**Setiap orang akan dikatakan Pejuang jika perjuangan itu mudah, namun karena sulitnyalah hanya sedikit orang-orang yang terpilih menjadi pejuang**
Hujan perlahan mencurahkan titipan rahmat dari Tuhan. Dan perlahan juga air mulai menggenangi bagian bawah Rumah Kumnol, karena posisi rumah ini memang berada pada bibir kali. Agak aneh memang jika melihat Rumah KumNol ini bentuknya anjungan seperti perumahan orang-orang Melayu. Namun jika melihat kondisi Rumah Kumnol saat hujan, orang-orang akan sangat mengerti mengapa rumah ini dibangun seperti anjungan.
Hari ini peresmian rumah Kumnol, yang
diresmikan oleh Bapak RW setempat. Ada kelegeaan, keharuan di dada pendiri
Rumah Kumnol, perjuangan di awal tahun 2013, kini telah memasuki lembaran baru.
Yang berarti lika-liku perjuangan akan di mulai.
Tawa anak-anak sore ini, semakin menguatkan
azam para pengajar dan pendiri KumNol untuk membuat KumNol Mumtaz ini menjadi
besar. Dukungan dan rasa hormat serta kepercayaan dari orang tua wali murid
yang mendaftarkan anaknya di rumah Kumnol mumtaz, menambah senyum lebar dari
para pendiri dan pengajar. Tekad untuk terus memperbaiki diri, membenahi diri,
terus belajar, tak kalah oleh lelah, makin berkobar, memupuskan kepesimisan
yang beberapa bulan ini menghampiri. Rintangan-rintang yang selama ini seolah-olah
menjadi kendala, terlihat hanyalah kerikil yang mudah untuk disingkirkan.
Di hari pertama pembukaan Rumah Kumnol, ada
cerita menarik, ketika tim pengajar dan pendiri ingin pulang kerumah. Hujan
memang sudah berhenti, tapi masih menyisakan genangan di bawah Rumah
al-khawarizmi, turun tangga lepas sepatu dan berjalan di tengah kubangan air
yang berwarna kecoklatan, yang menandakan buruknya kualitas air tersebut, belum
lagi sampah-sampah beretebaran dimana-mana. Dan yang terparah masyarakat
sekitar Rumah Kumnol, terbiasa membuang hajat langsung ke sungai. Tapi inilah
arti sebuah perjuangan, yang tak akan terhenti walau sepatu dan air setengah
lutut akan dihadapi setiap harinya. Tak jadi masalah demi mengabdi pada Negeri
ini. Demi melepaskan tanggung jawab atas amanah ilmu yang dititipkan. Demi
mengusap peluh perjuangan para pahlawan. Demi senyum-senyum kecil, yang
malu-malu menampakkan muka. Demi cita-cita anak-anak yang melambung tinggi menembus
cakrawala.
Tak akan terhenti walau sapatu dijinjing dan
air setengah lutut, mengiringi langkah perjuangan ini. Demi mimpi anak pemulung
untuk menjadi presiden Negeri ini, demi mimpi anak tukang cuci, untuk menjadi
pembuat Pesawat terbang yang akan membawa jama’ah haji menemui Rumah Allah.
Demi mimpi anak negeri, yang akan menjadi dokter bagi orang-orang miskin yang
sakit, namun selama ini seolah-olah dilarang untuk sakit..
Sepatu dan air setengah lutut. Hanyalah
gambaran menarik yang akan menjadi tinta lukisan perjalanan kumnol nantinya.
Hanyalah pengobat rindu masa-masa perjuangan nantinya. KumNol teruslah
mengepakkan sayap walau sepatu harus dijinjing dan harus melewati air setengah
lutut itu.(Jakarta, 7 April 2013)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar