oleh: Manar Imam Muhammadi
Perang badar namanya...
Peperangan itu baru saja usai, peperangan yang tidak hanya membuat luka dibadan
tapi juga luka dihati...
Belum sembuh luka dibadan....belum berhenti
darah yang mengalir...belum reda perih diluka...bahkan keringat belum juga
kering
Dia ...ya...... Dia sang komandan sang teladan
pemimpin dalam hati dan raga itu mengatakan sesuatu yang menyentak
Yang membuat terbelalak mata kami yang lelah
dan membuat terdiam mulut yang mengeluh,,...
“apa ini” semua orang kebingungn setelah dia
mengatakan
Bahwa “
kita telah memenangkan perang yang besar!!, namun sebentar lagi kita akan
menghadapi perang yang lebih dhsyat lagi” ujarnya
“apalagi ini” tidak cukupkah perang yang kita
lakukan tadi, tidak besarkah”???, pikir kami
Ya wajar sekali jika pertanyaan-pertanyaan itu
muncul dari pikiran dan mulut kami waktu itu.
Coba tengok saja, kami menghadapi pasukan yang
lebih ungggul dalam jumlah, lebih lengkap dalam persenjataan., lebih
berpengalaman dan lebih kuat dalam segala hal dari kami....namun bukan itu saja
yang menjadi perih perang ini...yang lebih membuat luka adalah peperangan ini
dilakukan oleh kami yang disatukan dalam kekeluargaan dan kesukuan, namun
dipisahkan oleh akidah yang tertanam. karna itu diantara kami seorang anak bisa menjadi lawan
bagi ayahnya, seorang istri bisa menjadi lawan bagi suaminya, seorang kakek
bisa menjadi lawan bagi cucunya, dan paman bisa menjadi lawan bagi ponakanya...itulah
yang membuat perang ini menyakitkan, betapa tiak coba engkau bayangkan kau
menebas batang leher keluargamu atau kearbatmu sendiri, yang selam ini hidup
saling mnyayangi.
Ya biar bagaimanapun juga, sekuat apapun iman
seseorang pasti tertekan juga jika harus berhadapan dengan keluarga sendiri,
karena itulah betapa berat peperangan ini.
Namun
yang lebih mengherankan adalah perkataan dari lisan mulia itu, perang
seperti apalagi?? Musuh yang bagaimana lagi?? dan keadaan yang apa lagi yang
lebih menyulikan dari pada ini?
Dengan tenang sang pelita itu menjawab, sepertinya
beliau paham akan kebingngungngan kami sahabat-sahabatnya itu , karena itu tanpa
buang waktu beliau mengatakan, perang yang lebih besar adalah “perang melwan
diri sendiri”
Itulah jawaban Nabi...jauh sebelum para ilmuan
psikologi dan ahli filsafat barat yang katany tersohor dengan teori-teori
psikologisnya itu, hanya baru sekarang mampu mengungkap rahasia dari kebaikan dan keburukkan yang ada
pada diri manusia, mereka baru mampu sekarang menjelaskan bahwa orang-orang
sukses dan bahagia disegala aspek kehidupan dalah orang yang mampu melawan
potensi negatif yang ada pada diirinya, sekali lagi baru sekarang-sekarang ini,
sehingga begitu banyak sekarang orang-orang, lembaga-lembaga motivasi baik yang
bercorak keagamaan maupun umum.
Padahal sang Nabi kita, pelita ditengah kegelapan
itu sejak seribu limaratus tahun yang lalu diawal pergerakanya sudah
mewanti-wanti kita bahwa lawan terberat dalah dalam diri sendiri, karena
benarlah ternyata kesuksesan kebahagiaan itu berwal dari mampunya kita
mengalahkan kecendrungan jelek dalam diri kita.
cobalah tengok orang-orang disekeliling kita
yang menjadi pengusaha sukses, guru yang berhasil, ilmuan terkenal, apapun
jenisnya, kuncinya ialah kita bisa melawan potensi negatif yang ada dalam diri
sendiri.
Cobalah kau bayangkan jika seorang ilmuan
kalah oleh rasa malasnya dan enggan untuk melakukan penelitian, apakah dia
dapat menjadi ilmuan yang hebat,,..
Cobalah bayangkan jika seorang pelajar
dikalahkan oleh rasa malasnya dan enggan untuk belajar , apakan ia akan menjadi
pandai..
Cobalah pikirkan seandainya seorang pemimpin
dikalahkan oleh rasa egoisnya dan memanfaatkan jabatan untuk kepetinganya
sendiri, apakah ia akan berhasil menjadi pemimpin yang baik?
Karena itu jugalah jika kita perhatikan dalam
film-film pahlawan , kita akan satu atau dua kali melihat sang tokoh utama
menghadapi musuh terberatnya, bukan dari luar tapi berasal dari dalam dirinya
sendiri, sisi gelap itulah yang harus kita lawan.
Sekarang jika engkau pelajar, sadar dan
bangunlah tidak ada orang yang bisa membantu dirimu belajar kecuali kau
bertekad mengalahkan malasmu..
Jika engkau seorang pemimpin, lihatlah
sekelilingmu keegoisan yang tidak kau taklukan itu membuat banyak orang
sengsara,...
jika engkau pengajarr sadarlah jika kau taidak
mengalahkan rasa malasmu itu untuk menemukan cara-cara baru untuk mengajar,
cepat atau lambat murid2mu akan jemu dan menolakmu...
dan engkau yang sekarang masih bergelut dengan
ketidakpuasan, tetapi masih memelihara kemalasan, bangkitlah, atau kau mati selama
kau hidup...
Bangkilah ...dunia sedang menunggumu...dunia bukan
hanya sebuah ruangan kelas tempat engkau bekerja,sekolah atau kuliah...dunia
lebih dari itu..
Memang benar buku adalah jendela dunia, namun
apakah kau puas melihat dunia hanya melalui jendela saja??? Tembuslah rasa
ragumu itu...mari kita sama-sama melangkah melihat dunia dengan merasakan
sendiri harunya bunga bukan katanya, melihat indahnya alam dengan mata sendiri,
bukan lewat puisi indah yang kau baca,,,dan
merasakan langsung bagaimana bertemu dengan orang2 dan lingkungan yang sering
kau baca lewat bukumu itu...
Sebelum waktumu yang luang itu menyempit...sebelum
kemudaanmu itu menua...sebelum kesehatanmu itu menurun,,..... dan selama engkau
masih hidup..jelajahilah mimpimu dengan kakimu sendiri....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar