Saat itu Ferdy dan gurunya sedang dalam perjalanan pulang, karena begitu mengantuk akhirnya gurunya yang menyetir. Ferdy pun tertidur di kursi sebelah sang guru. Ia pun memasuki alam bawah sadarnya, teradang mimpi itu berdasarkan apa yang sedang dipikirkan, jika kita memikirkan masa lalu maka masa itu akan hadir, jika kita memikirkan masa depan kita maka dalam mimpi kita pun berangan-angan, jika kita sedang dalam masalah dan merasa takut pada masalah itu maka kita memimpikan hal yang kita takutkan. Mimpi itu bisa di buat sesuai apa yang kita pikirkan.
Ferdy pun terbangun dan akhirnya ia sadar ia ada di pelataran rumahnya, rasanya masih mengantuk, malam ini benar-benar seperti malam yang sangat panjang. Sang guru pun akhirnya menyuruh ia tidur. Keesokan paginya di kantor pak Direktur mengundangnya kembali ke rumahnya. Saat dikantor ia merasa kepalanya begitu berat, ia menatap bayangan wajahnya dicermin. Ternyata ada kantung tidur, padahal kemarin ia sudah tidur, tapi mungkin kualitas tidurnya buruk jadi tidak nyenyak sedikit pun.
Saat jam 5 ia pun pulang, ia bingung akan ke rumah pak direktur atau pulang. Dan karena kartu nama pak direktur masih ada di laci dan ia belum sempat melihat alamatnya, dan kalaupun tahu alamatnya ia mungkin tidak tahu harus melalui jalan yang mana maka ia pun memilih pulang terlebih akhir-akhir ini ia merasa lelah, mengantuk dan ingin tidur.
Bahkan di lampu merah ia sempat tertidur, dan saat lampu berwarna hijau ia dibangunkan oleh mobil di belakangnya dengan suara klakson. Ferdy terbangun dan menjalankan mobilnya kembali, ia melihat kota ini begitu ramai oleh cahaya lampu tiap gedung walau cahaya bintang sama sekali tak terlihat di sini mungkin karena langit masih berwarna orange dan suara gelak tawa orang-orang di jalan membuat Ferdy bertanya-tanya apakah semua orang memiliki masalah atau hanya ia doang, atau ini bukan masalah tapi dianya saja yang terlalu berlebihan dan menganggap ini sebuah masalah.
Kepalanya terasa berat, ia memegang pelipisnya, apakah ada guratan yah sepertinya ada, di antara alis dan jidat, rasanya jadi seperti Bapak-bapak yang banyak pikiran. Tapi Bapak-Bapak pun banyak pikiran karena mikirin anaknya, sedangkan ia hanya sedang memikirkan sebuah takdir. Handphonenya berbunyi ternyata alarm, yang mengisyaratkan bahwa hari ini adalah tanggal 5 Mei, tanggal lima bulan lima. Mungkin menurut semua orang hari ini bukan hari spesial tapi menurut Ferdy ini adalah hari yang spesial karena dari semenjak kecil mereka sekeluarga selalu membuat makanan Favorit mereka pada hari ini, yah karena tanggal inilah akhirnya Ferdy ke dapur dan belajar masak bersama ayah dan ibunya, yah setiap malam pada hari ini. Entah alasan apa yang membuat mereka memilih tanggal ini tapi yang jelas Ferdy menyukai acara memasak itu. Bahkan setelah orang tuanya tidak ada ia juga tetap membuat 3 buah makanan favorit, hanya sekedar ingin mengingat kenangan itu kembali, dan ia bersyukur setidaknya ia masih memiliki sebuah kenangan bersama keluarganya, dan dengan kenangan itu ia berusaha hidup di dalamnya.
