Selasa, 09 April 2013

Sepatu dan Air Setengah Lutut


  
**Setiap orang akan dikatakan Pejuang jika perjuangan itu mudah, namun karena sulitnyalah hanya sedikit orang-orang yang  terpilih menjadi pejuang**


Hujan perlahan mencurahkan titipan rahmat dari Tuhan. Dan perlahan juga air mulai menggenangi bagian bawah Rumah Kumnol, karena posisi rumah ini memang berada pada bibir kali. Agak aneh memang jika melihat Rumah KumNol ini bentuknya anjungan seperti perumahan orang-orang Melayu. Namun jika melihat kondisi Rumah Kumnol saat hujan, orang-orang akan sangat mengerti mengapa rumah ini dibangun seperti anjungan.
Hari ini peresmian rumah Kumnol, yang diresmikan oleh Bapak RW setempat. Ada kelegeaan, keharuan di dada pendiri Rumah Kumnol, perjuangan di awal tahun 2013, kini telah memasuki lembaran baru. Yang berarti lika-liku perjuangan akan di mulai.
Tawa anak-anak sore ini, semakin menguatkan azam para pengajar dan pendiri KumNol untuk membuat KumNol Mumtaz ini menjadi besar. Dukungan dan rasa hormat serta kepercayaan dari orang tua wali murid yang mendaftarkan anaknya di rumah Kumnol mumtaz, menambah senyum lebar dari para pendiri dan pengajar. Tekad untuk terus memperbaiki diri, membenahi diri, terus belajar, tak kalah oleh lelah, makin berkobar, memupuskan kepesimisan yang beberapa bulan ini menghampiri. Rintangan-rintang yang selama ini seolah-olah menjadi kendala, terlihat hanyalah kerikil yang mudah untuk disingkirkan.
Di hari pertama pembukaan Rumah Kumnol, ada cerita menarik, ketika tim pengajar dan pendiri ingin pulang kerumah. Hujan memang sudah berhenti, tapi masih menyisakan genangan di bawah Rumah al-khawarizmi, turun tangga lepas sepatu dan berjalan di tengah kubangan air yang berwarna kecoklatan, yang menandakan buruknya kualitas air tersebut, belum lagi sampah-sampah beretebaran dimana-mana. Dan yang terparah masyarakat sekitar Rumah Kumnol, terbiasa membuang hajat langsung ke sungai. Tapi inilah arti sebuah perjuangan, yang tak akan terhenti walau sepatu dan air setengah lutut akan dihadapi setiap harinya. Tak jadi masalah demi mengabdi pada Negeri ini. Demi melepaskan tanggung jawab atas amanah ilmu yang dititipkan. Demi mengusap peluh perjuangan para pahlawan. Demi senyum-senyum kecil, yang malu-malu menampakkan muka. Demi cita-cita anak-anak yang melambung tinggi menembus cakrawala.
Tak akan terhenti walau sapatu dijinjing dan air setengah lutut, mengiringi langkah perjuangan ini. Demi mimpi anak pemulung untuk menjadi presiden Negeri ini, demi mimpi anak tukang cuci, untuk menjadi pembuat Pesawat terbang yang akan membawa jama’ah haji menemui Rumah Allah. Demi mimpi anak negeri, yang akan menjadi dokter bagi orang-orang miskin yang sakit, namun selama ini seolah-olah dilarang untuk sakit..
Sepatu dan air setengah lutut. Hanyalah gambaran menarik yang akan menjadi tinta lukisan perjalanan kumnol nantinya. Hanyalah pengobat rindu masa-masa perjuangan nantinya. KumNol teruslah mengepakkan sayap walau sepatu harus dijinjing dan harus melewati air setengah lutut itu.(Jakarta, 7 April 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar