, nama yang sederhana, sesederhana saat pertamakali Saya melihatnya. Tak pernah terpikirkan, bahwa Saya sedang bertemu dengan sang penyala. Usianya sudah tak muda lagi, tapi arti kehidupan dan semangat perjuangan tak kalah dengan pemuda-pemuda. Hanya sekedar basa-basi ketika Saya menegur beliau saat acara itu. Hingga kini, Saya tak pernah menyesal akan percakapan awal yang kumulai. Tak pernah kubayangkan dia sendiri membangun sebuah komunitas yang berjuang bagi pendidikan yang lebih baik, Warabal itulah nama komunitasnya. Selama 7 tahun, perjuang itu dilaluinya, terkadang nyaris mematikan, nyaris membuat ia menyerah, tapi Tuhan menghendaki ia menjadi sang penyala. Saat ini Warabal telah menjadi komunitas, yang menjadi pusat kegiatan yang luar biasa, yang mengajarkan arti-arti kepada setiap orang yang mengenal komunitas ini, untuk jangan pernah berputus asa, atau menyerah pada kegelapan.
Sang penyala lainnya adalah Ibu Atun, seorang lulusan Hubungan Internasional, yang dulunya bermimpi menjadi seorang duta besar. Tapi mengubur mimpi-mimpi itu karena kepedulian terhadap pendidikan di daerahnya. Berjuang sendiri membangun sebuah sekolah yang layak bagi orang-orang yang membutuhkan. Sang penyala, dan saat ini cahaya yang dinyalakan menebar di daerah Serang. Benar-benar sang penyala. Jika saat ini orang malu untuk menjadi Guru, tapi dia memutuskan untuk menjadi Guru, karena malu harus diubah menjadi kebanggan itu prinsip hidupnya. Beliau adalah guru sejati, sang penyala sejati, yang tak pernah henti menebar cahaya di bumi Negeri seribu cahaya.
Sang penyala-penyala inilah, yang menularkan semangat perjuangan yang terkadang nyaris padam karena serbuan angin. Mereka semakin memantapkan hati ini untuk terus berjuang. Menebarkan cahaya di tempat yang lainnya. Membuat Saya terhenyak bahwa faktanya Negeri ini dipenuhi oleh sang penyala. Membuat Saya kagum akan kebesaran dan keindahan cahaya yang diciptakan Tuhan untuk Negeri seribu cahaya. Merutuki kegelapan bukanlah pilihan yang bijaksana, karena jika Tuhan menciptakan kegelapan, maka Tuhan juga menciptakan cahaya untuk menerangi kegelapan.
*Jakarta, 04-April-2013

4 komentar:

  1. Sebenarnya komunitas nol ini apa ya? Di info kok nggak ada.

    BalasHapus
  2. komunitas nol ini adalah komunitas yang peduli akan pendidikan anak-anak yang tidak mampu, mendirikan rumah belajar al-khawarizmi di tempat-tempat kumuh ubntuk jakarta, ini komunitas baru, butuh banyak dukungan dan anggota untuk membesarkan komunitas ini, tempat yang digunakan untuk Rumbel adalah musholah atau masjid2 yang hanya memiliki fungsi sbg tempat sholat atw yang tidak berfungsi sama sekali, dengan harapan masjid tidak hanya merupakan tempat ibadah tapi seperti masa kejayaan islam terdahulu, masjid adalah pusat segala kegiatan, masjid adalah peradaban, layaknya nabawi yang tetap indah walau disekelilingnya adalah pasar, atau di dalamnya dipenuhi oleh kajian-kajian di setiap pojok-pojok ruangan

    COME JOIN WITH US :)

    BalasHapus
  3. O, begitu...

    Semoga komunitas ini tetap istiqamah berdiri dan bersabar jika ada ujian yang datang :-).
    Dan semoga Allah membalas amal kebaikan kepada siapa saja yang turut peduli dan mendukung komunitas ini untuk tetap ada dan berkembang.

    Mungkin untuk sekarang saya baru bisa membantu dengan doa.

    BalasHapus