Ferdy pun pergi ke supermarket yang biasanya, supermarket ini adalah saksi bisu yang merekam kegiatan keluarganya pada tanggal 5 Mei, yah ia sangat ingat sekali saat ia masih kecil dan ia hanya berlarian, atau di umurnya yang 10 tahun dan harus membawa barang-barang belanjaan yang begitu banyak atau di umur ke 12 tahun yang harus melakukannya sendiri, bahkan pada hari ini. Ia masih membeli hal yang sama dan pergi ke kashir yang sama yang ternyata sang penjaga kashir itu adalah orang yang sama dari Ferdy masih kecil bahkan sampai ia berumur 35 tahun, dan yang berbeda hanyalah wajah yang semakin tua dari si kashir, dan Ferdy pun merenung, apakah penjaga kashir ini tidak pernah naik jabatan apakan ia terlalu mencintai supermarket kecil ini atau ia pemilik supermarket ini tapi tidak merekrut orang untuk membantunya.
Ya, jawaban yang benar hanyalah ketika ia bertanya dan sang penjaga Kashir akan memberikan alasan yang sebenarnya, tapi saat itu ia sama sekali tidak ingin berbasa-basi. Setelah membayar ia pun keluar dan melihat seorang ibu bertubuh gempal yang sedang sibuk membawa barang yang begitu banyak, Sebuah tepung terjatuh dan sang ibu akan merasa sulit untuk membungkuk dan mengambilnya. Maka Ferdy pun mengambilkan tepung itu dan mengembalikannya pada ibu itu dan ia terkejut karena ternyata ibu itu adalah istri pak Direktur.
Ia pun menyapanya "Assalamu'alaikum Warrohmatullahi wabarokatuh Bu, tampaknya repot sekali malam ini, apakah Putri anda tidak datang membantu? Dan bukankah kemarin ibu habis kecelakaan, sudah sembuh?" Sang ibu menjawab dengan tertawa "Wa'alaikumsalam Warrohmatullahi wabarokatuh. Jika belum sembuh ibu tidak akan berpergian seperti ini kan? Dan mengenai putriku, Ya, andai ia sedang senggang, pasti ia akan membantuku sayangnya ia masih berada di luar kota mengurus penelitiannya."
Ferdy mengangguk "Jadi, malam ini ia tidak ada?" Ferdy pun membawakan barang bawaan ibu direktur. Sang ibu yang sudah tidak merasa berat karena barang-barang itu pun mengatakan "Emm, ya semoga saja tidak macet jadi ia bisa tiba di rumah jam 8 tepat. Dan kau sendiri bukankah akan datang ke rumah saya?"
Ferdy "Ya, tentu saya akan datang." Sang Ibu menatap barang bawaan Ferdy "Lalu kenapa kau memberi barang-barang itu juga." Keringat Ferdy terjatuh "Hemm,,, Karena ini tanggal 5 mei dan biasanya saya dan keluarga saya membuat makanan favorit pada malam ini tapi sepertinya membuat di rumah ibu akan lebih menyenangkan dari membuat sendirian di dapur yang hening."
Sang ibu tertewa "Membuat makanan Favorit ya? Ide yang bagus. Ayo kita bikin ibu juga akan membuatkan makanan favorit keluarga ibu." Ferdy mengangguk "Ya, saya juga akan membuatkan makanan favorit guru saya." Dan karena sang ibu tadi pergi dengan angkutan umum, maka diantarlah sang ibu ke rumahnya. Dan karena Ferdy tidak tahu maka di setiap tikungan ia pun selalu bertanya.
Dan setelah perjuangan yang luar biasa, ia pun sampai di rumah ibu itu. Dan akhirnya setelah sholat maghrib ia pun membuka jasnya dan mulai memasak. Dan akhirnya jadi juga, setelah sholat isya sang ibu dan Ferdy pun menunggu di meja makan dan menatap hasil tatataan mereka dan menatap makanan itu, jika hanya dengan menatap makanan itu bisa masuk ke lambung mungkin semua makanan ini akan habis.
Jam 8 tepat dan suara jam berdentang 8 kali. Tepat bunyi yang terakhir bel di pintu berbunyi, dan Pak Direktur serta sang guru datang. Mereka pun berbincang-bincang, 5 menit kemudian Bougenville dan Dandelion datang dan duduk di kursi yang kosong, mereka pun mulai makan.
Dan akhirnya Bougenville berkata "Kita lanjutkan diskusi kita yang kemarin ya, kalimat terakhir kemarin adalah bagaimana jika ternyata kami bukanlah orang yang sholeh dan sholehah sehingga setelah menikah kami ternyata tidak saling mencintai?"
Sang ibu berdeham "Dari sewaktu kamu masih kecil, apakah kau lupa apa yang selalu ku doakan untukmu? Coba ulangi lagi do`a yang selalu aku berikan padamu dari kau kecil sampai sekarang." Dan akhirnya Bougenville mengulang kembali "Semoga kau menjadi anak yang sholehah, berbakti pada orang tua, cerdas, jenius, berguna bagi nusa dan bangsa serta agamanya dan semoga sukses dalam semua cita-cita dan semoga kamu mendapat jodoh yang sholeh, sayang pada mertua dan sayang serta cinta pada kamu, serta dermawan, rupawan dan setia serta tanggung jawab."
Bougenville pun akhirnya melanjutkan "Tapi bukankah ini baru merupakan do`a, bukan realita?" Sang ayah berdeham, lalu berkata "Orang tua pernah muda, Orang muda belum pernah tua, jadi, anak muda jangan sok tahu ya. Sekarang kami ingin menikahkan kalian dan jika kalian anak yang berbakti maka kalian akan menuruti perkataan kami."
Dandelion pun ikut menyumbangkan pikiran "Seorang
muslimah yang taat kepada Allah dan Rasulnya akan menjadikan suaminya orang yang
paling tinggi bertahta di hatinya, serta satu-satunya yang menduduki singgasana hatinya, dan rasa cinta itu datang karena terbiasa, jika ingin membuktikannya maka dicoba dulu. Setelah menikah kalian pasti akan menemukan cinta pada pasangan kalian bukan pada orang lain ini jika kalian taat pada Allah. Jadi kisah cinta yang berakhir dengan pernikahan hanyalah ada di dongeng dan kisah cinta yang ada di dunia nyata adalah menikah dahulu baru kau akan menemukan cintamu pada suami atau istrimu."
Sang Guru pun ikut melanjutkan "Sebuah takdir telah tergariskan bagaikan sebuah garis. Sekuat apapun kau berusaha menolah takdir itu, maka walau bagaimanapun juga takdir itu akan tetap terlaksana, jadi, tetapkanlah hati kalian wahai anak muda dengan sholat istikharah."
Bougenville mengangguk "Jadi, percuma ya baca kisah dongeng, percuma kita tahu bahwa ada sebuah pasangan yang menikah karena cinta dan percumanya itu ada, karena pasangan yang menikah karena cinta itu adanya di dongeng bukan pada kisah kita."
Ferdy tertawa "Tidak ada yang percuma, pasti pak ustad akan berkata seperti itu. Menurut saya guru saya ini hebat loh, ia tahu apa yang tersirat dan yang tersurat, mungkin ia juga tahu apa yang saya pikirkan dan saya rasakan, maka dari itu tadi saya berusaha berfikir pak ustad bakal ngomong apa setelah mendengar perkataan percuma, karena kata pak ustad, jiwa kami telah terhubung maka kami bisa saling mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan, rasa-rasany saya dan pak ustad memiliki ikatan emosional dan spritual, entah apa dikarenakan ia begitu mempedulikan saya atau karena saya yang begitu mengaguminya. Apapun alasannya, alasan itu membuat pak ustad selalu hadir dalam mimpi saya dan selalu memberi firasat pada saya. Dulu saya sering melamar orang dan mengalami penolakan tapi saya tidak pernah patah semangat karena Allah memberikan semangat yang luar biasa pada saya saya juga tetap percaya diri walau alasan mereka menolak saya terkadang dengan alasan yang begitu menyakitkan, tapi saya tetap berusaha karena pak ustad tiap malam selalu hadir pada mimpi saya dan mengatakan "Ia bukan jodohmu, jodohmu itu seseorang yang saya beritahu waktu itu." Ya, walaupun pesan itu selalu muncul setiap malam saya tetap tidak ingin mendengarkan pesan itu beranggapan bahwa saya tidak bermimpi tentang hal itu. Hal ini dikarenakan saya ingin menentang takdir dan ingin tahu apakah takdir bisa berubah jika kita selalu berusaha menempuh jalan yang berbeda dari takdir. Tapi ternyata takdir itu seperti sebuah benang merah yang diikatkan di kelingking seberapapun kita berlari dan membuat benang itu meregang ternyata di saat yang telah tiba kita tetap akan bertemu dengan orang yang terikat benang merah yang sama dengan kita padahal situasinya kita sedang menjauh. Sama halnya seperti kemarin dan malam ini sebenarnya kemarin dan malam ini saya telah merencanakan untuk pulang ke rumah, dan tidak berniat datang ke sini terlebih saya meletakan kartu nama pak direktur di laci meja kerja saya dan saya tidak membcanya sedikit pun dan tidak tahu jalan menuju ke sini. Tapi seperti yang dikatakan pak ustad takdir tidak bisa di rubah. Takdir itu sesuatu yang misteri, takdir itu adalah aturan dan ketentuan yang dibuat oleh Allah, terkadang campur tangannya sangat besar sebagai contoh, jika bukan jodoh maka entah mengapa ia mempersulit jalannya, dan jika jodoh ia mempermudah jalannya, seperti kemarin saya berusaha menentang takdir untuk datang ke sini dengan alasan tidak tahu alamatnya dan mengantuk, tapi karena memang sudah takdir Allah saya harus datang ke sini maka tiba-tiba saja saya bertemu dengan tuan rumah di jalan, karena adanya kejadian kecelakaan sehingga akhirnya saya yang sebenarnya berusaha mengantarkan mereka pulang ternyata justru Allah yang mengantarkan saya ke rumah ini melalui perantaranya. Dan malam ini yang awalnya saya juga malas untuk ke sini, tapi tiba-tiba saja handphone saya berbunyi dan mengingatkan bahwa sekarang tanggal lima. Andai hp saya tidak mengingatkan saya bahwa hari ini tanggal lima maka sudah pasti saat ini saya sedang tidur di rumah. Ya, jadi semua takdir ini sudah diatur oleh Allah dan semua yang terjadi hari ini itu juga berkat ribuan kejadian yang ada di sebelumnya, andai pada tanggal lima keluarga kami tidak pernah membuat kegiatan bikin makanan favorit mungkin saya juga tidak akan ke super market dan tidak akan bertemu dengan istri pak Direktur.
Nah, untuk urusan jodoh, memang “sepenuhnya” karena keputusan Allah.
Biasanya, untuk kasus jodoh ini, campur tangan Allah dirasakan sangat
besar. Karena, kadang, sebesar apa pun usaha yang kita lakukan, kalau
memang orang yang kita incar tidak suka, kita tidak bisa berbuat
apa-apa. Karena, urusan hati ini, hanya Allah saja yang bisa
membolak-balikkannya, tentu saja dengan cara-Nya yang terkadang tidak
bisa kita mengerti.
Intinya, campur tangan Allah di dunia ini, “diwakili” oleh ketentuan
yang sudah Dia gariskan. Tidak turun tangan langsung seperti mengatur
bidak-bidak catur. Dalam kehidupan kita, kita tidak bisa lepas dari
aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun jalan kita, kita
terikat oleh ketentuan tersebut. Namun, kita pun dibekali akal untuk
memahami aturan-aturan tersebut, sehingga ketika kita memutuskan untuk
melakukan sesuatu, kita tidak bertindak bodoh dan celaka karena
melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan tapi sayangnya yang saya lakukan malah selalu berusaha untuk bertindak sesuai ketentuan tapi karena Allah Maha Kuasa ketentuan apa yang akan saya ambil tapi pasti ketentuan itu adalah ketentuan yang sudah Allah buat sejak dulu di laufudz mahfudz. Namun, terkadang,
dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan “menyentil”
kehidupan kita dengan caranya yang tidak bisa kita pahami mungkin seperti pertemuan yang tidak disengaja dan tidak terduga ini.
Dan karena percaya pada takdir termasuk rukun iman. Maka kita wajib mempercayai takdir ini, dan berusaha menghindarinya serta tidak menerima atau menghadapinya adalah hal yang salah, dan selama ini saya salah karena saya berusaha mengindari takdir bahkan berusaha keras agar takdir itu tidak terjadi, tapi yang namanya takdir itu adalah ketetapan Allah, seberapa besar usaha saya melawan takdir agar takdir itu tidak terjadi maka di hari yang telah ditentukan tetap saja takdir itu akan terjadi, dan andaikan takdir saya adalah Bougenville seberapa besar usaha saya dan Bougenville menolak takdir dan perjodohan ini jika ini memang takdir pasti akan terjadi. Dan yang salah adalah yang menolak takdir itu.
Sewaktu malam setelah saya sholat istikhara, lagi-lagi guru saya hadir tapi ia tidak memberi tahu siapa jodoh saya seperti saat pertama kali saya sholat istikhara dan saat pertama kali ia hadir di mimpi saya, ia juga tidak mengatakan dia bukan jodoh saya, dan saya akan bertemu jodoh saya nanti jadi usaha yang dilakukan saat ini adalah sia-sia. Tidak ia tidak berkata seperti itu, ia justru berkata "Kehadiran saya setiap kamu sholat istikhara adalah berkat Allah yang mengizinkan saya untuk datang." Lalu saya pun bertanya "Apakah saat ini guru sedang dzikir di rumah guru, walau jiwa guru ada di alam mimpi saya?"
Dan guru mengangguk "Ya, Allah mengizinkan saya untuk hadir, karena saya sangat menyayangimu, dan saya ingin kamu memilih jalan yang benar yakni jalan yang sudah tergariskan oleh Allah, maka dari itu saya selalu memohon pada Allah dengan dzikir, sholat malam dan puasa. Dan Alhamdulillah diizinkan. Dan malam ini saya tidak akan menunjukan siapa jodoh kamu seperti saat pertama kali kita bertemu di alam mimpi, saya juga tidak akan memberi tahu bahwa ia bukan jodoh kamu dan saat ini kamu hanya buang-buang waktu. Malam ini saya hanya ingin mengatakan bahwa kamu sudah memiliki firasat ini bahkan dari pertama kali kita bertemu di alam mimpi."
Dan aku pun menjawab "Bagaimana kita bisa tahu itu adalah firasat atau bukan?" Dan pak Ustad menjawab "Kamu harus cek ke dalam sini." ia meletakkan jari di dadanya, lalu melanjutkan perkataannya yang belum selesai "Dan cek ke
luar. Pesan yang sama biasanya datang berulang. Lewat suara hati,atau
gejala alam. Dan biarpun pikiran kamu ingin menyangkal, seluruh sel
tubuh kamu seperti sudah tahu." Karena aku masih bingung aku pun bertanya kembali "Lalu, Kalau saya tidak suka dengan yg dikatakan firasat saya,lantas apa?" Dang sang ustad hanya menjawab "Kamu hanya perlu menerima. Ketika belum terjadi, terima firasatnya.
Ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. Menolak,menyangkal,cuma bikin
kamu lelah."
Saat pagi sampai di supermarket saya masih menyangkal, saya masih menolak dan saya masih belum ingin menerima takdir jodoh ini karena saya merasa lelah. Tapi setelah bertemu dengan istrinya pak Direktur saya amat sangat terkejut luar biasa. Dan akhirnya saya sadar saya lelah karena saya menolak dan menyangkal semua ini. Dan saya salah karena berusaha menolak takdir. Jadi, jika jodoh saya adalah Bougenville maka saya akan menerima pernikahan ini. Ya, kalau jodoh semuanya akan menjadi lancar dan jika bukan jodoh semuanya akan menjadi sulit."
Pak direktur mengangguk "Lalu kau sendiri nak bagaimana keputusanmu, kami semua di sini setujuluh sesuai dengan retorika yang kami ucapkan tadi, sekarang giliran kamu mengungkapkan apa yang kau pikirkan dan kau rasakan. "
Bougenville tersenyum "Sebenarnya pertanyaan yang saya ungkapkan tadi hanya untuk mendapatkan penguatan, dan penegasan. Sesuai dengan do`a ibu dari saya masih kecil sampai sekarang yang mengatakan semoga saya menjadi anak yang sholehah. Karena saya akan berusaha menjadi anak yang sholehah maka saya akan taat
kepada Allah dan Rasulnya serta akan menjadikan suami saya orang yang
paling tinggi bertahta di hati saya, serta ia akan menjadi satu-satunya yang menduduki
singgasana hati saya, dan karena rasa cinta itu datang karena terbiasa, maka saya akan membiasakan diri dahulu. Dan sesuai perkataan Dandelion setelah menikah kita pasti akan
menemukan cinta pada pasangan kita bukan pada orang lain.
Dan karena ibu selalu mendoakan saya agar saya menjadi anak yang berbakti pada orang tua, maka saya akan menuruti perintah ibu dan Bapak, saya dengar dan saya taat. Serta karena ibu selalu mendoakan saya menjadi anak yang cerdas, dan jenius. Maka saya akan berusaha menjadi anak yang cerdas serta jenius dalam menentukan pilihan terutama menentukan pilihan pernikahan ini, dan karena ibu mendoakan saya menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa serta agamanya dan sukses dalam cita-citanya maka mungkin setelah saya menikah dengannya saya bisa menjadi seorang wanita yang berguna bagi nusa, bangsa dan agamanya dan berhasil dengan cita-citanya. Serta karena ibu mendoakan agar saya menikah dengan pria yang sholeh, sayang pada mertua dan sayang serta cinta pada saya, serta dermawan, rupawan dan setia serta tanggung jawab maka saya yakin dialah orangnya."
Ferdy mengusap keringatnya lalu berkata "Bagaimana jika saya bukan orang yang sholeh karena dulu saya pernah menyuruh ajudan saya untuk membunuh jodoh saya, lalu bagaimana jika saya tidak sayang pada mertua dan istri, bukan orang dermawan juga bukan rupawan serta bukan orang yang setia dan tanggung jawab?"
Sang guru berdeham "Maka, kamu bukanlah jodohnya." Ferdy mengusap keningnya yang berkeringat "Jadi, jika aku bukan jodohnya bagaimana? Apakah itu artinya aku tidak akan menikah dengannya dan itu artinya Allah tidak menakdirkan kami untuk menikah?" Pak Ustad mengangguk. Ferdy mengelap keringatnya, kenapa keringatnya begitu banyak? Mungkin ia sedang makan yang pedas-pedas atau mungkin ia merasakan sesuatu di hatinya dan expresi wajah serta gerakan non verbalnya mengungkapkan semuanya."
Sang direktur akhirnya berkata "Begini ya Ferdy, kesholehan, sayang pada orang tua dan istri, dermawan, setia serta tanggung jawab adalah sikap yang membutuhkan proses, ibaratnya tuh semua sikap ini adalah sebuah biji, dan kau harus selalu menanamkannya di hati kamu dan menumbuhkannya melalui prilaku kamu, dan kau tidak akan tahu apakah kau sholeh, dermawan, setia, tanggung jawab serta penuh rasa kasih sayang jika kau belum mencobanya maka dari itu kau harus mencobanya."
Ferdy pun mengangguk dan mereka pun menikah bersamaan dengan Dandelion. Tapi sepertinya Dandelion dan Lazuardi menikah karena sebelumnya mereka saling mencintai, sedangkan Bougenville dan Ferdy menikah dahulu baru jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar