Kamis, 30 Mei 2013

Sang Penakluk

oleh: Manar Imam Muhammadi

Perang badar namanya...
Peperangan itu baru saja usai,  peperangan yang tidak hanya membuat luka dibadan tapi juga luka dihati...
Belum sembuh luka dibadan....belum berhenti darah yang mengalir...belum reda perih diluka...bahkan keringat belum juga kering
Dia ...ya...... Dia sang komandan sang teladan pemimpin dalam hati dan raga itu mengatakan sesuatu yang menyentak
Yang membuat terbelalak mata kami yang lelah dan membuat terdiam mulut yang mengeluh,,...
“apa ini” semua orang kebingungn setelah dia mengatakan
 Bahwa “ kita telah memenangkan perang yang besar!!, namun sebentar lagi kita akan menghadapi perang yang lebih dhsyat lagi” ujarnya
“apalagi ini” tidak cukupkah perang yang kita lakukan tadi, tidak besarkah”???, pikir kami
Ya wajar sekali jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari pikiran dan mulut kami waktu itu.
Coba tengok saja, kami menghadapi pasukan yang lebih ungggul dalam jumlah, lebih lengkap dalam persenjataan., lebih berpengalaman dan lebih kuat dalam segala hal dari kami....namun bukan itu saja yang menjadi perih perang ini...yang lebih membuat luka adalah peperangan ini dilakukan oleh kami yang disatukan dalam kekeluargaan dan kesukuan, namun dipisahkan oleh akidah yang tertanam. karna itu  diantara kami seorang anak bisa menjadi lawan bagi ayahnya, seorang istri bisa menjadi lawan bagi suaminya, seorang kakek bisa menjadi lawan bagi cucunya, dan paman bisa menjadi lawan bagi ponakanya...itulah yang membuat perang ini menyakitkan, betapa tiak coba engkau bayangkan kau menebas batang leher keluargamu atau kearbatmu sendiri, yang selam ini hidup saling mnyayangi.
Ya biar bagaimanapun juga, sekuat apapun iman seseorang pasti tertekan juga jika harus berhadapan dengan keluarga sendiri, karena itulah betapa berat peperangan ini.
Namun  yang lebih mengherankan adalah perkataan dari lisan mulia itu, perang seperti apalagi?? Musuh yang bagaimana lagi?? dan keadaan yang apa lagi yang lebih menyulikan dari pada ini?
Dengan tenang sang pelita itu menjawab, sepertinya beliau paham akan kebingngungngan kami  sahabat-sahabatnya itu , karena itu tanpa buang waktu beliau mengatakan, perang yang lebih besar adalah “perang melwan diri sendiri”

Itulah jawaban Nabi...jauh sebelum para ilmuan psikologi dan ahli filsafat barat yang katany tersohor dengan teori-teori psikologisnya itu, hanya baru sekarang mampu mengungkap  rahasia dari kebaikan dan keburukkan yang ada pada diri manusia, mereka baru mampu sekarang menjelaskan bahwa orang-orang sukses dan bahagia disegala aspek kehidupan dalah orang yang mampu melawan potensi negatif yang ada pada diirinya, sekali lagi baru sekarang-sekarang ini, sehingga begitu banyak sekarang orang-orang, lembaga-lembaga motivasi baik yang bercorak keagamaan maupun umum.
Padahal sang Nabi kita, pelita ditengah kegelapan itu sejak seribu limaratus tahun yang lalu diawal pergerakanya sudah mewanti-wanti kita bahwa lawan terberat dalah dalam diri sendiri, karena benarlah ternyata kesuksesan kebahagiaan itu berwal dari mampunya kita mengalahkan kecendrungan jelek dalam diri kita.
cobalah tengok orang-orang disekeliling kita yang menjadi pengusaha sukses, guru yang berhasil, ilmuan terkenal, apapun jenisnya, kuncinya ialah kita bisa melawan potensi negatif yang ada dalam diri sendiri.
Cobalah kau bayangkan jika seorang ilmuan kalah oleh rasa malasnya dan enggan untuk melakukan penelitian, apakah dia dapat menjadi ilmuan yang hebat,,..
Cobalah bayangkan jika seorang pelajar dikalahkan oleh rasa malasnya dan enggan untuk belajar , apakan ia akan menjadi pandai..
Cobalah pikirkan seandainya seorang pemimpin dikalahkan oleh rasa egoisnya dan memanfaatkan jabatan untuk kepetinganya sendiri, apakah ia akan berhasil menjadi pemimpin yang baik?
Karena itu jugalah jika kita perhatikan dalam film-film pahlawan , kita akan satu atau dua kali melihat sang tokoh utama menghadapi musuh terberatnya, bukan dari luar tapi berasal dari dalam dirinya sendiri, sisi gelap itulah yang harus kita lawan.
Sekarang jika engkau pelajar, sadar dan bangunlah tidak ada orang yang bisa membantu dirimu belajar kecuali kau bertekad mengalahkan malasmu..
Jika engkau seorang pemimpin, lihatlah sekelilingmu keegoisan yang tidak kau taklukan itu membuat banyak orang sengsara,...
jika engkau pengajarr sadarlah jika kau taidak mengalahkan rasa malasmu itu untuk menemukan cara-cara baru untuk mengajar, cepat atau lambat murid2mu akan jemu dan menolakmu...
dan engkau yang sekarang masih bergelut dengan ketidakpuasan, tetapi masih memelihara kemalasan, bangkitlah, atau kau mati selama kau hidup...
Bangkilah ...dunia sedang menunggumu...dunia bukan hanya sebuah ruangan kelas tempat engkau bekerja,sekolah atau kuliah...dunia lebih dari itu..
Memang benar buku adalah jendela dunia, namun apakah kau puas melihat dunia hanya melalui jendela saja??? Tembuslah rasa ragumu itu...mari kita sama-sama melangkah melihat dunia dengan merasakan sendiri harunya bunga bukan katanya, melihat indahnya alam dengan mata sendiri, bukan lewat  puisi indah yang kau baca,,,dan merasakan langsung bagaimana bertemu dengan orang2 dan lingkungan yang sering kau baca lewat bukumu itu...
Sebelum waktumu yang luang itu menyempit...sebelum kemudaanmu itu menua...sebelum kesehatanmu itu menurun,,..... dan selama engkau masih hidup..jelajahilah mimpimu dengan kakimu sendiri....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar