Rabu, 22 Mei 2013

Akai Ito Part III

   Setelah menikah Ferdy melihat sebuah luka di pelipis Bougenville, kemarin ia tidak melihatnya karena tertutup kerudung karena ingin tahu ia pun bertanya "Pelipismu kenapa?" Bougenville meraba pelipisnya, bekas luka itu masih tergores di situ. Ia tersenyum "Hanya bekas luka kecil." Ferdy masih menatap luka itu "Sebabnya?" Bougenville menghela nafas "Karena ada seseorang yang melukaiku, saat itu umurku sepuluh tahu, padahal aku sedang hanyut dalam kisah novel yang ku baca."

  Ferdy pun menerka-nerka "Di mana kejadiannya." Bougenville menjawab "Di pasar, dekat kok dari sini, hanya kalau lewat jalan pintas kita bisa melalui lorong yang sangat kecil." Ferdy teringat kembali pada lorong itu, lalu ia bertanya kembali untuk memastikannya "Seperti apa orang yang melukaimu?" Bougenville pun mengingat-ingat "Dia sepertinya laki-laki berumur 35 tahun, berambut cepak, berwajah coklat kehitaman, bibir yang agak besar, hidung yang tidak terlalu mancung juga tidak terlalu besar, alis yang hitam tebal. Tatapan mata yang menatapku sungguh lekat-lekat. Expresi wajah tak terdefenisikan."

  Ferdy menggangguk lalu berkata "Apa yang kau rasakan saat itu? Takut?" Bougenville menggeleng "Jika, aku mati di tempat itu mungkin sudah takdir dan aku tidak akan bersedih hanya saja aku akan menyesal bahwa aku belum membaca banyak kisah dalam novel yang amat sangat menarik ini." Ferdy mengangguk "Kau sangat suka membaca?"

   Bougenville tersenyum mengangguk "Ya, sangat suka sekali, bahkan selembar kertas bekas bungkus cabe pun akan ku baca." Ferdy teringat mimpinya, ia pun melangkah ke jendela dan menatap sungai yang jernih di bawah rumahnya. Ia pun bertanya sembari menahan getara suaranya "Sedang apa kau di pasar? Apa kau sedang membeli mainan bersama ibumu?"

  Bougenville menggeleng "Tidak, kami di sana karena tempat kami di sana, karena kami adalah seorang pengemis. Haa,,,menyedihkan bukan. Kau tak perlu mengeluarkan air mata seperti itu." Ferdy tersenyum "Aku tidak apa-apa." Tapi walau begitu hatinya terus bergetar dan air mata ini terus keluar karena mengingat dosanya, karena tidak kuat menahan gejolak di dadanya ia berkata "Jika kau marah maka marahlah tapi tolong maafkan aku karena sebenarnya yang melukaimu adalah ajudanku atas perintahku ia sebenarnya ditugaskan bukan hanya sekedar untuk melukaimu tapi membunuhmu. Hanya karena aku tidak ingin takdir ini terjadi, oh sungguh jahatnya aku. Sebenarnya aku sudah tahu suatu saat kita akan menikah tapi aku justru melakukan ribuan hal agar pernikahan ini tidak terjadi, termasuk menjadi jahat. Tampaknya aku sama sekali bukan orang baik dan sholeh, kau telah salah menikah denganku dan Allah mungkin salah menakdirkan kita bersama. Kecuali jika kita berdua memang buruk karena laki-laki yang keji tentulah untuk wanita yang keji.

Pesan Moral : Takdir sudah ditetapkan, jadi kita jangan halangi apa yang akan terjadi, karena walau berusaha untuk menghalangi takdir toh pada akhirnya takdir tetap akan terjadi. Jadi, dihalangi atau tidak dihalangi takdir akan tetap terjadi. Seperti Fir`aun yang membunuh setiap bayi laki-laki toh pada akhirnya Nabi Musa akan tetap hidup dan menghancurkan Fir`aun. Seperti saudara nabi Yusuf yang meghalangi takdir, toh pada akhirnya mereka akan tetap bertekuk lutut kepada nabi Yusuf sesuai mimpi nabi Yusuf, walau mereka telah berusaha mencelakakan nabi Yusuf dengan membuangnya ke sumur. Dan terkadang suatu hal mungkin terlihat begitu kebetulan dan mengada-ada tapi ketahuilah kawan bahwa tidak ada hal yang kebetulan melainkan hal ini adalah takdir yang telah dibuat oleh Allah.

Jadi, intinya ketika anda berada di titik nol, ketika anda dirundung kesulitan, ketika anda berada pada puncak kegagalan ketika kesialan mengikuti jejak anda maka tersenyumlah pada semua hal buruk itu, dan yakinlah Allah sedang bercanda pada kalian karena dibalik kesulitan ada kemudahan dibalik kegagalan ada kesuksesan dibalik kesialan ada keberuntungan. Semua hal berpasang-pasangan walau tidak berjalan berdampingan dalam satu waktu. Maka terimalah semua hal buruk ini dengan hati yang ikhlas dan  sabar maka kau akan beruntung dan tetaplah tersenyum ketika merasakan pahit, manis , asam, asin, pedas, karena setidaknya hal ini membuktikan bahwa kalian masih memiliki rasa di hati. Dan ini membuktikan bahwa hati kalian bukanlah hati yang telah membeku lagi mengeras.

So, ayo kita tersenyum walau bintang masih belum menunjukan cahaya kemilaunya. Walau Jami menceritakan bahwa ketampanan nabi Yusuf seperti cahaya bintang yang begitu terang bahkan membuat Zulaikha hampir gila walau baru melihat ketampanannya di alam mimpi saat Zulaikha masih kecil bahkan sampai Zulaikha menjadi tua, buta, jelek, dan berambut putih (Cinta yang setia) Dan tetap tersenyum walau kita belum pernah melihat ketampanan nabi Yusuf tapi setelah dipikir-pikir, rasa-rasanya perkataan Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami bahwa nabi Yusuf itu begitu bercahaya dan terangnya bagaikan bintang yang paling terang. Dan yang tidak masuk akal adalah jika terangnya seterang bintang yang paling terang bukankah seharusnya Zulaikha tidak bisa melihatnya karena silau tapi kenapa Zulaikha bisa melihatnya, serta  terpesona, jatuh cinta dan hampir gila dibuatnya? Tapi ya sudahlah inikan hanya metafora dalam sebuah novel bukan dalam arti sebenarnya.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar