Sabtu, 18 Mei 2013

Akai Ito

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu`alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
       

Penulis : Amelia Az-Zahra
Judul  : Akai Ito, diadaptasi dari beberapa kisah yang pernah saya baca lalu kisahnya dikombinasikan dan ada beberapa tambahan dari saya. Ingat ATM (Amati yang bagus, Tiru dan Modifikasi.) Dan hasilnya adalah sebuah karya yang indah untuk kalian.

Kisah ini berawal dari,,,,


       Pada suatu hari, di suatu masa, di sebuah tempat antah berantah yang amat sangat jauh dari sini. Hiduplah seorang pria berumur 25 tahun, saat itu ia sudah mapan dan ingin menikah maka ia pun melamar seorang gadis. Malam harinya ia pun sholat istikharah lalu ia tertidur.

       Dalam mimpinya ia sedang pergi ke rumah gadis itu dan mengintip dari jendela, tiba-tiba ia dikagetkan dengan seorang kyai haji yang lengkap dengan janggut putih serta sorban putihnya. Ia pun berkata "Tidak baik mengintip ke rumah orang, apalagi seorang gadis yang belum tentu hallal untukmu."

       Wajah sang pria memerah lalu berkata dengan senyuman yang masih tertempel di bibirnya "Tidak bisakah saya menikmati kecantikannya? Lagipula sebentar lagi kami akan menikah." Sang Kyai menatap pria itu lurus-lurus dan menjawab "Belum tentu juga kalian menikah, walau hari pernikahan kalian sudah kalian tetapkan."

     Sang pria tertawa "Sebenarnya yang sok tahu itu saya atau Pak Ustad sih. Ini kehidupan saya, seharusnya saya yang lebih tahu tentang kehidupan saya bukan Pak Ustad." Pak Ustad melangkahkan kakinya satu langkah lalu menatap bulan. "Jodoh itu begitu misterius, tapi saya ingin memberitahukannya pada anda. Karena saya datang pada malam ini memang karena ingin memberitahukannya pada anda."

     Sang pria tersenyum dan menjadi tertarik "Begitu? Kalau begitu siapa jodohku? Pasti ia yang ada di dalam ruangan ini kan?" Tanya Pria itu sembari menunjuk sebuah ruangan di sampingnya. Pak Ustad tersenyum sembari menatap bulan purnama, dan ia hanya menggeleng. Setelah melihat gelengan kepala Pak Ustad, alis sang pria pun berubah mengkerut, dan ternyata bibirnya ikut cemberut, dan tangannya yang tadi memegangi dagu karena ingin memiliki jenggot seperti pak Ustad akhirnya memegangi mulutnya, untuk menutupi kecemasan yang ditimbulkan oleh gelengan kepala pak ustad.

    Walau tempat itu gelap, dan hanya disinari oleh temaram bulan purnama dan pastinya pak Ustad tidak bakal bisa melihat perubahan expresi wajah pria itu karena pak ustad sedang menatap sang bulan. Pria itu pun berusaha keras menutupi expresi wajahnya, karena ia tahu expresi wajah selalu mencerminkan perasaan di hati, dan andaikan kita sedang bermain kartu kita harus pintar memasang expresi wajah kita. 

    Sang pria itu pun memasang senyuman jokernya sembari berkata, tapi walau begitu suaranya bergetar dan dengan jujurnya mengutarakan perasaan di hati yang sedang bergejolak ini. Ia berkata "Lalu siapa jodohku pak Ustad?" Pak Ustad berbalik dan menatap expresi wajah anak muda itu, ia tersenyum pada pria itu "Kau, akan tahu pada saatnya nanti."

     Expresi wajah sang pria pun memerah dan ia sudah tidak bisa mengendalikan expresi wajahnya, serta sudah tidak bisa menutupi gejolak hatinya yang memanas, ia pun berkata "Bukankah, anda datang ke sini untuk memberi tahu jodoh saya? Tadi anda mengatakannya,lalu kenapa sekarang anda tidak ingin mengatakannya."

      Pak Ustad itu tampak sabar menghadapi butiran kalimat yang keluar dari sang anak muda itu, lalu ia melangkahkan kakinya ke sebuah bunga dan menghirupnya. Anak muda itu pun mengikuti langkah Pak ustad itu. Pak Ustad tersenyum setelah menghirup aroma bunga itu dan berkata "Kau akan mengetahuinya, nak."

    Sang Pria pun menatap bunga itu dengan expresi penuh tanda tanya dan penuh rasa ingin tahu "Hem,,,jika menurut Anda saya akan mengetahuinya, maka bagaimana cara saya mengetahuinya? Apa ia akan memakai sebuah tanda pengenal yang menyatakan ia jodoh saya, atau saat kami bertemu akan ada angin dan sebuah lagu, atau ada petir atau apa?"

     Sang Ustad pun menjawab "Allah akan memberitahu hatimu." Sang Pria meringgis, sebenarnya ia sangat merasa tidak nyaman ketika rasa penasaran berkembang di otaknya, dan tidak ada jawaban untuk setiap pertanyaannya, dan ia juga sangat merasa tidak nyaman jika hanya diberi harapan bahwa ia akan mengetahuinya. Maka ia pun terus bertanya sampai rasa penasaran ini hilang, walau mungkin setelah mendapat sebuah jawaban, sebuah pertanyaan lain akan muncul, dan  setelah mendapatkan jawaban selanjutnya muncul, sebuah pertanyaan pasti akan hadir kembali hingga sang narasumber berteriak "Hentikan pertanyaan ini."

      Sang Ustad melangkah pergi, Pria itu mengikutinya "Anda tidak bisa meninggalkan saya dengan rasa penasaran ini, tolong jangan membuatku menderita seperti ini. Kau telah janji untuk mengatakan yang sebenarnya dan untuk itulah kau datang ke sini. Jangan pergi sebelum kau memberi tahu yang sebenarnya. Dan jika kau tidak ingin mengatakannya itu artinya anda ingin bersama saya selamanya. Jadi, jangan tinggalkan saya setelah anda membuat saya galau."
  
      Sang Ustad itu tetap berjalan, pria itu pun mengikutinya. Mereka ke luar gerbang berjalan di jalan besar lalu melewati lorong yang kumuh dan sang pria dikagetkan dengan tikus yang tiba-tiba lewat dan hampir saja ia menginjak tikus itu. Lorong itu begitu pengap dan sedikit gelap karena hanya diterangi oleh cahaya bulan purnama.

    Dinding bangunan yang terbuat dari batu bata merah pun hampir menyentuhnya karena lorong ini sempit, tempat ini begitu kotor tapi anehny pakaian sang ustad itu masih putih bersih, berkilau dan bercahaya. Entah kenapa sang pria mengagumi sosok itu, ia pun mengikuti kyai itu dengan diam tanpa banyak tanya sebenarnya mereka sedang kemana.

     Sang pria terus melangkah mengikuti jejak kaki sang kyai, ia mengagumi tiap pijakan sang kyai dan sebenarnya di hati nuraninya yang paling dalam ia berkata ia ingin sekali seperti sang kyai itu, begitu hebat dan sayangnya dirinya tidak hebat dan sangat jauh jika dibandingkan dengan pak kyai itu.

    Sang pria pun menunduk menatap langkah sang ustad, mungkin jika ada yang menatap mata si pria, yang menatap itu salah sangka, mengira bahwa pria itu menangis karena lorong ini sempit, sulit ditempuh dan faktor lain-lain. Tapi sebenarnya air mata ini keluar, karena sang pria itu ingin seperti kyai itu, dan masalah lorong ini sebenarnya sang pria merasa karena cahaya dari tubuh sang kyai lorong ini terang benderang, dan karena keharuman sang kyai lorong ini tidak bau, dan karena putih suci pakaian sang kyai lorong ini pun terlihat bersih.

     Dan akhirnya mereka tiba di sebuah tempat, tempat ini begitu ramai sekali, banyak orang lewat, banyak yang berjualan, dan banyak juga yang sedang menawar, lalu ada yang sedang berteriak-teriak mempromosikan barang dagangannya, ada anak yang menangis minta di beliin mainan dan sang mama terus menerus menggeleng, ada anak yang sedang memakan gulali dengan tersenyum kepada ibunya sebagai tanda terima kasih telah dibelikan gulali, lalu ketika bertemu anak yang menangis itu ia membagi setengah gulalinya.

      Lalu sang ustad berkata "Pegang tanganku, agar kita tidak berpisah." Sang pria itu tersenyum, lalu memegang tangan gurunya. Ia tersenyum karena merasa seperti anak kecil yang dikhawatirkan takut hilang di tempat ramai. Mereka pun berjalan melawan arus langkah orang-orang. Dengan penuh perjuangan dan dengan tetesan butiran keringat yang keluar di pelipis mereka akhirnya mereka sampai di sudut pasar. 

      Dan terlihatlah sepasang ibu dan anak dengan pakaian kotor, compang camping, rambut yang berantakan, wajah cemong, ibu yang terlihat gemuk dan tidak jelas kenapa ia terlihat gemuk dan apa yang ia makan sehingga ia gemuk, serta seorang anak perempuan yang berumur sepuluh tahun sedang menekuri sehelai robekan kertas majalah bekas bungkus cabe. Entah apakah ia berusaha membaca kertas itu, atau menatap gambarnya, atau sedang memikirkan sesuatu hal.

    Sang Ustad melepaskan genggaman muridnya lalu menunjuk anak perempuan berumur sepuluh tahun itu dengan tangan yang tadi digenggam muridnya "Kalau kau memang ingin tahu  siapa jodohmu, dan karena malam ini aku datang berkat Allah untuk memberi tahu jodohmu, maka itulah jodohmu." Sang Pria sangat terkejut lalu menggeleng, lalu berusaha tertawa walau ia pun saat itu tidak bisa tertawa "Pasti Pak Ustad sedang bercanda pada saya, masa saya akan menikah dengan anak yang umurnya beda 15 tahun dengan saya. Terlebih ia ingusan dan pasti ini bohong, aku tidak ingin menikah dengannya, bahkan walau ini adalah takdir."

     Sang Ustad menatap muridnya dan menggeleng lalu menghilang. Sang Pria pun terbangun dari mimpinya, ia pun merenungi mimpinya, keanehan pertama kenapa ada gurunya di mimpinya, keanehan kedua kenapa sang jodoh adalah wanita seperti itu. Sang Pria terus termenung. Ia pun bingung dan galau, ia pun berpikir bahwa sebaiknya ia cerita kepada gurunya atau tidak. Tapi jika cerita, pasti sang guru akan mengamini mimpi itu, dan mimpi itu pun menjadi kenyataan, dan ia pasti akan menikah dengan anak perempuan itu, dan masalahnya ia tidak menyukai gadis itu, dan menurutnya menikah itu harus berdasarkan cinta sama halnya seperti melakukan sesuatu harus berdasarkan hati.


     Berfikir dan terus berfikir, bahkan di kamar mandi ia pun seperti sedang bersemedi, berfikir sembari jongkok. Dan entah mengapa ia mendapatkan sebuah ide. "Ah ya, tentu sebuah nasib bisa di ubah dan Allah tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang itu tidak mengubahnya. Karena menurut saya saya harus menikah dengan orang yang saya cintai, dan orang yang saya cintai tentulah cantik rupanya, sedangkan anak kecil itu sangat jauh dari standar saya maka anak itu haruslah tidak ada di muka bumi, agar takdir ini tidak bisa terjadi." Pikir sang pria.


     Sang Pria pun setelah berjam-jam bersemedi di kamar mandi akhirnya keluar dari kamar mandi dengan tersenyum penuh kepuasan, karena masalah akan teratasi setelah mandi, memakai baju,sholat, dan membuat sarapan pagi lalu memakannya, ia pun pergi ke kantor. Di kantor ia pun memanggil seseorang tangan kanannya lalu ia berbisik dan menitahkan bahwa sang ajudan ini harus membunuh wanita ini.


    Sang Pria pun memberi tahu letak pasar itu. Sang ajudan pun mengikuti jalan yang diberitahu oleh atasannya, dan ia pun menemukan sebuah pasar yang ramai, dan dipojok pasar ia menemukan gadis kecil bersama sang ibu, ia pun agak merasa bingung karena kenapa mimpi atasannya sangat mirip sekali dengan yang asli. Bahkan walau sang atasan belum pernah ke tempat ini di alam nyata, dan ia berfikir atasannya pastilah sangat sakti karena mimpinya percis seperti kenyataan hanya saja saat ini sang anak perempuan tidak sedang menatap selembar kertas dari bungkus cabe. Tapi ia sedang anteng membaca sebuah novel tua yang kertasnya telah menguning dan kering.

   Sang ajudan pun mendekati sang ibu "Hari yang panas ya, keringat saya banyak sekali. Hem,,, saya baru pertama kali berada di pasar ini, tapi istriku yang sedang hamil memaksa saya agar saya belanja di pasar ini. Tapi saya hanyalah seorang pria yang tidak tahu apa-apa tentang pasar, bahkan saya tidak tahu cara menawar dan bahkan bu saya tidak tahu dimana tukang ikan, sayur mayur dan yang lainnya. Maka dari itu saya sangat berharap sekali jika ibu bersedia membelikan barang-barang keperluan istri saya, ini uang dan barang-barang yang harus dibeli. Nanti setelah ibu membelikan barang-barang ini saya akan memberikan ibu uang."

    Sang ibu tersenyum "Oh begitu, ya sudah saya akan melakukannya. Tapi tolong jaga anak perempuan saya ya, dia sedang membaca dari kecil ia sangat suka sekali membaca, dan yang ia lakukan tiap hari adalah membaca." Sang ajudan mengangguk tersenyum, lalu mendekati anak perempuan itu. Hawa membunuhnya keluar, ia pun mengeluarkan sebilah belati dan menyayat ke pelipis anak perempuan itu. Anak yang sedang duduk dan sedang khus'yu membaca novel itu menatap tajam ke arah sang ajudan tanpa kedip, darah segar mengalir.
  
    Sang ajudan menatap mata itu, tatapan mata mereka bertaut, bahkan dari tatapan mata beribu kata terungkap. Tatapan mata anak itu begitu dingin, sang ajudan pun menatap pupil mata anak itu. Setelah menatap lekat-lekat mata anak itu sang ajudan melihat kepolosan tatapan mata itu, " Tatapan mata ini, walau awalnya terlihat begitu dingin seakan ia tidak takut mati walau saat ini juga dan seakan ia sudah bosan dan pasrah pada hidup ini. Tapi aku bisa melihat ke bagian dalam matanya, yakni pupil matanya. Terkadang tatapan mata pun mengatakan sesuatu, mengatakan sesuatu yang ada di hati tapi tidak bisa diucapkan oleh mulut dan suara dan perkataan itu hanya tersampaikan lewat mata. Biar aku lihat mata ini lekat-lekat, aku ingin tahu apa perkataan terakhirnya, oh ya ampun ia bahkan hanya membeku dan tidak merasa kesakitan pada pelipisnya yang berdarah, biar aku lihat mata ini, tatapan ini mengisyaratkan bahwa ia tidak takut pada kematian, andaikan saat ini ia akan mati ia pun ikhlas. Ya kalau begitu aku bisa membunuhnya, tapi tunggu dulu, ia memiliki takdir lain, hidupnya dan nyawanya bukan untuk dirinya dan miliknya, jadi walau ia mengizinkan untuk mati maka aku tetap tidak bisa membunuhnya karena pemilik nyawa ini sepertinya tidak mengizinkan aku untuk membunuhnya. Karena gadis ini milik orang lain dan diciptakan untuk orang lain. Yah, lagipula untuk apa aku membunuh, hanya untuk uang? Bahkan uang yang akan kuterima pastilah uang haram dan saat aku dan keluargaku menikmati uang ini aku pasti akan teringat tatapan mata anak ini. Dan alasan apa lagi aku membunuh anak ini? Ah ya, karena aku ingin menuruti perintah atasanku, tapi siapalah dia. Seharusnya yang aku turuti adalah Allah bukan dia."

     Sang Ajudan memasukan belati ke sarungnya, lalu tersenyum sembari menghapus darah di pelipis itu. Lalu sang ajudan pun pergi, ia meninggalkan pasar itu dan tidak akan pernah kembali lagi, dan ia pun berhenti dari pekerjaannya karena ia sadar bahwa atasan yang menyuruh pada hal yang buruk sudah tidak pantas untuk ditaati lagi.


    Sang ajudan pun membawa keluarganya pindah rumah dan mencari pekerjaan baru, walau gajinya tidak sebesar seperti di pekerjaan lama tapi dijamin kehallalannya dan inilah yang terbaik untuknya dan keluarganya. Dan sang bos terus menghubunginya menanyakan apakan anak itu sudah terbunuh atau belum dan berkata "Apa kau tidak membutuhkan bayaran, atau kau melakukannya dengan ikhlas dari hati untuk saya?"


   SMS itu tidak dibalas, sang ajudan pun ganti nomer lain. Sang Pria pun tersenyum dan ia yakin gadis itu pasti sudah terbunuh, dan ia tidak perlu pergi ke pasar itu karena tidak ingin melihat jasad gadis yang tak bernyawa itu.


   Beberapa minggu kemudian, sang ayah dari pujaan hatinya menolak dirinya untuk menjadi pendamping hidup anaknya sang ayah itu. Sang pria pun merasa bingung apa yang salah darinya, padahal ia merasa begitu rupawan, kharismatik, mapan dan lain-lainnya. Dan ia tidak mengambil pusing karena ketika satu pintu tertutup maka ribuan lain terbuka. Ia pun melamar gadis lain, dan ia pun galau juga memikirkan bagaimana jika ribuan pintu lainnya ternyata tidak ada yang terbuka? hem mungkin masuknya melalui jendela.


   Ternyata ia pun mendapatkan penolakan lagi, dan ia merasa bingung apa yang salah darinya, padahal ia merasa dirinya sudah begitu sempurna. Di akhir minggu ia pun bertemu sang gurunya, sang guru yang sempet-sempetnya bisa hadir di alam mimpinya, jangan-jangan karena ia sangat mengagumi sang guru sehingga sang guru bisa hadir dalam mimpinya, ya bisa jadi.


   Ternyata ia mendapat penolakan lagi, tapi karena Allah menciptakan miliaran semangat pada hatinya, ia pun tidak pernah merasa sedih justru ketiga terjatuh ia akan bangkit dan berlari lagi. Jadi, begitulah terus setelah ditolak oleh sang ayah gadis itu maka ia akan berusaha lagi-lagi dan lagi hingga tahun demi tahun berganti umurnya sudah bukan dua puluh lima lagi melainkan sudah tiga puluh tiga tahun. 


    Ia menatap wajahnya "Bagaimana ini, ketampananku hilang dimakan usia. Jika ketika aku masih tampan saja aku terus ditolak bagaimana jika aku sudah tidak tampan, tapi jangan-jangan malah banyak yang tertarik. Hem,,,mungkin." Pria itu pun masih menjalani hari-harinya dengan penuh semangat walau terus ditolak, hingga akhirnya ia merasa bosan untuk ditolak, dan ia hingga ia mendengar celetukan gurunya "Jodoh, atau cinta itu bukan untuk di cari, tapi cara untuk menemukannya adalah dengan memperbaiki diri. Kamu tahu alasan kenapa kamu belum bertemu jodohmu dan terus menerus ditolak karena mereka bukan jodohmu?"


   Dengan polos dan dengan malas berasumsi serta membuat sebuah hipotesa pria itu pun menggeleng "Tidak, kenapa pa Kyai?" Pak kyai yang bahkan tidak terlihat tambah tua padahal beberapa tahun telah berlalu semenjak mimpi itu pun mengelus-ngelus jenggotnya. "Alasan pertama, karena memang belum waktunya kau bertemu dengan jodohmu." Pria itu termenung, "Mengingat kata jodoh apa jodohku adalah anak kecil itu? Tapi pastilah ia telah meninggal, atau mungkin aku tidak bertemu jodohku sampai sekarang karena telah meninggal, ah tidak itu artinya aku tidak akan menikah selamanya karena jodohku telah meninggal. Ya mungkin ini adalah hukuman karena kebodohan dari keputusanku saat itu. Pasti gara-gara aku kelamaan berfikir di kamar mandi, dan karena kamar mandi adalah rumah jin dan setan maka merekapun memberikan sebuah solusi yang cemerlang tapi bodoh dan menjerumuskan ke lembah dosa. Dan aku baru menyadari dosaku sekarang. Bodoh sekali."


    Sang ustad pun melanjutkan perkataannya tanpa menghiraukan apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu karena sang ustad juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu.  Ia berkata "Alasan kedua, karena kalian belum siap." Pria itu termenung "Lalu bagaimana cara untuk siap?"

    Sang ustad pun menjawab "Bukan mencari tapi memperbaiki." Pria itu mengangkat alisnya "Hem itukah caranya? Kalau begitu ajarkan saya cara memperbaiki diri." Sang Ustad menjawab "Kita mulai dari tauhid ya. Tauhid itu dimurnikan, ibadah ditingkatkan, muammalah diperbarui, dan akhlak diperbaiki. Tauhid dimurnikan jadi usahakan jangan sampai menyekutukan Allah, saat terdengar adzan langsung sholat jangan dinanti-nanti. ibadah ditingkatkan, sholat sunnah, puasa sunnah, amal, dzikir, baca al qur`an serta mengamalkannya dan menghafalnya. Memperbarui Muammalah karena setiap zaman hubungan antara manusia dengan manusia lain pasti selalu berbeda karena masalah pun selalu berbeda dan akhlak harus diperbaiki dari yang sombong yang tadinya merasa sempurna, tampan, mapan harus lebih juhud dan qanaah. Lalu yang tadinya iri dan mencelakakan orang lain tolong diperbaiki lagi."

    Pria itu mengangguk dan ia tahu bahwa hal ini mudah untuk dikatakan tapi sulit untuk dilakukan. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Karena tidak bisa ada karena tidak ada kemauan untuk mencoba dan tidak ada semangat serta mood yang buruk. Dan pria itupun akhirnya berusaha untuk tidak sombong dan lain-lain. Dan bertahun-tahun berlalu, rasa bersalah karena menyuruh untuk membunuh pun timbul. Setiap malam ia bermimpi hal yang sama, ia selalu gelisah, keringat selalu keluar. Sebuah suara sang kyai selalu hadir dalam mimpinya "Celakalah engkau nak, celakalah karena kau menyuruh orang untuk membunuh."

    Pria itu tidak kuat mendengar suara itu, ia pun terbangun ia mengusap pelipisnya dengan penuh keringat, rasa sedih menghantuinya. Ia pun berwudhu dan sholat tahajud. Suara itu kembali hadir, sebuah suara dari hati nuraninya, dan kepalanya selalu bertanya apakah dirinya telah gila, karena suara ini selalu hadir, berteriak memekakan telinganya "Pembunuh, kau adalah pembunuh."


   Pria itu menutup telinga dan matanya "Ya, mungkin aku adalah pembunuh, tapi Allah akan memaafkan aku karena ia Maha Pengampun. Tapi sungguh jika ia tidak mengampuni dosa besar ini maka kepada siapalah aku harus memohon ampun. Apa kepada sang ibu anak itu. Pastilah sang ibu sangat sedih, ia pasti akan menangis begitu kehilangan. Cinta seorang ibu pasti sungguh luar biasa, hidupnya pasti telah hancur karena kehilangan anak satu-satunya. Aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku hanya menangis. Atau bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak mungkin."


   Tapi walau begitu ia masih bertingkah seperti biasanya dan menjalankan rutinitas sehari-harinya yakni bekerja di sebuah kantor bersuhu rendah, dinginnya ruangan ini tidak juga membuat hatinya beku, bahkan dinginnya ruangan ini juga tidak membuat air mata ini mengkristal.

    Laki-laki itu berdiri menatap kaca. Karena jika ia duduk ia takut ada bawahannya yang masuk walau pasti mereka juga akan mengetuk pintu dahulu dan memberi ia waktu untuk menghapus air mata ini. Tapi mata tidak pernah berbohong, mata ini pastilah berwarna merah dan mengatakan bahwa ia habis menangis. Pria itu pun merasa kesal pada dirinya sendiri "Aku laki-laki seharusnya aku tidak menangis, sungguh kemaskulinan ku menjadi berkurang karena tangisan ini. Tapi menangisi dosa itu bagus. Air mata ini akan menjadi seorang pengacara yang handal di pengadilan Allah nanti. Oh ya Allah ampuni dosa-dosaku. Aku tahu aku tidak layak di surga-Mu tapi aku juga tidak kuat menahan derita di neraka-Mu. Aku tahu tempat yang tepat untukku adalah neraka jahanam tapi aku ingin bersama diri-Mu di surga, karena Engkau berfirman, Kami akan bersama dengan apa yang kami cintai di akhirat nanti. Maka dari itu saya ingin sekali berada di surga untuk bersama diri-Mu walau tampaknya saya harus ngukur diri dulu. Tapi setelah diukur tampaknya lebih berat timbangan di sebelah kiri, jadi saya mengutus air mata ini untuk menjadi pengacara saya nanti. Semoga ia menjadi sebaik-baiknya pengacara dan melunturkan dosa-dosaku. Semoga air mata ini menjauhkan api neraka dengan saya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya yang bahkan lebih banyak dari luasnya alam semesta ini, dan lebih banyak dibanding butiran pasir di seluruh pantai yang ada di bumi ini, dan lebih banyak dibanding air di bumi ini."

   Dan tiba-tiba sebuah ketukan menghentikan renungan pria itu. Ia pun berkata "Masuk." Dan sekretarisnya masuk lalu berkata "Pa Direktur ingin bertemu dengan Bapak di ruangannya." Pria itu mengangguk, lalu ia pergi ke ruangan atasannya yang lebih megah. "Assalamu'alaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh." Pak Direktur itu tersenyum "Wa`alaikumsalam Warrohmatullahi Wabarokatuh, Ayo silahkan duduk."


   Sang Pria duduk dulu saat umurnya 21 tahun mungkin grogi dan takut serta malu saat memasuki ruangan ini pertama kalinya. Tapi sekarang justru ruangan ini begitu hangat sehangat pemilik ruangan ini. Mereka berdua sudah begitu bersahabat, dan sang bapak direktur yang kurus tinggi dan berkumis itu pun begitu menyayangi Pria ini, karena pria cerdas ini selalu menghadirkan ide-ide cemerlang yang tentunya bukan dari hasil bersemedi di kamar mandi tapi di musholla. Berfikir di tempat yang berbeda maka hasilnya pun berbeda, semakin tempatnya di rahmati oleh Allah semakin cemerlang ide yang dihadirkan, selain itu pria ini pun selalu menghasilkan solusi yang luar biasa bagus dan jika sebuah solusi memiliki resiko, tapi solusi yang diberikan Pria ini tidak ada resikonya sama sekali, begitu cerdik, bahkan solusi yang terlihat konyol dan seperti lelocuan pun ternyata sangat tepat untuk menghancurkan masalah. Maka dari itu pak Direktur menyayangi pria ini seperti anak sendiri karena pemikiran yang cerdas yang belum dipikirkan orang lain, serta pemikiran yang out the box ini justru malah membuat perusaahan menjadi begitu maju, dan karena itulah dalam waktu satu tahun pria ini selalu naik jabatan, dari seorang pegawai magang bahkan bisa sampai tangan kanan direktur. Jelas banyak yang iri, dan banyak yang membuat ranjau tapi sayangnya senjata makan tuan. Siapa yang jahat maka kejahatannya akan menyerang dirinya sendiri seperti bumerang.


   Selain dicintai pak direktur ini ia juga dicintai sang gurunyayang mungkin sakti sampai bisa masuk ke alam mimpi muridnya atau mungkin itu yang dinamakan telepati. Tapi walau begitu pria ini tidak pernah menceritakan prihal mimpi itu karena takut sang guru mengamini dirinya untuk menikahi wanita itu dan sampai sekarang pria ini masih belum menginginkan gadis yang mungkin sudah meninggal ini. Atau pria ini mungkin takut karena jika menceritakan prihal mimpi ini pasti sang guru akan mengutuk dirinya karena telah membuat keputusan bodoh yakni membunuh jodoh sendiri, dan karena sang jodoh telah meninggal maka hukuman yang pantas adalah tidak menikah.


   Setelah ngomong panjang lebar, pada akhirnya sang direktur mengutarakan maksud sebenarnya. Sang pria pun bersyukur karena ia tidak terjebak pada percakapan yang sangat jelas sekali basa-basinya. Sang Direktur berkata "Umur 35 tahun masih belum menikah?" Sang pria tersenyum dan bingung ingin berkata apa ingin berkata belum bertemu dengan jodohnya tapi kayanya kalimat ini salah banget karena pasti tidak akan pernah bertemu dengan sang jodoh, karena jodohnya telah ia bunuh. Dan sungguh buruk sekali keputusan yang ia ambil dan ia merasa ia tidak perlu menikah karena sang jodoh telah meninggal."


   Jadi, sang pria hanya berkata "Sepertinya aku telah dikutuk untuk tidak menikah selamanya." Pak direktur termenung memikirkan perkataan pria yang telah ia anggap anaknya ini. "Siapa yang mengutuk?" Pria itu menunjuk dirinya sendiri. Pak direktur tersenyum karena merasa lucu sendiri "Kenapa kau mengutuk dirimu sendiri?"


       Pria itu menatap langit di luar jendela "Karena kesalahan saya di masa lalu." Alis sang Direktur mengkerut "Apa kesalahanmu di masa lalu?" Pria itu tersenyum "Memutuskan hal yang salah." Pak direktur hampir tertawa karena rasa-rasanya ia seperti sedang main kuis dengan anak ini "Apa yang kau putuskan?" Pria itu pun tersenyum menahan tawa "Sesuatu hal, yang sebaiknya tidak perlu Bapak tahu, karena jika Bapak tahu, pastilah Bapak memutuskan bahwa saya adalah orang yang sangat jahat sekali, tapi ketahuilah orang yang jahat pun pastilah memiliki hati nurani, dan hatinya pastilah tidak keras dan dingin karena ia memiliki hati nurani, dan pastilah ia akhirnya berobat dan menjadi orang baik."


     Pak Direktur mengangguk "Hem, begitu? kalau begitu kenapa kau bisa memutuskan hal yang buruk itu." Pria  itu menatap ke meja yang terbuat dari kaca, ia pun menatap pantulan wajahnya yang mengeras "Karena aku memutuskan hal itu di kamar mandi." Pak Direktur mengangguk "Pantes. Makanya jangan mengambil keputusan di situ ya, pasti itu karena hasil bisikan para syaitan. Lain kali kalau ingin mengambil keputusan di tempat yang di rahmati Allah, maka hasilnya juga bagus, bukan di kamar mandi sembari semedi."


    Pria itu mengangguk dan tersenyum seperti senyuman topeng noh. Pak Direktur pun menjawab "Kau ingin menikah?" Pria itu menggeleng. Pak Direktur pun berkata "Kenapa?" Pria itu tersenyum getir "Bukankah tadi saya sudah mengatakan alasannya?" Pak Direktur menggeleng "Saya lupa, coba ulangi." Pria itu termenung, tidak mungkin ia mengatakan "Karena saya sudah membunuh jodoh saya jadi saya tidak mungkin menikah dengan yang bukan jodoh saya." Ia pun berpikir lalu mengatakan dengan sebuah senyuman "Dulu saya sudah hampir berpuluh-puluh kali melamar, tapi selalu ditolak sekarang saya bosan dan tidak ingin memikirkan tentang pernikahan lagi."


     Pak Direktur tertawa "Oh yang ini berbeda, sekarang bukan kamu yang melamar, tapi saya yang akan menikahkan kamu dan anak saya. Besok datanglah ke rumah saya. Saya akan memperkenalkan kamu dengan anak saya dia itu cantik, cerdas, ini CV nya dan alamat rumah saya. Besok jam 8 datang ya kita makan malam atau sekedar berbincang-bincang memikirkan masa depan." Pria itu tersenyum lalu undur diri.


   Pria itu pun bingung, dan akhirnya hanya meletakan kedua hal itu di laci meja kerjanya. Sore harinya ia pulang, sampai malam tibapun ia masih bingung. Tiba-tiba sang guru datang dan menemani pria itu yang sedang duduk di bale-bale. "Assalamu'alaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh. Ada apa Fer? Muka kamu galau banget, dan kelam sekelam malam ini."


   Ferdy hanya tersenyum getir "Wa'alaikumsalam Warrohmatullahi Wabarokatuh. Biasa pa, masalah dan tiap hari selalu ada masalah jadi harus dipikirin." Pak Haji hanya tertawa "Ah, kayanya kamumah bukan masalah aja yang dipikirin, semua hal kayanya dipikirin, tuh liat di jidat sampe ngebekas sebuah guratan." Ferdy memegang jidatnya "Beneran?" Dia pun berlari ke dalam dan mengambil kaca lalu kembali lagi ke bale-bale dan memeriksa jidatnya "Ah, kayanya engga ada, Bapa bohong nih, dosa loh bohongin muridnya." 


   Pak Ustad tertawa "Seriusan, coba expresi wajah kamu galau kaya tadi deh, atau coba pikirkan hal yang tadi sedang kamu pikirin lalu lihat cermin." Ferdy pun melakukan perkataan gurunya lalu tertawa "Ia ada, wah cepet tua nih kaya gini, semakin banyak pikiran, semakin banyak guratan. Belum punya anak aja jadi kaya kake-kake gini. Pa Haji kalah dah guratannya." Pak Ustad tertawa sembari memukul kepala muridnya pelan karena mengingatkan kata "Tua." padanya. 


   Pak Ustad pun berkata "Sholat Istikharah Fer." Ferdy tertawa renyah "Dih emang lagi mikirin masalah hati, Bapa So Tau." Pak Ustad tersenyum "Taulah kita kan sudah terhubung dari hati ke hati." Ferdy pun menatap gurunya lama "Apa inikah alasan sang guru selalu hadir di setiap mimpinya?" tanyanya dalam hati.


   Merasa ditatap sang guru pun menatap balik. Ferdy pun menjawab "Hebat, sepertinya Bapak itu orang sakti ya? Bisa tahu, hal yang bahkan belum terucap." Sang guru tersenyum "Yee,,, ya ialah tau, emang Bapak Direktur tempat kamu kerja datang ke sini kemarin malam. Dia mencari keluarga kamu, tapi karena saya adalah wali kamu jadi dia menceritakan maksud keinginannya dan meminta restu saya. Dan kalau Bapak sih seterah hati kamu aja."

    Wajah Ferdy pun sangat jelas sekali menunjukan kekecewaannya "Yah, saya kira mah Bapa beneran sakti. Jadi, saya siapa tahu bisa belajar dan jadi hebat seperti Bapak juga. Yah ga jadi Kagum deh." Pak Ustad itu tertawa "Haha, kamu mah udah jadi pengagum saya dari dulu kan? Bahkan dari belum bisa baca juga kamu sudah jadi pengagum rahasia Bapak, jadi kamu berguru pada Bapak dan meminta diajarkan semua hal bahkan permintaan kamu saat kamu berumur  4 tahun adalah "Tolong ajarkan saya terbang agar saya bisa melihat semua hal, bahkan dari semua sudut pandang dan bisa melihat semua hal, pengalaman dan lain-lain. Hahaha,,,permintaan yang polos kamu kira Bapak burung elang apa minta diajarin terbang ke gunung yang paling tinggi. Ckkk ada-ada aja."

    Ferdy hanya terseyum dan berkata "Ah Bapak, masih inget aja. Saya ajka sudah lupa tentang kepolosan saya. Biasanya polos, bodoh, baik, naif beda-beda tipis nih." Sang guru tersenyum mengangguk "Huaaa,,Bapak ngantuk, Bapak pulang dulu yah. Assalamu'alaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh."


    "Wa'alaikumsalam Warrohmatullahi Wabarokatuh." Ferdy pun ke kamar dan tertidur. Ia pun bermimpi saat terakhir kali bersama orang tuanya. Saat itu umurnya sebelas tahun, Ia telah lulus SD. Karena telah lulus dengan mendapatkan nilai yang sangat bagus. Ia dan orang tuanya pergi ke kota lain untuk  bertamasya dan saat perjalanan pulang, mereka bertiga kecelakaan. Kedua orang tuanya meninggal, tapi Ferdy sama sekali tidak mengalami luka-luka. Karena pada saat kecelakaan orang tua Ferdy memeluk Ferdy erat-erat sehingga ia tidak memiliki luka. 

   Rasa cinta kedua orang tuanya mengalir ke tubuh Ferdy sehingga ia tidak mengalami luka sedikitpun. Tapi ada sebuah luka dihatinya, terasa begitu sakit dan menyedihkan. Tapi walau begitu ia tidak menangis, tapi gejolak hatinya terungkap jelas pada expresi wajah itu. Tanganya tergenggam sangat kerasa, dari semenjak orang-orang menolong mereka bertiga sampai saat di pemakaman itu.


   Kecelakaan itu teringat jelas di memorinya, saat itu mereka bertiga berada di dalam mobil, dan di sebuah tikungan dari arah samping sebuah mobil melintas dengan kecepatan luar biasa hebatnya. Dan rem mendadak pun tidak membantu. Kedua orang tua Ferdy memeluknya, sehingga ia tidak terluka. Dan kedua orang tuanya mengalami luka yang amat sangat parah. Saat di dalam mobil Ferdy masih menggenggam erat kedua tangan orang tuanya. Sang ibu dan ayah berbisik "Kuat lah nak, jangan menangis. Jangan menangis walau ini begitu menyedihkan. Kecuali menangis karena teringat dosa. Dan jika menangis karena teringat dosa, yakinlah Allah pasti akan mengampuni dosa itu karena air matamu yang akan menjadi pengacara di pengadilan Allah nanti."


   Jadi, di situlah ia. Saat orang-orang berusaha mengeluarkan keempat orang ini dari dalam mobil. genggaman itu pun terpisahkan, rasanya ia ingin berteriak, tapi ia takut jika ia berteriak maka tangisnya akan tumpah jadi ia hanya bisa menahan gejolak ini. Dan ia hanya menatap orang-orang mengangkat kedua orang tuanya beserta sang supir ke ambulans. Tangannya masih tergenggam bahkan saat ia ikut ke dalam mobil ambulans dan menatap darah di pelipis kedua orang tuanya.


   Setelah sampai di rumah sakit ternyata kedua orang tuanya telah tidak bernyawa. Tangan itu pun masih tergenggam hingga kedua jasad orang tuanya dikebumikan. Dan Ferdi masih mengepalkan kedua tangannya, menggenggam dengan erat, menahan gejolak karena ada sesuatu yang hilang dan lenyap. Mulai saat itu ia tidak akan melihat kedua orang tuanya lagi, tapi ia tahu, kedua orang tuanya akan selalu hadir di saat ia kesepian, bahkan Ferdy yakin bahwa walau hanya dengan sebuah kenangan mereka pun masih bisa hidup, yah hidup dalam kenangan itu sendiri, dan bersyukurlah ia memiliki kenangan itu, walau kenangan ini hanya sebelas tahun tapi ini sangat bermakna.


  Sang guru yang telah mengajarinya dari umurnya yang ke empat tahun pun menggenggam tangan Ferdy. Ferdy menatap tangan itu dan melihat pemiliknya. Sang pemilik tangan itu tersenyum dan berkata "Kau masih memiliki aku, dan kau bisa hidup bersamaku dan keluargaku, kau bisa tidur di rumahku." Ferdy berusaha tersenyum. 


    Tapi ia tetap tinggal di rumahnya, dengan warisan ia pun melanjutkan sekolahnya, dan ia pun berpikir, uang ini cepat atau lambat pasti akan habis. Ia pun akhirnya berdagang, memutar uang itu agar bisa menjadi dua kali lipat atau lebih. Ia pun bersekolah dengan biaya sendiri, ia pun belajar masak, dari yang rasanya aneh jadi sangat enak. Dari rumah yang begitu berantakan seperti kapal pecah menjadi bersih sekali. 


   Sang guru pun sering main agar Ferdy tidak kesepian atau takut. Ia pun mengajari banyak hal pada Ferdy terutama pelajaran untuk "Tersenyum." Dan akhirnya Ferdy pun bisa tersenyum kembali expresi wajahnya tidak mengeras seperti hari itu, tangannya tidak menggenggam begitu keras karena berusaha merasakan hangatnya genggaman kedua orang tuanya. 


   Ya, dan ia pun berusaha tumbuh menjadi anak yang kuat, seperti perkataan orang tuanya

"Kuatlah nak, jangan menangis. Jangan menangis walau ini begitu menyedihkan. Kecuali menangis karena teringat dosa. Dan jika menangis karena teringat dosa, yakinlah Allah pasti akan mengampuni dosa itu karena air matamu yang akan menjadi pengacara di pengadilan Allah nanti."

   Ferdy pun berusaha mengingat serpihan kenangan yang hampir terlupakan itu. Yah dia ingat saat ia merasakan betapa baiknya ibu bapaknya ia bertanya "Kenapa kalian begitu baik padaku?" Dan mereka hanya menjawab "Jika sudah besar milikilah anak dan kamu akan tahu kenapa kami sangat menyayangimu."

  Ferdy pun pergi ke kantor seperti biasanya, dan bertemu pada pak Direktur "Jangan lupa hari ini jam 8 malam." Ferdy hanya menjawab dengan senyuman, saat jam 5 soreia pun menaiki mobilnya. Dan ia pun berusaha berfikir keras. "Ada beberapa asumsi, yang pertama jodohku telah meninggal maka aku tidak bisa menikah, pergi ke rumah pak direktur pun percuma karena aku pasti tidak akan menikah dengan wanita itu karena ia bukan jodohku. Jadi datang ke rumahnya adalah perbuatan yang sia-sia, lagipula aku lupa membawa kartu nama pak direktur, kartu itu ada di laci. Asumsi kedua wanita itu adalah jodoh saya, tapi bukankah seharusnya ia sudah mati dibunuh? Mungkin karena takdir mengatakan bahwa saya harus menikah dengannya ia pun tidak meninggal. Lalu sebenarnya ajudan saya membunuhnya atau tidak. Dia tidak bisa saya hubungi saat itu, ia juga tidak ingin menerima gajinya padahal ia telah berusaha. Apalagi pekerjaan membunuh, pasti harusnya ia menerima uang itu untuk melarikan diri dari kejaran polisi atau kehebatan berfikir para detektif. Tapi ia tidak membutuhkan uang ini untuk melarikan diri. Dan anehnya sepertinya di koran, di tv, atau gosipan para tetangga tidak ada yang menceritakan tentang pembunuhan itu."

   Di saat konsentrasi untuk menganalisa apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi ternyata ia menabrak sesuatu atau ditabrak sesuatu? Ferdy pun keluar mobil. Dan melihat kebelakang ternyata seorang wanita dengan jas hujan biru yang menutupi tubuhnya dan sang ibu tua berwajah gempal, ia merasa wajah itu tidak asing. Tapi ia tidak mempedulikan wajah ibu itu, yang ia pedulikan adalah jas hujan biru yang besar itu, ia berusaha mengingat apakah tadi hujan. Atau mungkin kedua orang ini datang dari tempat yang begitu jauh dari sini, dan dalam perjalanan hujan telah turun.


  Ferdy pun bertanya "Kenapa? Ngantuk ya?" Wanita itu tertawa "Ia ngantuk, maaf ya." Ferdy mengangguk. Lalu mendengar suara seorang ibu yang cerewet "Bougenville, apa kau tidak apa-apa?" Anak perempuan yang bernama Bougenville hanya tersenyum lalu berkata "Sepertinya hanya luka sedikit, tidak terlalu parah. Sebaiknya kita lekas pulang, kita belum memasak padahal kata ayah akan ada seorang tamu yang datang."


   Sang ibu berteriak "Huwa, kita tidak bisa pulang begitu saja setelah membuat mobil ini penyok." Bougenville meringis "Ibu, kenapa berkata seperti itu, padahal kita bisa pulang dengan damai." Sang ibu berteriak dengan panik "Huwaa,,,uangku habis. Apa kau masih memiliki uang untuk ganti rugi?"


   Anak yang bernama Bougenville itu mengernyit "Sebentar aku telpon sang penolong dahulu." Setelah itu ia berkata, " Ferdy Tunggu sebentar ya, sepupuku akan datang." Ferdy meringis "Tidak usah, tidak apa-apa. Anggap saja tidak terjadi apa-apa."


   Sang ibu marah-marah "Enak saja tidak apa-apa. Sepertinya aku tidak bisa berjalan." Bougenville pun terkejut, lalu berusaha memapah ibunya, wajahnya pun begitu khawatir "Hem, bagaimana ini semoga Dandelion lekas datang dan menyelesaikan semua ini."


    "Kenapa harus menunggunya? Pasti lama. Aku ingin pulang. Bagaimana jika ibumu, aku bawa ke rumah sakit?" Wajah Bougenville semakin khawatir "Sebaiknya tidak usah. Pati akan merepotkan anda. Jika ingin pulang, maka pulanglah tapi sepertinya kau harus mengikhlaskan mobilmu yang penyok."


    Ferdy mengangguk "Motornya, tidak rusak kan?" Bougenville mengangguk "Tampaknya tidak apa-apa. Aku akan mengandarainya, dan ibuku akan bersama sepupuku." Sang ibu memegang kepalanya "Sepertinya Dandelion akan lama sekali datang, tak bisakah aku ke rumah sakit terdekat lebih dahulu?"


   Bougenville meringis "Ibu,,," Ferdy membuka pintu, "Kalau begitu akan aku antarkan." Bougenville pun agak ragu lalu berbisik pada ibunya "Kenapa ibu percaya sekali dengan orang asing ini. Bagaimana jika ia menculik ibu?" Sang Ibu meringis "Aku tidak kuat lagi, kakiku sakit sekali." Ferdy memapah sang ibu. Bougenville merasa begitu bingung. Lalu akhirnya ia memberikan nomer handphonenya dan meminta nomer handphone laki-laki yang menurutnya begitu asing, dan ia merasa begitu polos dan naif sampai percaya begitu saja. Lalu untuk meyakinkan dirinya ia memberi sebuah wejangan. "Beri tahu aku, kalian berada di rumah sakit mana dan tolong jaga ibu saya dulu ya, jangan ditelantarkan."


   Dan Bougenville pun berdiri sendiri dengan motor di sampingnya, ia merasa begitu bingung dan seperti habis dihipnotis, dan sadar-sadar ia pasti berteriak "Ibuku mana? Ah dia menculik ibuku, tolong, tolong ibuku." Tapi akhirnya akal sehatnya melarang dirinya berteriak seperti itu. Menunggu dandelion datang itu sangat lama. Karena bosan ia pun minta bertemu di suatu mushola terdekat saja. Ia menatap hp nya dan masih belum ada sms, ia merasa begitu cemas "Bagaimana, jika sang ibu diculik dan ia minta tebusan. Tapi itu lebih baik daripada diculik lalu dijual dan tidak akan bisa bertemu selamanya."

   Bougenville mengendarai motornya dengan pikiran kalut tapi akhirnya ia menitipkan ibunya pada sang pemilik jiwa. Dan ia pun berusaha mempercayai orang yang tak dikenalnya itu. Ia pun sholat di mushola itu, Dandelion datang ternyata ia memakai angkutan umum pantes lama. Setelah sholat, Bougenville menelpon orang asing itu, awalnya ia menelpon ibunya tapi tidak di jawab mungkin karena sibuk dengan para perawat dan dokter. Dan orang asing itu dengan polosnya bahwa ia lupa, ia pun meminta maaf karena lupa untuk memberitahu alamat rumah sakitnya. Bougenville tersenyum menahan kesal, ya setidaknya ia tidak lupa membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi mungkin ia tidak lupa karena sang ibu begitu berisik sekali, seperti mendengar suara radio, kita hanya menjadi pendengar setia, ia tidak pernah memberi kita waktu untuk sekedar bertanya apa komentar kita dari ucapan yang ia katakan tadi. Ya, karena tidak pernah ditanya apa pendapat kita, mungkin sebaiknya pura-pura mendengar ucapannya saja toh ia selalu mengatakan hal yang diulang-ulang. Bahkan cerita yang sekarang ia katakan mungkin adalah cerita yang sama seperti kisah yang ia katakan setengah jam yang lalu.

   Sang ibu hanya terluka, walau luka dikakinya ternyata cukup parah juga. Sehingga Bougenville harus mem apah ibunya. Dan sang ibu menaiki mobil asing itu lagi. Bougenville menatap kerusakan parah yang ia timbulkan lalu ia berkata "Mungkin kita urus mobilmu dahulu." Ferdy menggeleng "Tidak, aku sangat mengantuk malam ini, yang aku inginkan hanya tidur."  Bougenville mengangguk "Ah, maaf kami sepertinya menghabiskan waktu anda yang sangat berharga, ini uang ganti rugi. Mungkin kami naik taksi saja."

   Ferdy mengurut pelipisnya, tampaknya ia memang lelah dan pusing. "Tidak, tidak usah. Aku hanya ingin tidur." Dandelion pun mengutarakan pemikirannya "Mungkin sebaiknya kau yang menyetir Ville." Bougenville mengangguk "Ya, mungkin sebaiknya begitu." Karena Ferdy tidak ingin mendengar perkataan wanita paruh baya itu ia pun tidur di sebelah Bougenville." Bougenville pun menyetir dengan sangat pelan dan hati-hati.

   Ferdy tertawa "Kita, masih sampai sini? Oh ya ampun aku kira sudah sampai. Tidak bisakah dipercepat sedikit? Aku ingin tidur dikasurku yang empuk." Bougenville mengangguk dan ia pun ngebut. Sang ibu pun marah-marah "Woy, kau mau ibumu mati apa? Inget masih ada aku di belakang sini. Dan jika aku kenapa-kenapa maka durhakalah engkau nak."

   Bougenville tersenyum meringis. Dalam hati ia berkata "Sial, begini salah, begitu salah." Sang ibu pun tertidur kembali karena Bougenville membawa sangat pelan. Ferdy menguap "Mobil ini berjalan begitu pelan seperti sedang menina bobokan kami, sayang yang tertidur hanya ibumu."

  Bougenville tidak menjawab, karena sedang konsentrasi. Ferdy menatap dengan malas ke jendela "Tidak bisakah dipercepat sedikit? Perjalanan ini begitu membosankan." Bougenville masih menjalankan dengan pelan "Apa kau tuli atau bisu? Percepat sedikit aku begitu bosan." Bougenville  akhirnya menjawab "Bukankah tadi kau bilang kau sangat mengantuk, maka tidurlah jangan ganggu aku yang sedang mengemudi, aku masih amatiran tau, jadi sebaiknya aku menjalankannya dengan pelan saja. Lagipula ibuku berkata aku harus berjalan dengan pelan."

  "Kenapa kau sangat menurutinya? Padahal ia sedang tertidur, kau tambahkan kecepatan sedikit juga ia tidak akan merasakannya." Bougenville tersenyum "Ya, kau benar jika aku tambahkan kecepatannya sedikit toh ia tidak akan tahu, tapi ia ibuku aku wajib menuruti perkataanya dan kau bukan siapa-siapa jadi aku tidak perlu menuruti perkataanmu walau perkataanmu lebih terdengar masuk akal."


   "Perjalanan ini tampak membosankan, percepat sedikit." Bougenville menatap pria tak sabaran yang duduk di sampingnya, ia memperhatikan ke luar jendela dengan wajah yang amat sangat bosan "Sebentar lagi sampai, sabar ya. Kau pernah dengar sebuah cerita. Ceritanya begini. Suatu hari seorang ibu berpesan anaknya untuk menanak nasi, dan sang ibu berkata "Berasnya satu liter saja ya nak." Sang anak mengangguk, dan sang ibu pun pergi ke pasar. Sang anak menatap beras itu. dan berkata "Huf, aku sangat lapar, ibu setelah pulang dari pasar pun akan lapar, ayah, adik dan kakak pun akan lapar. Masak satu liter tidak akan membuat perut kami kenyak. Terkadang ibu menyuruh hal yang tidak masuk akal. Dan seorang anak pun harus mencerna apa yang dikatakan orang tua jadi jangan langsung di telan begitu saja." Sang anak pun menambahkan 9 liter lagi. Jadi menurutnya karena mereka pasti sedang lapar dan makanan ini harus ada sampai makan malam maka ia harus menanak masak nasi. Saat menanak nasi ia pun membayangkan ketika malam hari di saat ia sekeluarga lapar nasi masih ada. Dan ia yakin keluarganya yang sedang kelaparan ini pasti akan memuji dirinya akan kecerdasannya, dan menyelamatkan mereka dari bahaya kelaparan. Dan khayalannya pun terpotong oleh nasi yang keluar dari panci besar itu. Karena airnya begitu banyak dan panci yang ia gunakan begitu besar karena menampung 10 liter beras. Dan karena apinya sangat besar. Nasi itu keluar, tapi nasi itu masih berupa bubur. Bubur itu keluar dari panci besar dan membanjiri lantai. Gadis kecil itu menangis dan berlari ke ayahnya. Ketika sang ibu pulang ia pun memarahi kecorobohan dan ke sok tahuan anaknya. Dan sang anak hanya mengumpat di balik badan ayahnya  dan sang ayah berkata "Nak, orang tua itu pernah muda, tapi anak kecil belum pernah tua. Jadi setidak masuk akal perkataan orang tua turuti saja ya, karena kamu masih kecil dan belum tahu banyak hal." 


   Sang ayah pun menceritakan alasan kenapa anaknya menambahkan 9 liter air dan keluarga itu pun tertawa. Sang gadis pun bertanya "Apakah orang tuanya dulu pernah melakukan hal ini." Dan ternyata sang orang tua juga pernah begitu dan akhirnya nurut kepada orang tua. Karena orang tua pernah muda, tapi anak muda belum pernah tua.


   Dan mereka pun akhirnya sampai di rumah Bougenville. "Cerita yang menarik dan berhasil menghilangkan rasa bosan dan ngantuk saya." Saat itu jam setengah delapan, setelah sholat isya. Bougenville, Dandelion, sang ibu dan seorang pembantu berjibaku untuk membuat makan malam. Karena kata sang ayah sang tamu akan datang jam 8. Maka dari itu mereka berjibaku membuat jamuan yang megah.

   Ferdy pun tidur di ruang tamu. Jam 8 tepat suara jam berdentang sampai 8 kali. Suara yang menggema itu membuatnya terbangun "Ah di mana ini? Aku ingin pamit tapi tidak ada orang, jika aku langsung pulang mereka pasti bingung. Hem,,," Ferdy pun berdiri, mengucek-ngucek matanya, rambutnya pastilah sangat berantakan saat ini dan bajunya pastilah lecek selecek wajahnya yang baru bangun tidur.

   Ia mendengar suara tawa dan obrolan, dan ia tahu pasti itu suara cempreng sang ibu dan yang tertawa pastilah anak yang bernama Bougenville dan Dandelion. Ferdy mendekati sumber suara, Bougenville terdiam lalu akhirnya ia mengambil sepotong kue. Kami telah membuat kue black forest ini ayo cicipi.

  Ferdy menggeleng "Yang aku inginkan saat ini hanyalah ingin pulang." Bougenville terdiam, lalu mengangguk, expresi wajahnya berubah "Oh ya tentu, jika kau ingin pulang, maka kami akan antarkan sampai depan." Ferdy tersenyum dan melambaikan tangan serta mengucap salam, ia pun membuka pintu. 

  Dan ternyata di balik pintu itu ada Pak Direktur, ia mengucapkan salam dan memeluk Ferdy lalu berkata "Oh kau sudah datang, ya ampun betapa tepat waktunya kamu." Bougenville menatap Guru Ferdy "Ayah, apakah ini tamu yang ayah maksud? Oh ayo tuan selamat datang di rumah kami, ayo kita ke meja makan. Ayah telah menceritakan kedatangan anda hari ini jam 8 malam untuk acara jamuan malam. Jadi, ayo kita langsung ke ruang makan."

  Sang ayah menggaruk "Emm, ya dia juga undangan ku sih. Ya sudah ayo kita makan." Sang ayah menggandeng Ferdy, Bougenville menatap expresi Ferdy. "Bukankah dia ingin pulang, sepertinya ia lelah sekali. Hari ini mungkin hari yang sangat panjang baginya. Tidak bisakah ia pulang saja? Kau seperti sedang menyiksanya."

  Sang guru menatap Ferdy "Kau baik-baik saja?" Ferdy mengangguk "Ya, mungkin setelah makan akan baik-baik saja." Dan mereka pun makan malam, Sang ayah pun akhirnya mengatakan maksud tujuannya. Dan para pendengar pun terdiam membeku, bahkan tidak tahu harus berkomentar apa.

   Tapi akhirnya sebuah komentar pun terdengar, dari sang ibu bertubuh gempal "Oh itu adalah ide yang sangat beriliant honey." Sang suami yang mendapat dukungan dari istrinya mengangguk tersenyum. Dandelion tertawa "Kau akan menikah Ville. Hahaha,,,bahkan kau mendahuluiku." Bougenville menatap sepupunya "Bahkan aku tidak menyangka, bukankah baru kemarin kita berdua di wisuda bersama. Oh seharusnya kau juga mendapatkan pendamping Delly biar kita menikah bersama di hari yang sama." Mereka berdua tertawa.

  Ferdy berdeham "Bagaimana jika aku menolak?" Semuanya terkejut. Kecuali sang guru yang duduk dengan tenangnya seakan ia telah melihat pertunjukan ini beribu kali. Sang ibu tertawa "Anak ini memiliki selera humor yang sangat bagus." Ferdy tersenyum lalu wajahnya mengeras ia pun mengulangi pertanyaannya "Bagaimana jika aku menolak?" Sang Direktur berfikir keras seakan ini adalah pertanyaan tersulit. Ferdy tersenyum, melihat expresi mereka.

  Sang guru dengan tersenyum pun berkata "Dia kan cuma bertanya bagaimana. Ya jawabannya ga gimana-gimana atau gimana-gimana." Ferdy tertawa "Ah guru kau sedang membuat lelucuan, jawabanmu polos sekali, tentu aku menginginkan jawaban yang lebih dari sekedar tidak gimana-gimana atau gimana-gimana."

   Sang guru  tersenyum "Kamu kali Fer, yang lagi main drama, anak teater nih." Ferdy tersenyum "Seriusan. Coba sebutin dulu kenapa saya harus menikah dengannya." Sang guru menjawab sembari mengangguk "Karena takdir Fer." Ferdi termenung "Jika ini takdir apakah anak ini adalah,,," Sang guru mengangguk. Ferdi pun melanjutkan perkataanya "Kalau begitu bagaimana jika saya tidak mencintai Bougenville, apakah saya akan tetap menikah dengan Bougenville?"

   Sang guru mengelus jenggot putihnya dan berusaha membaca jalan pikiran muridnya. Ia pun menjawab "Terkadang kita tidak jatuh cinta dulu baru menikah, karena terkadang kita menikah dulu baru jatuh cinta." Ferdi tersenyum "Bagaimana jika setelah menikah dengan Boegenville ternyata saya mencintai Dandelion dan ingin menikah dengannya dan itu artinya harus menceraikan Bougenville?"


   Bougenville tersenyum "Dengan kata lain kau menolak pernikahan ini karena saat ini kau mencintai Dandelion? Kalau begitu tak perlulah kita menikah jika pada akhirnya cerai, mungkin sebaiknya kau langsung menikah dengan Dandelion, mungkin ia adalah jodohmu yang sebenarnya. Dan mungkin jodohku adalah orang lain."


  Ferdy mengangguk "Sepakat, dan saya ingin pernikahan ini dilaksanakan secepatnya dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Dan karena sudah malam dan saya begitu mengantuk, saya ingin pulang. Pak Haji mau ikut saya?" Pak Haji termenung seperti sedang main catur. "Tunggu dulu." Kata sebuah suara yang menggelegar "Kau tidak bisa berbuat seenaknya, karena kau tidak tahu apa-apa."


  Ferdy tersenyum "Yah, saya memang tidak tahu apa-apa, karena itu anda harus menceritakan banyak hal pada saya agar saya mengerti." Ia pun duduk kembali di kursinya, rasa kantuknya hilang karena ia agak sedikit tertarik dengan perkataan direkturnya tadi.


  Pak direktur menghela nafas "Kau tidak tahu apa-apa nak. Kami orang tua pernah muda jadi kami tahu apa yang telah terjadi, dan kau anak muda, semangatmu luar biasa tapi kau belum pernah tua dan kau belum tahu apa yang akan terjadi nanti, setiap hal yang terjadi sekarang adalah karena beberapa kejadian yang ada di masa lalu. Dulu saat itu hari hujan adikku dengan membawa bayi perempuannya datang ke rumah ku, ia mengetuk dan menangis tubuhnya basah kuyup dan ia berkata anaknya pasti sedang kedinginan saat itu dan aku harus menolong keponakanku.


   Aku pun membawa adik perempuanku masuk ke dalam rumah "Ia pun bercerita, bahwa ia habis mengalami kejadian buruk. Sang suami ternyata mencintai wanita lain dan sang suami pastilah akan menikahi wanita itu, dan hanya ada beberapa pilihan, mungkin di madu, atau dicerai. Tapi adikku tidak memilih salah satu dari kedua hal itu, karena ia berkata ia memiliki sebuah penyakit, dan umurnya tidak lama lagi, ia bisa merasakan hal itu. Dan ternyata benar beberapa hari kemudian aku harus membawa adik perempuanku ke rumah sakit. Dan ia menderita penyakit yang amat sangat parah karena tidak ada obatnya,semua hal telah dilakukan tapi adikku tidak bisa sehat kembali, tubuhnya tambah kurus dan lemah. Dan ia berkata bahwa aku harus mengurus anaknya dan ia memberikan sebuah liontin lalu memakaikannya pada anaknya.


  Adikku pun akhirnya meninggal. Aku pun mengurus Dandelion bagaikan anak kandungku sendiri. Suatu hari Liontin itu terjatuh dan aku melihatnya, saat aku memungutnya ternyata liontin itu bisa dibuka dan ada sebuah surat. Dandelion coba kau buka liontinmu, ada sebuah surat dari ibumu di situ dan tolong bacakan." Dandelion membuka liontinnya lalu ia membacanya.


   "Jika kalian membaca surat ini aku tahu itu artinya aku telah tiada di dunia ini. Dunia yang penuh misteri, seperti sebuah kertas di dalam liontin ini. Tapi tahukah kalian, kita bisa menebak apa yang akan terjadi nanti, jika kita mengamati apa yang terjadi pada hari ini dan hari-hari sebelumnya bahkan bertahun-tahun yang lalu? Hidup ini ibarat sebuah benang merah, Kalian pasti pusing menatap sebuah simpul benang ,tapi ketahuilah kehidupan ini seperti sebuah benang merah yang diikatkan. Apa yang terjadi hari ini adalah akibat rangkaian kejadian di masa lalu, dan apa yang akan terjadi di masa depan adalah rangkaian kejadian pada saat ini. Jadi, sebenarnya kita bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan karena kita telah merangkai sebuah kejadian pada hari ini. Seperti benang. Mungkin kau bingung dengan simpul benang ini, tapi ketahuilah simpul benang ini ada karena sebelumnya tentu kita telah mengikat benang ini bukan? kalau bukan kita yang mengikatnya pasti orang lain yang telah mengikatnya. Atau Allah yang akan mengikatkanya.


  Jadi intinya maksud yang ingin saya sampaikan adalah saya bisa menebak apa yang akan terjadi dua puluh satu tahun yang akan datang atau mungkin dua puluh dua tahun yang akan datang atau dua puluh tujuh tahun yang akan datang. Kenapa aku bisa mengetahuinya?

   Bukan, sayang sekali bukan karena saya paranormal atau titisan paranormal tapi saya bisa mengetahuinya karena saya memikirkannya dan berusaha menerka. Ya aku tahu, pada saat kalian membaca tulisan ini aku sudah tidak ada, dan apalah urusanku mencampuri apa yang akan terjadi nanti padahal aku sudah tidak ada. Tapi anakku masih ada di dunia ini, jadi aku perlu memikirkan apa yang akan terjadi nanti pada anakku.


  Jadi beberapa hari yang lalu, aku menuliskan sesuatu hal yang aku fikirkan tentang bagaimana kehidupan anakku kelak, aku pun membayangkannya sama halnya seperti aku memperhatikan simpul sebuah benang. Dan sama halnya aku memanggil pembaca kertas ini dengan sebutan kalian padahal aku bisa memanggil para pembaca kertas ini dengan sebutan anakku. Karena kertas ini ada di liontin anakku dan aku tujukan pada anakku. Tapi aku pun berasumsi mungkin nanti yang membaca surat ini bukan hanya anakku jadi daripada aku memanggil pembaca kertas ini dengan sebutan anakku atau putriku lebih baik aku memanggil pembaca kertas ini dengan sebutan "Kalian."


  Ya, kembali lagi ke sebuah pertanyaan kenapa aku bisa tahu apa yang akan terjadi nanti? Jawabnya karena aku memikirkan apa yang akan terjadi nanti, dan karena aku mengamati apa yang telah terjadi. Yang telah terjadi sebelum aku melahirkanmu nak. Aku dan sahabatku saat itu sedang mengandung, dan kami memiliki impian bahwa jika anak kami berlawanan jenisnya maka akan kami jodohkan.


   Nah dari apa yang telah terjadi ini, saya bisa menerka apa yang akan terjadi nanti. Kalian pasti tahulah tentang Akai Ito yang artinya benang merah. Itu loh lagenda dari cina yang mengatakan bahwa Tuhan mengikatkan benang merah kepada sepasang anak manusia yang bejodoh, dan kami menerka mungkin kalian berdua berjodoh, dan mungkin sebuah benang merah telah terikat pada kelingking kalian, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku hanya menerka, aku hanya membaca dari kejadian yang telah terjadi sebelumnya.


   Dan sayangnya aku tidak bisa menyaksikan apakah kalian berjodoh atau tidak. Akan ku kenalkan kau padanya, ia adalah Lazuardi Sapphire, ia anak sahabatku. Tapi aku telah berpisah dengannya, ia berkata ia pergi ke negara lain bersama suaminya tapi hanya beberapa tahun dan akan kembali ke negara ini dan akan menetap di sebuah kota yang amat sangat ia tempati.


  Aku hanya bisa memberi tahu namanya, kau harus mencarinya sendiri, jika di kelingking mu memang benar ada benang merah yang terhubung dengannya maka kalian memang jodoh dan mamah sangat berharap kau menikah dengannya. Tapi jika sampai umurmu yang ke 27 tahun, kau tidak menemukannya maka kau tidak berjodoh sebaiknya menikah dengan orang lain saja yang kebetulan melamarmu di saat umurmu segitu."


    Dandelion melipat kertas itu lalu berkata "Aku mengenalnya, aku tidak menyangka ia adalah anak dari sahabat ibuku. Aku dan dia bahkan selalu sekolah di tempat yang sama bahkan juga kuliah di tempat yang sama dan kami selalu sekelas, Paman ingat ia juga pernah main ke sini sekali, saat aku dan Beugenville mengerjakan tugas kelompok."


   Sang Direktur mengerutkan keningnya "Oh, aku mana ingat. Aku sudah tua nak." Sang ibu pun berteriak "Ah, aku ingat, ia anak yang sangat baik sekali sepertinya dia anak yang pendiam." Dandelion mengangguk "Kau pasti mengenalnya Ville, kita selalu sekelas dengannya." Beugenville mengangguk "Ah tentu aku tahu, ia selalu menjadi sasaran empuk untuk di ganggu oleh teman-teman laki-laki lain kan?" Dandelion mengangguk.


   Sang Direktur mengangguk "Kalau begitu akan kunikahkan kalian." Dandelion menggeleng "Sebaiknya kita menunggu dia saja sampai umurku 27 tahun." Sang direktur mengangguk. Bougenville kecewa "Yah jadi kita tidak bisa menikah di hari yang sama? Kita lahir di hari yang sama, menikah pun di hari yang sama dan bila perlu meninggal di hari yang sama."


   Dandelion tersenyum "Kamu kuatin hati aja dulu, mau nikah dengannya atau tidak." Bougenville mengangguk "Ah ya benar, apa ada keraguan lagi?" Ferdy mengangguk "Ia, pertanyaan yang tadi, bagaimana jika kita tidak saling mencintai. Apakah akan tetap menikah?"


   Dandelion tersenyum "Seperti kata pak ustad, jawabannya ga gimana-gimana." Bougenville tertawa "Serius ih, nih pertanyaan susah nih, soalnya kenyataannya memang seperti itu, tidak ada cinta pada pandangan pertama nih." Dandelion tertawa "Ya, udah sesuai perkataan pak Ustad tadi si Ferdy kan nanya bagaimana, ya kita ga usah pusing-pusing. Jawabnya tinggal pilih ga gimana-gimana atau gimana-gimana." Bougenville akhirnya tertawa "Jawaban konyol dan kita amat sangat tidak bisa puas hanya dengan jawaban itu. Karena jawaban yang benar adalah ketika sudah menikah dan walaupun tidak ada perasaan apa-apa. Perasaan itu bisa muncul jika kita sama-sama menjalankan kewajiban dan menerima hak."


  "Gimana kalau tetap tidak ada perasaan apa-apa." Tanya Dandelion. Sang guru pun menjawab "Seorang yang sholeh dan sholehah, pasti akan berusaha menumbuhkan perasaan itu jika sudah menikah." Bougenville tertawa dan menjawab "Bagaimana jika kami bukanlah orang yang sholeh dan sholehah?" Ferdy pun tertawa lalu berdiri "Ngantuk, pulang yuk. Nanti kita bicarakan lagi dengan pikiran yang jernih."


  Dan mereka pun pulang dan tidur. Karena Ia yakin pasti diskusi ini akan panjang sekali dan tidak akan berakhir sampai jam tiga malam, padahal mata sudah meminta haq nya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar